Menhan China usulkan konsep keamanan baru

4 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Menteri Pertahanan China Dong Jun mengusulkan konsep keamanan baru untuk menghadapi tantangan yang semakin banyak dan tata kelola global mencapai titik kritis.

"Tata kelola global telah sampai pada titik kritis: maju atau mundur, keamanan internasional berada dalam kondisi yang rapuh sehingga saya ingin menyampaikan usulan untuk membangun konsensus keamanan baru," kata Menteri Pertahanan China Dong Jun saat membuka "Beijing Xiangshan Forum" di Beijing, Rabu.

Beijing Xiangshan Forum berlangsung pada 15-17 September 2026 dengan tema "Membangun Konsensus tentang Stabilitas, Memajukan Tata Kelola Keamanan Bersama" yang dihadiri ratusan perwira militer, diplomat, dan akademisi dari negara-negara Asia, Eropa hingga Amerika Serikat untuk membahas mengenai keamanan dan tatanan internasional.

"Teori-teori keamanan tradisional semakin sulit menjelaskan berbagai pertentangan dan persoalan yang kita hadapi saat ini. Pola pikir usang berupa permainan menang-kalah tidak mampu memecahkan berbagai persoalan keamanan yang kompleks dewasa ini. Konsep keamanan global yang bersama, komprehensif, kooperatif, dan berkelanjutan telah memberikan pendekatan baru yang juga semakin mendapat pengakuan dan tanggapan positif," ungkap Dong Jun.

Konsep tersebut, menurut Dong Jun, menganjurkan penghormatan dan jaminan terhadap keamanan setiap negara, pemeliharaan keamanan di bidang tradisional maupun nontradisional secara terpadu, serta peningkatan tata kelola keamanan secara terkoordinasi.

"Keamanan harus diwujudkan melalui dialog politik dan perundingan damai, sedangkan pertentangan harus diatasi melalui pembangunan sehingga akar penyebab ketidakamanan dapat dihilangkan. Kita perlu membangun konsensus seluas-luasnya dan mencari penyelesaian melalui sikap saling menghormati," tambah Dong Jun.

Usulan kedua, adalah dengan menjaga stabilitas melalui multilateralisme dengan negara-negara besar harus bertanggung jawab sedangkan negara-negara kecil dan menengah perlu berkontribusi secara aktif serta PBB harus menjalankan peran yang semestinya.

"Kita harus berpegang pada multilateralisme sejati, dengan teguh menjaga sistem internasional yang berpusat pada PBB, tatanan internasional yang berlandaskan hukum internasional, serta norma-norma dasar hubungan internasional yang didasarkan pada tujuan dan prinsip Piagam PBB," ungkap Dong Jun.

Usulan ketiga adalah mencegah risiko dengan kejernihan dalam memandang sejarah.

"Kita harus mengingat pelajaran sejarah dan senantiasa mewaspadai berbagai bentuk tersembunyi maupun perubahan bentuk dari hegemonisme dan militerisme. Kita tidak boleh membiarkannya berkembang," tambah Dong Jun.

Ia juga mengajak negara-negara mencegah merambatnya risiko-risiko baru ke bidang keamanan, mewaspadai hilangnya kendali tata kelola, dan menolak praktik mengalihkan persoalan dalam negeri ke luar negeri sehingga memperuncing pertentangan.

Usulan keempat, menyelesaikan persoalan melalui dialog dan konsultasi karena kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah ataupun menghilangkan akar pertentangan dan malah menciptakan lebih banyak kesulitan.

"China memiliki sebuah ungkapan, 'Tidak ada hal sulit di dunia selama seseorang bersedia mendaki'. Hal yang paling dibutuhkan untuk mempertahankan dialog dan konsultasi adalah ketulusan dalam menyelesaikan persoalan, kesediaan berkomunikasi secara setara dan saling menghormati, serta upaya secara bertahap untuk membangun rasa saling percaya dan memperluas titik temu kepentingan bersama," jelas Dong Jun.

Masyarakat internasional, kata Dong Jun, harus menghormati kedaulatan dan kehendak pihak-pihak terkait, menjunjung keadilan, secara aktif menyediakan wadah komunikasi dan dialog, serta mendorong koordinasi yang efisien antara berbagai mekanisme multilateral global dan regional.

"Kelima, memperkuat landasan keamanan melalui pembangunan bersama. Di baliknya sering terdapat akar persoalan yang mendalam, seperti ketimpangan pembangunan, ketidaksetaraan hak, dan semakin sempitnya ruang pembangunan," kata Dong Jun.

Hal tersebut, menurut Dong Jun, menunjukkan bahwa solusi mendasar bagi tata kelola keamanan adalah menjembatani kesenjangan pembangunan dan memperkecil kesenjangan antara Utara dan Selatan.

"China senantiasa menganjurkan pembangunan bersama untuk mendorong keamanan bersama. Modernisasi China memberikan ruang pembangunan yang lebih luas serta stabilitas dan kepastian yang lebih besar bagi seluruh dunia dan kami menyambut semua pihak untuk bersama-sama menaiki kereta cepat pembangunan dan terus memperkuat fondasi keamanan universal," tegas Dong Jun.

Usulan keenam, memperdalam kerja sama dengan berorientasi pada tindakan.

Militer China, menurut Dong Jun, bersedia bekerja sama dengan semua pihak untuk mencapai lebih banyak hasil nyata melalui kerja sama pragmatis serta mewujudkan masa depan yang saling menguntungkan.

"Militer China akan segera memasuki usia satu abad dan kini tengah mempercepat modernisasi. Kami bersedia berbagi pengalaman dan gagasan mengenai pembangunan serta pengelolaan militer dengan semua pihak, memberikan bantuan sesuai kemampuan kepada angkatan bersenjata negara-negara yang membutuhkannya, serta memperluas kerja sama pragmatis dalam bidang pertukaran persahabatan, pelatihan personel, peralatan, dan teknologi," tegas Dong Jun.

Dalam pembukaan Beijing Xiangshan Forum tersebut, Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin juga hadir tapi tidak memberikan sambutan.

Sedangkan sejumlah menteri pertahanan dan pejabat tinggi bidang keamanan lain yang ikut menyampaikan pandangan adalah Menteri Pertahanan Vietnam Phan Van Giang, Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, Menteri Pertahanan Thailand Adul Boonthumjaroen, Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha, Menteri Pertahanan Belarusia Victor Khrenin, Wakil Direktur, Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Strategi, Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis Letnan Jenderal Sebastien Vallette, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Anna Tsivileva dan pejabat terkait lainnya.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |