Menteri UMKM ingin integrasikan UMKM Indonesia ke rantai pasok China

20 hours ago 3

Beijing (ANTARA) - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan pihaknya berkeinginan mengintegrasikan UMKM Indonesia ke rantai pasok di China.

"Dalam memperkuat kerja sama Indonesia–China khususnya dalam pengembangan UMKM, saya ingin memperkuat integrasi UMKM Indonesia ke dalam rantai pasok global termasuk China dan pengembangan klaster industri," kata Maman Abdurrahman di Beijing, Rabu (1/4).

Maman menyampaikan hal tersebut dalam acara "Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026" yang mempertemukan para pelaku usaha asal Tiongkok dan para pembuat kebijakan dari Indonesia terkait dunia usaha dan UMKM. Hadir juga Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun.

"UMKM perlu didorong untuk masuk ke dalam ekosistem industri yang terstruktur melalui kemitraan strategis. Penguatan klaster berbasis sektor dan integrasi ke dalam jaringan produksi regional akan meningkatkan skala usaha, efisiensi, serta daya saing berkelanjutan UMKM," tambah Maman.

Selain itu, Maman menyebut UMKM Indonesia membutuhkan kolaborasi investasi dan transfer teknologi.

"Modernisasi UMKM memerlukan dukungan dalam hal teknologi, pembiayaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Indonesia membuka peluang kerja sama investasi di UMKM bidang manufaktur, industri pengolahan, mesin produksi, teknologi digital, serta manufaktur cerdas, sekaligus memperkuat hilirisasi industri UMKM," ungkap Maman.

Hal ketiga, UMKM Indonesia membutuhkan penguatan kebijakan dan kerja sama kelembagaan termasuk melakukan pengembangan program kolaboratif yang terukur dan berdampak, katanya.

"Forum ini diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama jangka panjang yang lebih sistematis dan terlembaga antara Indonesia dan China dalam pengembangan UMKM," tambah Maman.

Pemerintah Indonesia, ungkap Maman, berkomitmen untuk mendorong transformasi UMKM melalui hilirisasi industri, digitalisasi, peningkatan akses pembiayaan, serta perluasan akses pasar internasional.

"Kami meyakini bahwa kemitraan strategis Indonesia–China akan mempercepat integrasi UMKM ke dalam rantai pasok global serta memperkuat stabilitas ekonomi kawasan," tegas Maman.

Di tengah dinamika ekonomi global, disrupsi teknologi, dan perubahan rantai pasok global, penguatan kerja sama usaha mikro, kecil, dan menengah China menjadi agenda strategis yang tidak terpisahkan dari agenda pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik, katanya.

"Saya memang membaca teks pidato ini, tetapi dengan gaya bahasa santai saya ingin mengatakan, jika Anda ingin bahagia, datanglah ke negara saya. Jika Anda bahagia, negara saya juga harus bahagia. Mari kita bahagia bersama," kata Maman disambut tawa sejumlah pengusaha.

Sementara Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangung mengatakan China terus menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia.

Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (tengah) dan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman (kanan) dalam acara "Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026" di Beijing pada Rabu (1/4/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia

"Perdagangan bilateral kita telah mencapai tonggak penting, total perdagangan bilateral kedua negara mendekati 168 miliar dolar AS, menjadikan China mitra dagang terbesar Indonesia," kata Dubes Djauhari.

Indonesia, kata Dubes Djauhari, menawarkan peluang.

"Saya ingin mengutip slogan Nike, Anda lakukan saja. Datang dan berinvestasilah di Indonesia, kami memiliki 280 juta penduduk, kami memiliki perekonomian terbesar di ASEAN, dan juga populasi terbesar di ASEAN," tambah Dubes Djauhari.

Terlebih, bila menyaksikan transformasi geoekonomi dan geopolitik, Dubes Djauhari menyebut perubahan bergerak menuju kawasan Asia.

"Jika kita menjalin hubungan yang sangat baik antara Indonesia, China, dan ASEAN, kita dapat menjamin bahwa di tahun-tahun mendatang, hal itu akan tetap berada di kawasan kita. Tentu saja, China, ASEAN, dan Indonesia akan memimpin proses transformasi dan juga akan menerima manfaat dari transformasi geoekonomi dan geopolitik ini," ungkap Dubes Djauhari.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap produk domestik bruto.

UMKM ini juga menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

Adapun berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, pada akhir 2024, total UKM di China telah melampaui 60 juta dengan pendapatan mencapai 81 triliun yuan (sekitar 11,2 triliun dolar AS) dengan 600.000 UKM fokus pada inovasi teknologi.

Dari 600.000 UKM dengan fokus inovasi teknologi, tersebut, terdapat 14.600 perusahaan UKM "raksasa kecil" yang berspesialisasi dalam sektor khusus, menguasai pangsa pasar dan memiliki kapasitas inovasi yang kuat.

Baca juga: 25 UMKM Indonesia ikut serta dalam pameran di Guangzhou

Baca juga: UMKM Indonesia optimis masuk pasar China

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |