Kutub Selatan Membeku Lebih Cepat, Ilmuwan Ungkap Fakta Geologis di Balik Narasi Kiamat

2 weeks ago 13
Kutub Selatan Membeku Lebih Cepat, Ilmuwan Ungkap Fakta Geologis di Balik Narasi Kiamat Kutub Selatan membeku jutaan tahun lebih awal.(Dok. Magnific)

FENOMENA Kutub Selatan yang membeku jauh lebih cepat dibandingkan Kutub Utara kembali memicu diskusi publik, terutama terkait kaitannya dengan narasi perubahan iklim dan tanda-tanda akhir zaman. Berdasarkan studi terbaru yang dilansir dari IFLScience, para peneliti menegaskan bahwa perbedaan drastis ini murni disebabkan oleh faktor geologi dan oseanografi yang berlangsung selama jutaan tahun.

Antartika awalnya merupakan bagian dari superbenua Gondwana yang mulai terpecah pada periode Jurasik, sekitar 201–143 juta tahun lalu. Pergerakan lempeng tektonik memisahkan Antartika dari Afrika, Australia, dan Amerika Selatan, hingga akhirnya benua ini terisolasi di wilayah kutub selatan dan tertutup lapisan es tebal.

Selain posisi geografis, penurunan kadar karbon dioksida (CO₂) di atmosfer secara global turut mempercepat proses pendinginan. Berkurangnya konsentrasi CO₂ melemahkan efek rumah kaca, yang kemudian memicu penurunan suhu ekstrem di Antartika hingga memungkinkan pembentukan lapisan es permanen.

Faktor lain yang memperkuat pembekuan ini adalah pengangkatan daratan Antartika Timur akibat pergerakan mantel Bumi. Ketinggian wilayah yang meningkat secara signifikan membuat suhu udara semakin rendah, menciptakan kondisi ideal bagi es untuk bertahan selama jutaan tahun tanpa mencair.

Kondisi ini sangat kontras dengan Kutub Utara yang secara geografis merupakan lautan yang dikelilingi oleh daratan. Arus laut hangat dari Samudra Atlantik dan Pasifik masih dapat menjangkau kawasan Arktik, sehingga proses pembentukan es permanen di sana berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan di Selatan.

Meski sering dikaitkan dengan narasi tanda-tanda kiamat oleh sebagian kalangan, para ilmuwan menekankan bahwa perbedaan waktu pembekuan kedua kutub adalah hasil evolusi geologi yang kompleks. Penelitian terus dilakukan untuk memahami bagaimana dinamika masa lalu ini memengaruhi pola perubahan iklim global di masa depan. (IFLScience/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |