Menhan AS Pete Hegseth merespons pertanyaan terkait kemampuan militer AS menyerang situs nuklir bawah tanah Iran, Gunung Pickaxe. Kian memanas usai ancaman Trump.(Viory)
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan tanggapan diplomatis saat ditanya mengenai kemampuan militer AS untuk menghantam fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Gunung Pickaxe (Pickaxe Mountain). Isu ini menyita perhatian publik seiring beredarnya laporan bahwa Iran telah memindahkan mesin sentrifugal dan uranium ke kompleks tersebut.
"Banyak dari kemampuan kami yang diklasifikasikan," ujar Hegseth saat ditanya dalam persidangan di Capitol Hill mengenai apakah AS mampu menembus kompleks yang tertanam sangat dalam di bawah tanah tersebut.
"Namun jika ada pihak mana pun di dunia yang bisa menjangkau apa saja... itu adalah militer Serikat," tegas Hegseth.
Situs Gunung Pickaxe berlokasi di dekat fasilitas nuklir Natanz, wilayah pedalaman Iran yang berbukit. Para analis dan lembaga intelijen percaya bahwa kompleks tersebut berada jauh lebih dalam di bawah tanah dibandingkan fasilitas yang pernah dihantam AS dalam Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025 lalu.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Donald Trump gencar menyoroti Gunung Pickaxe sebagai potensi target pemboman.
"Kami akan menghantam area itu dalam waktu dekat, dan sangat menghantamnya," ujar Trump pada Selasa.
Menurut sumber dari Israel yang memahami masalah tersebut, intelijen Israel meyakini Iran telah memindahkan sebagian cadangan uranium yang diperkaya serta sentrifugal pengayaan canggih ke Gunung Pickaxe. Menemukan dan memusnahkan sekitar 1.000 pon uranium yang sangat diperkaya milik Iran tetap menjadi salah satu tujuan utama AS dan Israel.
Namun, Trump seolah menepis laporan dari Israel tersebut. Saat ditanya apakah Iran telah memindahkan mesin sentrifugal ke lokasi itu, Trump menjawab, "kami tidak mengantongi catatannya."
Pakar non-proliferasi Andrea Stricker menilai Trump harus bertindak untuk melumpuhkan Gunung Pickaxe guna mencegah Iran menyelesaikan pembangunan situs tersebut, membangun kembali opsi pengayaan atau senjata nuklir, serta mengakses ribuan sentrifugal yang tersisa.
Di sisi lain, sejumlah pakar meragukan efektivitas serangan militer AS terhadap situs bawah tanah yang sangat dalam tersebut.
James Acton, ko-pemimpin kerja kebijakan nuklir di Carnegie Endowment, mengutarakan keraguannya melalui unggahan di platform X. Ia meragukan AS dapat melakukan hal yang lebih dari sekadar meruntuhkan terowongan akses ke fasilitas Gunung Pickaxe.
"Itu bukanlah sebuah pengubah keadaan (game changer)," pungkas Acton. (CNN/Z-2)

















































