Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan pernyataannya dalam sesi pleno Pertemuan ke-59 Menlu se-ASEAN (AMM) di Manila, Filipina, Selasa (21/7/2026).(Dok. Kemenlu RI)
MENTERI Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya penguatan kemitraan strategis antara ASEAN dan Kanada untuk menghadapi ketidakpastian global yang kian meningkat. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan ASEAN-Kanada Post Ministerial Conference (PMC) yang berlangsung di Manila, Filipina.
Menlu Sugiono menyatakan bahwa kolaborasi kedua pihak harus memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan kawasan yang tangguh, sejahtera, dan damai. "Kemitraan ASEAN dan Kanada harus menjadi bagian dari solusi untuk membangun kawasan yang lebih tangguh, sejahtera, dan damai," tegasnya.
Akselerasi Ekonomi dan ACAFTA
Di sektor ekonomi, Indonesia mendorong penyelesaian perundingan ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) pada tahun ini. Perjanjian perdagangan bebas ini diproyeksikan menjadi kunci untuk:
- Memperluas akses pasar di kawasan Amerika Utara.
- Memperkuat rantai pasok global.
- Mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ketahanan Pangan dan Energi
Indonesia menyoroti peran strategis Kanada sebagai produsen dan eksportir potash terbesar di dunia. Komoditas ini sangat krusial bagi pasokan pupuk guna meningkatkan produktivitas pertanian di Asia Tenggara. Dalam kaitan ini, Indonesia mendorong optimalisasi Indo-Pacific Agriculture and Agri-Food Office (IPAAO) yang telah dibentuk Kanada di kawasan.
Terkait ketahanan energi, Sugiono mengapresiasi rencana penyelenggaraan Inaugural ASEAN-Canada Strategic Dialogue bertema keamanan energi yang dijadwalkan pada Juni 2026. Forum ini diharapkan menjadi fondasi pendalaman kerja sama sektor energi di masa depan.
| Ekonomi | Penyelesaian ACAFTA 2024, akses pasar UMKM. |
| Pangan | Pasokan pupuk (potash), optimalisasi IPAAO. |
| Energi | Strategic Dialogue Keamanan Energi (Juni 2026). |
| Keamanan | Agenda Youth, Peace, and Security melalui AIPR. |
Stabilitas Politik dan Multilateralisme
Dalam aspek politik, Indonesia mengajak Kanada memperkuat agenda Youth, Peace, and Security melalui ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR). Menlu Sugiono juga mengingatkan pentingnya pendekatan multilateral sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan antarnegara dan mencari solusi damai atas konflik global, termasuk isu Palestina.
Hubungan ASEAN dan Kanada yang telah terjalin sejak 1977 akan memasuki usia emas 50 tahun pada 2027. Sebagai peta jalan ke depan, kedua pihak telah mengadopsi ASEAN-Canada Plan of Action 2026-2030 yang mencakup kolaborasi lintas sektor untuk mempererat kemitraan strategis. (Fer/I-1)

















































