Masih Perlukah Novelty di Kampus?

2 days ago 1
Masih Perlukah Novelty di Kampus? (Dok. Pribadi)

KATA novelty (kebaruan) benar-benar menjadi kutukan yang sudah tidak asing bagi mahasiswa Indonesia. Apa pun hebatnya karya buah kerja mahasiswa, jika novelty tidak bisa dipertahankan, nilainya tidak ada. Ini sungguh situasi tidak mengenakkan bagi mahasiswa dan menjadi tekanan psikis yang berat. Skripsi, tesis, dan disertasi, jika tidak mengandung nilai novelty, sudah pasti potensial ditolak. Rangkaian kerja panjang menjadi tidak ada artinya dan pengaruhnya ialah kelulusan tertunda, sampai ditemukan titik novelty-nya.

URGENSI NOVELTY

Sampai saat ini dunia pendidikan tinggi memang masih mendewa-dewakan novelty. Semakin bergengsi kampus menunjukkan nilai novelty-nya tinggi. Demikian pula sebaliknya, kecil jumlah novelty-nya maka kampusnya seolah bukan papan atas. Dampaknya seluruh sivitas kampus dieksplorasi untuk menggali novelty di mana saja. Yang terberat tentu mahasiswa, bobot pencariannya ditentukan lebih besar dan menjadi kunci di tugas-tugas akademik akhir, dan akibatnya ialah molor studi.

Nilai kebaruan pada awalnya memang digunakan untuk mempopulasikan jumlah penelitian, semakin banyak bidang dan tema penelitian maka akan menambah kans kampus masuk dalam jajaran kampus berpengaruh. Novelty tentu saja harus baru. Jika saat itu masih era buku, novelty-nya ialah digital. Jika saat itu teknologi pertaniannya konvensional, novelty-nya ialah pertanian modern di lahan-lahan sempit dan terbatas. Jika kedokteran konvensional, novelty-nya ialah kedokteran digital. Masih banyak lagi, dan intinya temuan baru yang berbeda sama sekali dengan sebelumnya.

Tujuannya memang bagus untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berada di garda terdepan kemajuan peradaban manusia. Pemilik ilmu pengetahuan, yakni kampus dan pendidikan tinggi, dapat membuktikan eksistensi bahwa kampus selalu terdepan memikirkan yang bahkan manusia belum memikirkan pada masanya.

Pada tahun 1986 saat penulis belajar ilmu kelistrikan, novelty pada bidang itu sudah mulai ada dengan ditemukan motor linier pada skala kampus. Ide dasarnya dari motor listrik semula bulat dan berputar, badannya kemudian dipotong dan digelar, maka bagian rotor akan berjalan secara linier tidak lagi berputar. Temuan mahasiswa Indonesia 1986 itu kini menjadi kereta listrik yang massal di mana-mana. Novelty terus berkembang, tidak hanya motor linier, kini teknologi sudah mencapai gaya tolak medan listrik yang dikenal dengan kereta maglev di Jepang dan Tiongkok.

Perkembangan saat ini sudah pada keunggulan baterai untuk mobil listrik dan kecepatan dalam isi ulang dengan target sebanding dengan lama pengisian di SPBU konvensional. Novelty mobil listrik (menuju mobil hidrogen) barangkali saat ini menjadi titik optimum kebaruan pada bidang energi dan transportasi.

PERLU PENDALAMAN

Persoalannya apakah kampus Indonesia akan dipaksa berkompetisi dengan ekosistem yang tidak dipunyainya? Jika novelty tertinggi ialah medan magnet dan hidrogen, kampus kita akan membuka arena baru bidang superkonduktor atau inti nuklir? Ini seharusnya yang perlu menjadi kontemplasi kita bersama akan diarahkan ke mana sumber daya manusia produk pendidikan tinggi Indonesia. Sangat menyedihkan para akademisi seolah diteror dengan diksi novelty oleh elite kampus, sementara fakta novelty di Indonesia pun sangat tertatih-tatih.

Di kampus Tiongkok dan Jepang, persoalan novelty saat ini bukan menjadi hal mandatori karena sangat fleksibelnya ilmu pengetahuan. Dibolehkan penelitian dengan tema sama, tetapi substansinya adalah pendalaman. Jika dulu baterai mobil listrik menggunakan material dari mineral nikel, mangan, atau kobalt, maka novelty-nya diubah dengan material berbeda seperti litium, besi, atau fosfat. Kampus kompromi dan tetap memberikan nilai penelitian tersebut berkualitas.

Perihal novelty ini perlu dikompromikan di kampus Indonesia. Sudah demikian lama keharusan novelty menjadi kewajiban, tetapi dampak di masyarakat tetap saja produk turunan bukan dari Indonesia. Kemajuan media, misalnya, bangsa ini tetap saja bukan kreator namun pengguna. Misalnya kemajuan media sosial, platformnya tetap saja ditemukan bukan dari Indonesia.

Tampaknya spirit selalu novelty harus diubah karena ekosistem kampus Indonesia memang belum mampu berada di titik itu. Kampus harus introspeksi berada di titik mana dan ke mana memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia. Tidak perlu menjadi negara di barisan pertama novelty karena nyatanya memang belum mampu. Tidak perlu menciptakan drone atau rudal presisi, tetapi meneliti komponen drone atau komponen rudal lebih memberikan kontribusi. Rangking novelty mobil listrik tidak dari Indonesia, tetapi mengembangkan material dan komponen mobil listrik lebih memungkinkan di kampus Indonesia.

Banyak subjek penelitian remeh-temeh, tetapi diabaikan oleh sumber daya kampus Indonesia karena dianggap tidak bernilai novelty. Bidang itu misalnya inovasi pertanian, sungai yang kotor, sampah merajalela, kemacetan di mana-mana, bahan pangan alternatif, atau tata daerah yang semrawut. Kampus bercita-cita tinggi meraih ilmu roket agar melesat di angkasa, tetapi ironisnya jalan menuju kampus setiap pagi selalu macet dan melelahkan.

Hal ini seolah dipandang biasa dan normal, karena volume, karena waktu bersamaan, dan banyak lagi alasannya. Kampus seharusnya berpikir, seluruh aspek dikaji, dan diberikan solusinya, ini lebih bermakna ketimbang selalu mengejar novelty.

Hal yang perlu pula dipikirkan, novelty yang tidak didukung ekosistem, hasilnya ialah tersimpan dalam laboratorium kampus. Sudah ditemukan embrio transportasi massal murah seperti motor linier sejak 1980-an, tetapi yang menjadikan kereta listrik magnetik justru negara lain.

Sebaiknya kampus kita lebih melakukan pendalaman bidang, jangan tergopoh-gopoh mencari novelty banyak bidang tapi tidak ada yang ahli sama sekali.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |