Changsha (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Beijing Yulian Wihantoro mempromosikan efisiensi transaksi keuangan lintas negara melalui kerangka transaksi mata uang lokal di China.
"Ketika perusahaan melakukan ekspansi internasional dan perusahaan China dikenal memiliki inisiatif untuk berekspansi secara global, ada satu faktor penting yang kadang terabaikan, yaitu efisiensi transaksi keuangan lintas negara," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Beijing Yulian Wihantoro di Changsha, Provinsi Huan, China, Selasa (10/3) waktu setempat.
Yulian menyampaikan hal itu dalam acara bertajuk "Indonesia – China Business Dialogue" yang diadakan oleh KBRI Beijing bekerja sama dengan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Beijing serta dihadiri sekitar 200 pengusaha China dan Indonesia.
"Sistem keuangan yang efisien membantu dunia usaha mengurangi biaya, mengelola risiko, serta meningkatkan efisiensi operasional. Di sinilah kerja sama keuangan antara Indonesia dan China menjadi sangat relevan dan penting," katanya.
Yulian menyampaikan bahwa BI dan Bank Sentral China pada Mei 2025 menandatangani Kerangka Kerja Sama Transaksi Bilateral dalam Mata Uang Lokal agar transaksi perdagangan dan investasi dapat diselesaikan secara langsung menggunakan rupiah dan renminbi (RMB).
Hal tersebut mengurangi ketergantungan pada mata uang pihak ketiga serta meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.
Bagi dunia usaha, kerja sama tersebut dapat menurunkan biaya transaksi, karena perusahaan tidak perlu menggunakan banyak mata uang, cukup rupiah atau renminbi saja.
Kerja sama itu juga bisa membantu mempercepat proses penyelesaian transaksi, terutama karena perbedaan zona waktu hanya satu jam, serta meningkatkan kemampuan pengelolaan risiko nilai tukar, khususnya dalam lingkungan ekonomi global yang tidak menentu.
"Hal ini memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus dalam memperluas bisnis, operasi, dan kemitraan," kata Yulian.
"Saat ini kerangka LCT (local currency transaction) terus berkembang dan jumlah perusahaan dan transaksi yang berpartisipasi meningkat secara signifikan. China kini menyumbang porsi besar transaksi LCT di luar negara-negara ASEAN," ia menjelaskan.
Indonesia dan China juga memperkuat konektivitas pembayaran digital lintas negara melalui sistem pembayaran berbasis QR (Quick Response) guna memudahkan wisatawan, konsumen, dan pelaku usaha melakukan pembayaran menggunakan aplikasi pembayaran domestik.
Dukungan layanan pembayaran digital tersebut menurut rencana dapat digunakan di aplikasi Alipay mulai Mei 2026.
Chen Hailei selaku Vice President CNGR Indonesia, produsen material baterai kendaraan listrik asal China yang beroperasi di Morowali, menyampaikan bahwa Indonesia sejak awal telah menjadi salah satu tujuan ekspansi luar negeri perusahaan.
"Indonesia sejak awal telah menjadi salah satu negara utama tujuan ekspansi luar negeri kami. Pada 2011, kami datang ke Jakarta, dan sejak saat itu kami memulai keseluruhan investasi kami di Indonesia," kata Chen.
Baca juga: KBRI Beijing undang swasta dari provinsi Hunan berbisnis di Indonesia
Vice President CNGR Indonesia Chen Hailei dalam acara "Indonesia – China Business Dialogue" di Changsha, provinsi Hunan pada Selasa (10/3/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)Baca juga: Xpeng kaji peluang pasarkan P7 versi setir kanan di Indonesia
Chen menyebut CNGR di Indonesia sudah menjadi basis usaha lengkap yang termasuk produk, perencanaan, dan tata letak industri.
Selain itu, CNGR telah mendaftarkan banyak perusahaan lain di Indonesia, menyediakan banyak teknologi, memberikan lapangan kerja serta memindahkan sebagian kapasitas dan produk tradisional CNGR ke Indonesia.
"Meski skala tim industri kami sekarang sangat besar, banyak hal itu sebenarnya dicapai hanya dalam waktu singkat, sekitar lima tahun," kata Chen.
"Produk yang kami hasilkan di Indonesia, seperti produk dalam rantai industri kami, termasuk bahan untuk baterai, material ternary, dan berbagai bentuk produk lain, semuanya diproduksi sesuai standar global," ia menambahkan.
Chen mengatakan bahwa Indonesia memiliki karakteristik bahan baku yang berbeda dengan China. Keanekaragaman dan kerumitan bahan baku dari Indonesia lebih tinggi dibandingkan karakter bahan baku asal China.
Tantangan lain adalah perusahaan harus mengembangkan secara mandiri proses industri baru yang disebut sebagai generasi kedua sebagai solusi untuk menyeimbangkan berbagai persoalan teknis dan proses industrialisasi.
Bila pengusaha dari China ingin berinvestasi di Indonesia, Chen mengatakan, maka setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan.
Pertama, menyelesaikan pekerjaan globalisasi secara menyeluruh. Kedua, investasi harus dipikirkan dari perspektif integrasi keseluruhan rantai industri.
Ketiga, perusahaan harus benar-benar mempersiapkan cara menghadapi persoalan lokal seperti berbagai persoalan sosial, biaya di masa depan, serta pengembangan bersama perusahaan dengan Indonesia.
"Berdasarkan perhitungan internal kami sendiri saat ini, belanja modal awal di Indonesia kira-kira sekitar 25-30 persen lebih tinggi dibandingkan di China. Itu untuk CAPEX (pengeluaran modal) tapi dari sisi OPEX (biaya operasional) jauh lebih rendah," ungkap Chen.
Chen mengemukakan, secara umum biaya investasi di Indonesia saat ini mungkin sedikit lebih mahal dibanding di China, tapi trennya terus menurun.
"Saya bisa memberi satu data kepada Anda karena sejak 2021 ketika kami mulai berinvestasi hingga 2025, perbandingan biaya investasi keseluruhan antara China dan Indonesia dalam proyek kami sebenarnya telah turun hampir 30 persen," jelas Chen.
Ia juga menekankan bahwa pengusaha China yang ingin berbisnis di Indonesia perlu memahami keseluruhan kondisi politik Indonesia, karena terdapat perbedaan yang cukup besar antara hukum di China dan di Indonesia.
"Struktur politik dan mekanisme regulasinya juga berbeda dari China. Di China pemerintah mungkin lebih menonjol sebagai pihak pengawasan, sedangkan di Indonesia fungsi pelayanan dan pengawasan berjalan lebih bersamaan," kata Chen.
Baca juga: KBRI Beijing ingin perbanyak mahasiswa Indonesia belajar STEM di Hunan
Baca juga: Guangxi ingin libatkan Indonesia dalam rantai pasok otomotif ASEAN
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486410/original/015853500_1769586166-Pesib_Kurzawa.jpg)





