Denny Parsaulian Sinaga Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)
ADA satu hal yang selalu saya tunggu saat bangun pagi sejak 11 Juni 2026. Ini kebiasaan baru dan akan saya lakukan hingga 19 Juli mendatang. Setiap bangun tidur, langsung buka ponsel untuk mengecek skor laga Piala Dunia 2026.
Saya senang sekali setiap Piala Dunia digelar karena bisa mengambil 'hikmah' dari pesta seluruh umat manusia di dunia ini.
Dari setiap laga, selain kalah, menang, seri; apa yang saya harapkan ada kejutan. Menanti kejutan. Menikmatinya, menyenanginya, meski menyebalkan, bikin kesal, bikin marah juga, tetapi kita harus hidup dengan fakta yang ada.
Kejutan itu kadang menyenangkan hati, saya menikmatinya. Saya jadi rajin dan bersemangat melakukan apa pun. Bahkan saya mampu menyelesaikan banyak pekerjaan meskipun itu bukan pekerjaan yang harusnya saya kerjakan. Apa pun yang saya lakukan malam sebelumnya jadi terasa berlipat kepuasannya.
Kejutan itu juga kadang menyebalkan sehingga kadang bikin saya malas melakukan apa pun, termasuk bekerja. Bahkan malas-malasan di ranjang empuk di rumah pun rasanya tidak bisa menyembuhkan kekesalan akibat kejutan tak terduga itu. Sepuas apa pun pada malam sebelumnya, langsung pudar dalam sekejap. Seperti tadi malam terlewat begitu saja.
Kejutan pertama yang bikin saya kesal, marah, hilang mood, dan bikin malas ngapa-ngapain ialah tersingkirnya Belanda dan Jerman di babak 32 besar. Sebenarnya saat tahu Jepang keok 1-2 oleh Brasil, saya sudah kesal. Namun, tersingkirnya dua raksasa itu bikin saya lebih kesel dan marah besar lagi. Dua-duanya kalah lewat adu penalti.
Efek dua raksasa sepak bola ini tersingkir bikin mood kerja hilang selama dua hari. Biasanya pukul 21.00 WIB pekerjaan sudah beres. tapi dalam dua hari ini, baru beres pukul 23.00 WIB.
Kekalahan yang dialami tim 'Oranye' dari Maroko terasa lebih menyakitkan. Belanda sudah unggul 1-0 lewat gol Cody Gakpo pada menit ke-72 hingga injury time babak kedua.
Petaka, kenapa saya sebut petaka, karena gol ini jadi penyebab harus tos-tosan dan adu tangkas tendang bola ke gawang lawan alias adu penalti, hadir pada menit ke-92. Sundulan Issa Dioup yang dikawal bek Virgil van Dijk tidak terbendung oleh kiper Bart Verburg. Skor menjadi 1-1.
Hingga waktu tambahan 2 x 15 menit, skor tetap 1-1. Belanda ternyata harus kalah 2-3 di adu penalti. Saya tidak usah menjabarkan siapa saja yang gagal melaksanakan tugas. Itu bikin hati sakit.
Di lain laga, Jerman yang termasuk sebagai 'tim subur' di Piala Dunia 2026 ini ditahan imbang 1-1 pada waktu normal oleh Paraguai.
Setelah melihat bagan babak sistem gugur, rematch final Piala Dunia 2022 di Qatar bukan tidak mungkin bakal terjadi.
Pada babak 32 besar Prancis sudah mengatasi rintangan pertama pada babak sistem gugur ini. Swedia digilas 3-0. Dua dari tiga gol tim 'Ayam Jantan' dicetak Kylian Mbappe.
Argentina baru saja menundukkan Tanjung Verde (Tanjung Hijau) di laga 32 besar. Argentina butuh 120 menit untuk menundukkan Tanjung Verde 3-2. Argentina sebenarnya hanya mencetak dua gol. Tanjung Verde cetak tiga. Namun, tim yang tidak pernah menang di penyisihan grup tapi melaju ke 32 besar itu mencetak satu gol ke gawang sendiri alias gol bunuh diri, 3-2 untuk tim 'Tango'.
Bagi banyak penikmat sepak bola di seluruh dunia, hasil itu sudah seharusnya. Setidaknya untuk Prancis dan Argentina. Namun, perjalanan ke puncak turnamen masih panjang. Prancis dan Argentina serta 14 tim lainnya masih harus saling mengalahkan di babak 16 besar. Untuk mencapai final, masih harus menang tiga kali.
Bagi saya, menantikan Argentina versus Prancis di final bukan sekadar kejutan lagi. Itu kejutan sangat manis. Keduanya sudah mempertontonkan permainan sepak bola yang sempurna.
Prancis bermain dengan kolektivitas yang tiada tandingan, sedangkan Argentina dengan soliditas di lapangan tengah serta depan yang tajam.

















































