Latar Belakang dan Isi Pakta Pertahanan Saudi, Pakistan, Turki di Mekah

12 hours ago 5
Latar Belakang dan Isi Pakta Pertahanan Saudi, Pakistan, Turki di Mekah (Al Jazeera)

ARAB Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menandatangani pakta pertahanan bersama di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perjanjian yang diberi nama Mecca Joint Deterrence Agreement ini ditandatangani di kota suci Mekah pada Jumat (7/8/2026).

Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Pakta ini menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, sebagai bentuk pencegahan kolektif terhadap agresi luar.

Komitmen Keamanan dan Solidaritas Islam

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa kesepakatan ini dipandu oleh hubungan sejarah yang panjang serta ikatan persaudaraan dan solidaritas Islam. Selain memperkuat keamanan kolektif, pakta ini bertujuan mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan yang kian bergejolak.

Penandatanganan ini dilakukan sehari setelah PM Shehbaz Sharif, didampingi Panglima Angkatan Darat Asim Munir, tiba di Arab Saudi. Presiden Erdogan juga melakukan perjalanan ke Mekah khusus untuk bertemu dengan MBS guna meresmikan kerja sama strategis ini.

Latar Belakang dan Urgensi Pakta

Negosiasi pakta ini dilaporkan berlangsung sejak serangan 7 Oktober 2023 dan meningkatnya eskalasi di Jalur Gaza, Palestina. Ketegangan semakin memuncak seiring keterlibatan langsung AS dan Israel dalam konflik dengan Iran. Beberapa faktor utama yang mendorong aliansi ini meliputi:

  • Ancaman terhadap Infrastruktur: Arab Saudi kerap menjadi sasaran serangan drone dan rudal dari kelompok Houthi di Yaman serta kelompok bersenjata di Irak yang didukung Iran.
  • Ekspansionisme Israel: Ketiga negara menyatakan kekhawatiran atas serangan Israel di Libanon, Suriah, dan Gaza yang dianggap merusak stabilitas regional.
  • Otonomi Strategis: Analis menilai pakta ini mencerminkan keinginan untuk kemandirian keamanan regional di tengah memudarnya kepercayaan terhadap tatanan keamanan lama yang didominasi Barat.

Kekuatan Aliansi Trilateral:

  • Turki: Memiliki militer terbesar kedua di NATO dan kapabilitas industri pertahanan yang maju.
  • Arab Saudi: Eksportir minyak utama dunia dengan kekuatan finansial yang masif.
  • Pakistan: Satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir dan pengalaman militer strategis.

Reaksi Regional: Iran dan Israel

Meskipun pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi, anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengkritik langkah tersebut. Ia menyatakan bahwa ketergantungan pada perjanjian kertas tidak akan memberikan keamanan sejati bagi Saudi, sebagaimana ketergantungan mereka pada Amerika Serikat selama ini.

Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi. Namun, beberapa analis di Jerusalem sebelumnya memperingatkan pembentukan poros Suni yang dianggap bisa menjadi tantangan baru bagi kepentingan Israel di kawasan tersebut. 

Dengan adanya Mecca Joint Deterrence Agreement, arsitektur keamanan Timur Tengah kini memasuki babak baru yang lebih menekankan pada koordinasi militer, berbagi intelijen, dan kemandirian industri pertahanan di antara kekuatan-kekuatan besar dunia Islam. (Al Jazeera/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |