Literasi, Numerasi, dan Pinjaman & Judi Online

2 weeks ago 13
Literasi, Numerasi, dan Pinjaman & Judi Online (MI/Seno)

KETIKA mendengar kata literasi, banyak orang langsung membayangkan kegiatan membaca buku. Ketika mendengar numerasi, yang terlintas biasanya ialah kemampuan berhitung. Pemahaman seperti ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan konsep literasi dan numerasi yang digunakan UNESCO, OECD, dan berbagai lembaga internasional dewasa ini.

Dalam pemahaman mutakhir, literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, sebagaimana numerasi tidak lagi sekadar kemampuan berhitung. Keduanya dipandang sebagai kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, seseorang yang mampu membaca belum tentu literate.

Kita sering menjumpai orang yang tetap duduk di kursi bertanda priority bagi manula, ibu hamil, dan penyandang disabilitas meskipun ia mampu membaca tulisan dan memahami simbol yang tertera. Kita juga menjumpai orang yang merokok di area bertanda no smoking atau mengabaikan berbagai rambu keselamatan yang terpampang jelas. Mereka dapat membaca kata-kata dan mengenali simbol, tetapi gagal menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan perilaku mereka.

Fenomena serupa terjadi pada numerasi. Banyak orang mampu menyelesaikan soal matematika di sekolah, tetapi kesulitan memahami risiko keuangan, membaca grafik, menafsirkan data statistik, atau membandingkan berbagai pilihan berdasarkan informasi kuantitatif yang tersedia. Mereka dapat menghitung, tetapi belum tentu numerate.

STRUKTUR KONSEPTUAL

Jika dicermati lebih dalam, literasi dan numerasi sesungguhnya memiliki struktur konseptual yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk informasi yang diolah. Literasi berurusan dengan informasi yang direpresentasikan melalui bahasa dan teks, sedangkan numerasi berurusan dengan informasi yang direpresentasikan melalui angka, data, grafik, ukuran, dan peluang. Namun, keduanya menuntut proses mental yang sama: memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi untuk bertindak secara tepat.

Oleh karena itu, literasi dan numerasi lebih tepat dipandang sebagai dua sisi mata uang yang sama. Keduanya merupakan kemampuan memaknai representasi informasi. Yang satu beroperasi terutama pada representasi verbal, sedangkan yang lain beroperasi terutama pada representasi kuantitatif. Dalam kehidupan nyata, keduanya hampir tidak pernah bekerja secara terpisah.

Persoalan pinjaman online dan judi online yang meluas di Indonesia memberikan ilustrasi yang sangat jelas. Banyak korban pinjaman online sebenarnya dapat membaca syarat dan ketentuan yang tercantum dalam aplikasi. Namun, mereka tidak sepenuhnya memahami konsekuensi bunga, denda, akumulasi utang, dan risiko keuangan yang akan dihadapi. Sebaliknya, pemahaman tersebut juga menuntut numerasi, yaitu kemampuan menafsirkan angka, menghitung beban pembayaran, dan memperkirakan dampaknya terhadap kondisi ekonomi keluarga.

Demikian pula dalam kasus judi online. Seseorang mungkin memahami berbagai pesan peringatan yang disampaikan pemerintah, media, dan tokoh masyarakat. Namun, tanpa kemampuan numerasi untuk memahami probabilitas, risiko, dan kerugian jangka panjang, orang tetap mudah terjebak pada ilusi kemenangan sesaat.

Data PPATK menunjukkan jutaan transaksi judi online masih terjadi di Indonesia dan sebagian besar pelakunya berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. Pada kuartal pertama 2025 saja tercatat lebih dari 1 juta pemain judi online, dengan sekitar 71% di antaranya berpenghasilan di bawah Rp5 juta per bulan. Meskipun pemerintah terus menutup ribuan platform pinjaman online ilegal dan memberantas judi online, jumlah korban yang terjerat masih sangat besar. Fakta-fakta itu menunjukkan persoalan yang dihadapi masyarakat bukan semata-mata kurangnya kemampuan membaca, melainkan ketidakmampuan memahami dan menggunakan informasi secara tepat dalam pengambilan keputusan.

UPAYA PENANGGULANGAN

Oleh karena itu, upaya penanggulangan pinjaman online dan judi online tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum, pemblokiran platform, atau kampanye peringatan semata. Solusi jangka panjang harus mencakup penguatan literasi dan numerasi masyarakat. Literasi membantu seseorang membaca secara kritis berbagai tawaran yang tampak menguntungkan, mengenali bahasa persuasif yang menyesatkan, memverifikasi kebenaran informasi, serta memahami hak dan kewajiban yang terkandung dalam suatu kontrak atau transaksi digital.

Sementara itu, numerasi memungkinkan seseorang menghitung total biaya pinjaman yang sebenarnya, memperkirakan akumulasi bunga dan denda, membandingkan berbagai alternatif keuangan, serta memahami peluang dan risiko secara rasional. Individu yang memiliki literasi dan numerasi yang baik tidak mudah terjebak oleh janji pencairan dana instan dan iming-iming kemenangan besar karena mampu menilai konsekuensi jangka panjang berdasarkan bukti dan perhitungan yang masuk akal.

Dalam konteks itu, pendidikan literasi dan numerasi perlu dikaitkan dengan situasi kehidupan nyata yang dihadapi peserta didik. Siswa tidak cukup hanya belajar memahami bacaan atau menyelesaikan soal matematika yang bersifat abstrak, tetapi juga perlu berlatih menganalisis iklan pinjaman online, menelaah syarat dan ketentuan suatu layanan keuangan digital, menghitung bunga majemuk, menginterpretasikan data statistik, serta memahami konsep peluang yang menjadi dasar berbagai bentuk perjudian.

Pembelajaran seperti itu membantu peserta didik melihat hubungan langsung antara pengetahuan yang dipelajari di sekolah dan keputusan yang harus mereka ambil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, literasi dan numerasi tidak berhenti sebagai kompetensi akademik, tetapi berkembang menjadi bekal untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari berbagai risiko sosial-ekonomi pada era digital.

Dalam konteks pendidikan, kenyataan itu patut menjadi bahan refleksi. Selama ini literasi sering direduksi menjadi kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai atau jumlah buku yang bisa ditamatkan siswa setiap tahun. Numerasi pun sering direduksi menjadi kemampuan menjawab soal matematika. Akibatnya, perhatian lebih banyak tertuju pada aktivitas yang tampak, bukan pada kompetensi yang sesungguhnya ingin dibangun. Padahal, tujuan pendidikan bukan menghasilkan peserta didik yang sekadar gemar membaca atau mahir berhitung.

Tujuan pendidikan ialah menghasilkan individu yang mampu memahami informasi, menilai keandalannya, menarik kesimpulan yang masuk akal, serta menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

KOMPETENSI FUNDAMENTAL

Oleh karena itu, literasi dan numerasi tidak diposisikan sebagai dimensi profil lulusan yang berdiri sendiri. Keduanya lebih tepat dipahami sebagai kompetensi fundamental yang menembus seluruh delapan dimensi profil lulusan. Keimanan dan ketakwaan memerlukan kemampuan memahami dan menafsirkan ajaran agama. Kesehatan memerlukan kemampuan memahami informasi medis dan risiko kesehatan. Bernalar kritis, kreatif, mandiri, kolaborasi, berkomunikasi, dan berkewargaan juga menuntut kemampuan mengolah informasi secara verbal dan kuantitatif.

Dengan demikian, literasi dan numerasi bukanlah tujuan yang terpisah dari dimensi-dimensi tersebut, melainkan fondasi yang memungkinkan seluruh dimensi berkembang secara optimal. Tanpa literasi dan numerasi, delapan dimensi profil lulusan akan kehilangan instrumen utamanya. Sebaliknya, ketika literasi dan numerasi berkembang dengan baik, seluruh dimensi profil lulusan memperoleh landasan yang kukuh untuk tumbuh.

Di era banjir informasi dan kecerdasan artifisial saat ini, tantangan terbesar bukan lagi memperoleh informasi, melainkan memahami dan menggunakannya secara bijaksana. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti memandang literasi sebagai sekadar membaca dan numerasi sebagai sekadar berhitung. Keduanya ialah dua sisi dari kemampuan yang sama: kemampuan manusia untuk memberikan makna pada informasi dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat demi kehidupan yang lebih baik.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |