Krisis Guru di Pedalaman, Insentif hingga Beasiswa S1 Jadi Jawaban

10 hours ago 3
Krisis Guru di Pedalaman, Insentif hingga Beasiswa S1 Jadi Jawaban PT BEK mulai merancang program beasiswa pendidikan bagi guru yang belum menyelesaikan jenjang sarjana. Melalui program tersebut, para tenaga pendidik difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 tanpa harus menanggung biaya kuliah sendiri.(Dok. PT Bharinto Ekatama)

KETIKA banyak program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) diarahkan pada pembangunan fisik, PT Bharinto Ekatama (PT BEK) memilih fokus berbeda. Perusahaan tambang batu bara tersebut menempatkan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas program sosialnya.

Fokus itu berangkat dari persoalan yang masih dihadapi sejumlah sekolah di wilayah pedalaman sekitar area operasional perusahaan, terutama keterbatasan tenaga pendidik dan belum terpenuhinya kualifikasi akademik sebagian guru.

Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Kampung Besiq Bermai, Kabupaten Kutai Barat. Jumlah peserta didik di sekolah setempat pernah mencapai lebih dari 100 orang, sementara tenaga pengajar yang tersedia masih terbatas.

Community Development Head PT Bharinto Ekatama, Kristinawati, mengatakan kondisi tersebut membuat perusahaan tidak hanya berupaya membantu memenuhi kebutuhan guru, tetapi juga melihat persoalan pendidikan secara lebih mendasar.

Menurutnya, kualitas pendidikan tidak cukup hanya ditopang oleh keberadaan ruang kelas dan fasilitas sekolah. Kompetensi serta kualifikasi tenaga pendidik menjadi faktor penting yang turut menentukan proses belajar mengajar.

"Untuk program pendidikan di PT Bharinto Ekatama, memang beberapa tahun terakhir kami lebih berkonsentrasi pada pengembangan atau peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kami berpikir bahwa pembangunan infrastruktur pada dasarnya menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. Karena itu, kami memilih fokus pada pengembangan guru dan sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasional perusahaan," katanya.

Sebelum menjalankan program beasiswa, PT BEK terlebih dahulu memberikan dukungan berupa honor atau insentif kepada sejumlah guru honorer di sekolah-sekolah sekitar wilayah operasional. Langkah tersebut dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berjalan di tengah keterbatasan tenaga pendidik.

Namun, persoalan tidak berhenti di sana. Ketika sejumlah guru yang sebelumnya mengajar di sekolah pedalaman dinyatakan lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), mereka kemudian ditempatkan di sekolah lain. Perpindahan tersebut kembali membuat sekolah asal mengalami kekurangan tenaga pengajar.

"Sebelum ada program beasiswa, kami sudah mendukung beberapa guru melalui pemberian honor atau insentif. Tetapi ketika ada seleksi PPPK, beberapa guru diterima dan ditempatkan di sekolah lain. Akibatnya, sekolah yang sebelumnya kekurangan guru menjadi semakin kekurangan tenaga pengajar," ujarnya.

Dari evaluasi tersebut, perusahaan menemukan persoalan lain yang tidak kalah penting. Sebagian guru yang mengajar di sekolah-sekolah pedalaman ternyata belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal S1.

Kondisi itu menjadi kendala ketika mereka ingin mengikuti seleksi PPPK yang mensyaratkan kualifikasi akademik tertentu.

"Kami kembali menambah beberapa guru honorer dan memberikan dukungan berupa honor atau insentif. Setelah kami melihat lebih jauh, ternyata persoalannya bukan hanya kekurangan guru. Kami juga menemukan bahwa beberapa guru tidak bisa mengikuti seleksi PPPK karena belum memiliki kualifikasi pendidikan S1," jelas Kristinawati.

Temuan tersebut kemudian mendorong PT BEK mengubah pendekatan programnya. Perusahaan tidak hanya membantu menghadirkan guru di sekolah-sekolah pedalaman, tetapi juga berupaya meningkatkan kapasitas guru yang sudah ada.

Pada 2024, PT BEK mulai merancang program beasiswa pendidikan bagi guru yang belum menyelesaikan jenjang sarjana. Melalui program tersebut, para tenaga pendidik difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 tanpa harus menanggung biaya kuliah sendiri.

"Melalui program ini, guru-guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana kami fasilitasi untuk melanjutkan kuliah hingga jenjang S1. Sebagian di antaranya sudah menjalani perkuliahan dan perusahaan mengambil alih pembiayaan beasiswa tersebut," katanya.

Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, tetapi juga memperbesar peluang mereka untuk memenuhi persyaratan akademik dalam mengikuti seleksi PPPK.

Dengan demikian, dukungan perusahaan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan guru dalam jangka pendek, tetapi diarahkan untuk membangun tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi lebih baik dan dapat bertahan dalam sistem pendidikan formal.

Saat ini, program tersebut telah menjangkau puluhan tenaga pendidik di wilayah operasional PT BEK. Di Kalimantan Timur, terdapat 18 guru penerima insentif dan hampir seluruhnya juga mendapatkan dukungan beasiswa. Jika digabungkan dengan penerima di Kalimantan Tengah, jumlah guru yang mendapatkan dukungan mencapai 56 orang.

Bagi PT BEK, investasi di bidang pendidikan tersebut menjadi upaya untuk menjawab persoalan yang ditemukan langsung di lapangan: bukan sekadar bagaimana mendatangkan guru ke sekolah pedalaman, tetapi bagaimana memastikan mereka memiliki kemampuan dan kualifikasi yang memadai untuk terus mengajar.

Melalui peningkatan kapasitas tersebut, perusahaan berharap sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasionalnya dapat memiliki tenaga pendidik yang lebih kompeten sekaligus memenuhi standar kualifikasi nasional.

Sebab, di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah pedalaman, keberadaan guru bukan hanya soal jumlah. Kualitas dan keberlanjutan tenaga pendidik menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak di kampung-kampung terpencil tetap mendapatkan kesempatan belajar yang layak. (E-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |