Jakarta, CNN Indonesia --
Perluasan Masjidil Haram oleh Kerajaan Arab Saudi terus digenjot. Tahun lalu, putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) meluncurkan proyek King Salman Gate.
Ini adalah proyek pembangunan kawasan serbaguna atau multi-use development di Mekkah.
Dalam laman kingsalmangate.com, disebutkan nantinya pembangunan akan mencakup hingga 12 juta meter persegi yang terletak di sebelah Masjidil Haram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini akan meningkatkan akses ke Masjidil Haram hingga meningkatkan kualitas layanan yang sejalan dengan tujuan Program Pengalaman Jemaah.
Proyek yang dikelola oleh RUA AlHaram AlMakki Company, sebuah perusahaan yang berada di bawah Public Investment Fund (PIF) ini, mendorong pengembangan kawasan perkotaan di sekitar Masjidil Haram, menjadikan Mekkah sebagai tolok ukur global dalam pengembangan real estat.
Para jemaah haji dan umrah akan dimanjakan dengan kawasan terpadu yang menawarkan berbagai fasilitas, seperti 50.000 unit hunian, perhotelan bintang 4 hingga bintang 5 plus, area komersial dengan lebih dari 200.000 juta persegi ruang ritel, serta ruang salat di dalam dan luar ruangan berkapasitas sekitar 900.000.
Tak hanya itu, para penghuni akan memiliki akses ke fasilitas parkir khusus dengan kapasitas sekitar 30.000 mobil.
Semua area parkir akan dikelola oleh tim operasional khusus yang akan melayani kebutuhan penghuni, tamu, dan pengunjung.
Proyek King Salman Gate disebut bakal terintegrasi dengan transportasi umum sehingga memudahkan akses pengunjung di sana. Ditambah lagi, proyek ini juga akan memulihkan dan mengembangkan sekitar 19.000 meter persegi situs warisan, melestarikan warisan budaya dan sejarah Mekkah untuk memperkaya perjalanan setiap pengunjung.
Tak mau bergantung minyak
Pengembangan wisata religi lewat haji dan umrah Arab Saudi disebut-sebut upaya tak bergantung lagi pada minyak. Laman pariwisata salaamgateway menuliskan, pariwisata religi sebagai mesin pertumbuhan utama Arab Saudi dengan meluncurkan rencana Visi 2030 pada tahun 2016.
"Pariwisata diposisikan sebagai pilar utama diversifikasi ekonomi, dengan perjalanan religi dipandang sebagai aset kerajaan yang paling mudah dikembangkan dan dapat diandalkan. Hampir satu dekade kemudian, hasilnya melampaui tolok ukur awal," tulis laman tersebut.
Pada tahun 2024, lebih dari 18,5 juta jamaah mengunjungi kerajaan tersebut - 16,9 juta untuk Umrah dan 1,61 juta untuk Haji, menurut data yang dilaporkan oleh Skift dan Kementerian Haji dan Umrah. Tujuannya adalah untuk menyambut 30 juta jamaah Umrah setiap tahunnya pada tahun 2030.
Menurut Otoritas Umum Statistik (GASTAT) kerajaan, 1,67 juta jemaah melaksanakan ibadah haji pada tahun 2025 , dengan sebagian besar - 1,51 juta orang dari 171 negara - datang dari luar negeri.
Jika diuraikan lebih lanjut, pada tahun 2025, perjalanan udara mendominasi jumlah kedatangan (1,58 juta), sementara jalur darat dan laut bersama-sama menyumbang 8%.
Pembagian demografis antara pria dan wanita hampir seimbang, dengan masing-masing 878.000 dan 795.000 jiwa. Hanya 10% warga negara Saudi yang ikut haji, yang menunjukkan bahwa ibadah haji tahunan ini tetap, yang terpenting, merupakan pertemuan global.
Tidak heran Reuters menyebut proyek ini sebagai upaya negeri gurun pasir ini terlepas dari bergantung dari minyak bumi sebagai penghasilan utama.
(imf/dna)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
2






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)












