Shanghai (ANTARA) - Pemerintah kota Shanghai mengaku masih membuka diri bagi Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari negara luar, termasuk Indonesia untuk masuk dan berbisnis di kota metropolitan tersebut.
"Shanghai selama ini terus menyediakan iklim yang menguntungkan bagi perkembangan usaha kecil dan menengah. Kami juga berharap semua jenis usaha kecil dan menengah di Shanghai dapat bertumbuh bersama Shanghai," kata Direktur Jenderal Komisi Perdagangan kota Shanghai Shen Weihua di Shanghai, Senin (13/4).
Shen Weihua mengatakan hal tersebut dalam temu media pemerintah kota Shanghai yang diadakan Dewan Negara China di Shanghai.
Shen menyebutkan Shanghai diketahui menjadi rumah bagi sekitar 68 ribu usaha kecil dan menengah asing hingga 2025.
Di antara usaha kecil dan menengah asing tersebut, 91 persen bergerak di bidang pertanian, dan 10 persen lainnya adalah sektor manufaktur meski Shen menyebut jika dilihat dari total keseluruhan, skala dan jumlah perusahaan di sektor manufaktur itu juga sangat besar.
"Usaha kecil dan menengah memilih Shanghai, memilih untuk menanamkan modal pada usaha baru di kota ini karena mempertimbangkan keunggulan Shanghai seperti akses transportasi yang maju, kemudahan pembiayaan, rantai industri yang lengkap, sektor jasa yang kuat, banyaknya tenaga kerja berpendidikan tinggi serta punya karakteristik lingkungan bisnis berstandar internasional," ungkap Shen.
Pemerintah kota Shanghai menurut Shen memberikan sistem pembinaan bagi UMKM yang unggul sehingga bahkan dapat berkembang menjadi perusahaan besar dan "go public". Kemudian ada juga dukungan pembiayaan bagi perusahaan.
"Sebagai contoh tahun lalu bank mengucurkan pinjaman 410 miliar RMB (sekitar Rp1,03 kuadriliun) bagi 10 ribu perusahaan, kami juga menurunkan suku bunga pinjaman perusahaan sehingga mengurangi beban biaya perusahaan," tambah Shen.
Di bidang layanan, Shen menyebut Shanghai membangun sistem layanan usaha kecil dan menengah di seluruh kota, membentuk mekanisme manajemen penyelesaian keluhan perusahaan sehingga permasalahan umum yang sering menjadi hambatan dan dikonsultasikan dan diselesaikan.
Direktur Jenderal Komisi Perdagangan kota Shanghai Shen Weihua (kedua dari kiri) dalam temu media pemerintah kota Shanghai yang diadakan Dewan Negara China di Shanghai pada Senin (13/4). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)"Kami juga memperlakukan semua jenis perusahaan secara setara, termasuk menggunakan kecerdasan buatan (AI) sehingga Shanghai akan terus mengoptimalkan iklim usaha bagi usaha kecil dan menengah, mempromosikan perkembangan usaha kecil dengan layanan berkualitas tinggi, serta menyambut terbuka berbagai jenis perusahaan dari seluruh dunia untuk datang berinvestasi dan membangun usaha di sini," kata Shen.
Integrasi rantai pasok UMKM
Sebelumnya pada 1 April 2026 lalu, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman di Beijing mengatakan ingin mengintegrasikan UMKM Indonesia ke rantai pasok di China.
"UMKM perlu didorong untuk masuk ke dalam ekosistem industri yang terstruktur melalui kemitraan strategis. Penguatan klaster berbasis sektor dan integrasi ke dalam jaringan produksi regional akan meningkatkan skala usaha, efisiensi, serta daya saing berkelanjutan UMKM," kata Maman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap PDB. UMKM juga menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.
Sedangkan berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, pada akhir 2024, total UKM di China telah melampaui 60 juta dengan pendapatan mencapai 81 triliun yuan (sekitar 11,2 triliun dolar AS) dengan 600.000 UKM fokus pada inovasi teknologi.
Dari jumlah 600.000 UKM dengan fokus inovasi teknologi, tersebut, terdapat 14.600 perusahaan UKM "raksasa kecil" yang berspesialisasi dalam sektor khusus, menguasai pangsa pasar dan memiliki kapasitas inovasi yang kuat.
Shanghai secara administratif berstatus kota madya yang berada langsung di bawah pemerintahan pusat China. Shanghai pun telah lama dikenal sebagai kota metropolitan internasional yang modern.
Pada 2025, PDB kota ini mencapai 5,67 triliun RMB (sekitar Rp14,19 kuadriliun)sedangkan total nilai transaksi pasar keuangan mencapai 4.059 triliun RMB (sekitar Rp10,16 kuadriliun). Total nilai perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) kota ini mencapai 4,51 triliun RMB (sekitar Rp11,29 kuadriliun).
Pelabuhan Shanghai mempertahankan posisinya sebagai pelabuhan peti kemas terbesar di dunia selama 16 tahun berturut-turut, dengan menangani lebih dari 55,063 juta TEUs pada 2025. Belanja penelitian dan pengembangan (litbang) sebagai bagian dari PDB Shanghai mencapai sekitar 4,5 persen, dengan 636 pusat litbang asing.
Baca juga: Menteri UMKM minta China perluas akses pasar produk Indonesia
Baca juga: Pemerintah bidik pasar China lebih luas untuk produk UMKM Indonesia
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































