Korut tegaskan status nuklir dan mendorong stabilitas kawasan

6 hours ago 1

Beijing (ANTARA) - Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara Letnan Jenderal Kim Kang Il menegaskan bahwa status nuklir negaranya tidak dapat diubah serta meminta pihak lain menghentikan kecaman terhadap kebijakan pertahanan Pyongyang.

"Status kami sebagai negara pemilik senjata nuklir, yang telah dikukuhkan melalui konstitusi sebagai hukum tertinggi negara, sama sekali tidak dapat dibatalkan," kata Kim Kang Il dalam sesi panel di Beijing Xiangshan Forum 2026 di Beijing, Kamis.

Kehadiran Kim dalam forum keamanan internasional tersebut menandai salah satu kemunculan pejabat tingkat tinggi Korea Utara di luar negeri yang relatif jarang terjadi. Kehadirannya berlangsung ketika Pyongyang juga berupaya mempererat hubungan dengan China di tengah ketegangan dengan Washington dan sekutunya.

"Negara-negara yang dianggap sebagai musuh dan menyimpan niat paling bermusuhan serta fanatik terhadap negara kami harus menghentikan kecaman terhadap kebijakan pertahanan kami yang sah dan bersifat membela diri, serta meninggalkan khayalan denuklirisasi yang tidak realistis," tegas Kim.

Kim mengatakan semakin besar ancaman serangan nuklir dari kekuatan yang memusuhi Korea Utara dan semakin intensif langkah-langkah konfrontatif melalui aliansi nuklir, semakin besar pula kebutuhan negaranya untuk memperluas dan memperkuat daya tangkal perang nuklir sebagai upaya membela diri.

"Berdasarkan prinsip menjamin keamanan dan menjaga perdamaian melalui kekuatan yang tangguh, kami akan dengan teguh mempertahankan perdamaian serta stabilitas di Semenanjung Korea dan kawasan," ungkap Kim.

Ia meminta masyarakat internasional melihat secara tepat akar penyebab meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, wilayah sekitarnya, dan kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan, serta menyuarakan sikap bersama untuk menjaga keadilan internasional.

"Belakangan ini fondasi perdamaian dan keamanan dunia terguncang hebat akibat keserakahan geopolitik yang brutal dan tidak terbatas serta ambisi hegemoni Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan pengikutnya. Di Semenanjung Korea, blok militer agresif yang berbagi kemampuan nuklir terus diperluas dan diperkuat," tambah Kim.

Kim menyebut berbagai latihan militer yang mengandaikan penggunaan senjata nuklir dilakukan secara terbuka dan dinilainya mengganggu perdamaian serta keamanan kawasan.

"Secara khusus, AS telah mengadopsi strategi nuklir baru yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan serangan dengan menggunakan senjata nuklir taktis untuk menghadapi potensi konflik kawasan sehingga negara itu mengembangkan kekuatan nuklirnya agar dapat digunakan dalam pertempuran nyata," jelas Kim.

Kim juga menambahkan bahwa dengan memanfaatkan situasi internasional yang kacau, Jepang dan Korea Selatan terjebak dalam apa yang disebutnya “ketundukan ekstrem” kepada AS sehingga gencar meningkatkan kekuatan militer secara serampangan dengan tujuan memiliki senjata nuklir, di bawah pembiaran dan dorongan AS.

"Akibatnya, perubahan kerangka kerja sama militer trilateral AS-Jepang-Korsel menjadi aliansi nuklir disebut mulai menjadi kenyataan. Semenanjung Korea pun tidak dapat keluar dari lingkaran setan konfrontasi yang dilakukan AS dan sekutunya," ungkap Kim.

Kebijakan nuklir Korut, menurut Kim, diadopsi dengan secara tepat mencerminkan kebutuhan keamanan nasional dalam menghadapi ancaman yang ada saat ini maupun ancaman pada masa mendatang.

"Upaya negara-negara yang dianggap sebagai musuh untuk terus meningkatkan kekuatan nuklir memberikan alasan yang cukup bagi republik kami untuk membangun perisai nuklir yang sempurna, sekaligus semakin menegaskan keabsahan dan perlunya kebijakan penguatan kekuatan nuklir," tambah Kim.

Namun ia mengungkapkan Korut pada masa mendatang akan terus mengembangkan hubungan bertetangga yang baik dan bersahabat dengan seluruh negara yang menjunjung keadilan dan kemandirian, serta bekerja sama untuk menentang hegemonisme dan unilateralisme dan membangun tatanan internasional yang adil.

Saat ditanya salah satu peserta mengenai kesediaan Korea Utara mengikuti pengaturan kecerdasan artifisial di bidang pertahanan dan keamanan, Kim mengatakan pengembangan kemampuan pertahanan nasional Korea Utara bersifat membela diri serta bertujuan melindungi martabat negara dan kebahagiaan rakyat dari ancaman eksternal.

"Untuk tujuan tersebut, kami memiliki dan terus memperkuat kemampuan pertahanan nasional. Korut terus memperkuat kemampuan pertahanannya yang bersifat membela diri," kata Kim yang membawa penerjemah sendiri ke panggung.

Kim juga tidak menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang disampaikan seorang dosen dari Nanjing.

"Mengenai persoalan ini, saya kira saya tidak dalam posisi untuk membahas apakah pertemuan puncak semacam itu bisa terlaksana," jawab Kim singkat.

Korea Utara diketahui bergabung dengan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) pada 1985 dan mulai tunduk pada perjanjian pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada 1992.

Inspeksi IAEA pada 1992 menemukan ketidaksesuaian antara laporan Korea Utara dan hasil pemeriksaan, yang mengindikasikan adanya plutonium yang tidak dilaporkan. Pyongyang menolak inspeksi khusus sehingga pada 1993 dinyatakan tidak mematuhi kewajibannya.

Pada Januari 2003, Korut menyatakan keluar dari NPT sehingga IAEA melaporkan persoalan tersebut kepada Dewan Keamanan PBB.

Melalui Perundingan Enam Pihak pada 2005, Korut menyatakan bersedia meninggalkan program nuklir dengan imbalan bantuan ekonomi dan jaminan keamanan tapi ternyata melakukan uji coba nuklir pertamanya pada Oktober 2006 sehingga dikenai sanksi PBB.

Baca juga: Korea Utara kecam pertemuan IAEA mengenai denuklirisasi

Baca juga: Korut kecam latihan Jepang-AS-Korsel, ancam tindakan balasan

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |