Komisi Eropa buka peluang Kanada jadi anggota asosiasi EU

1 day ago 4

Brussel (ANTARA) - Komisi Eropa, Rabu, membuka peluang bagi Kanada untuk menjadi "anggota asosiasi" pertama Uni Eropa (EU), sembari menyerukan peninjauan ulang secara mendasar terhadap kemitraan blok tersebut di tengah meningkatnya tantangan geopolitik dan ekonomi.

Dalam pidato tahunan mengenai State of the Union 2026 di Parlemen Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Eropa harus “segera merancang ulang kemitraan kita”.

Dia juga mengusulkan kerja sama dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk membawa hubungan antara EU dan Kanada “ke tingkat tertinggi yang dimungkinkan.”

"Saya ingin bekerja sama dengan Anda untuk membuka peluang bagi Kanada agar menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa," katanya.

Von der Leyen menyampaikan usulan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperdalam kerja sama dengan mitra yang memiliki visi serupa di bidang-bidang strategis, termasuk energi, mineral kritis, baterai, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, keamanan siber, dan keamanan ekonomi.

Usulan itu akan menciptakan bentuk hubungan baru antara EU dan negara non-EU, meskipun von der Leyen tidak merinci apa saja cakupan status "anggota asosiasi" tersebut ataupun pengaturan kelembagaan apa yang akan diperlukan.

Von der Leyen mengatakan bahwa EU harus mengamankan akses terhadap bahan baku penting, memperkuat kemandirian energinya, dan mengembangkan kemampuan sendiri dalam teknologi baru yang sedang berkembang, sembari tetap bekerja sama dengan mitra-mitra terpercaya.

Dia menegaskan bahwa Eropa telah memilih untuk menempuh jalan yang lebih mandiri, seraya menyatakan bahwa kini muncul Eropa yang lebih kuat dan lebih siap untuk mempertahankan diri, mengamankan pasokan energinya, serta melindungi kepentingan ekonominya.

Ekonomi dan energi

Von der Leyen menetapkan pemulihan ekonomi Eropa sebagai "prioritas utama" EU, dengan menyoroti pasar tunggal yang besar, basis industri, tabungan, dan mata uang blok tersebut, seraya mengakui masih adanya fragmentasi dalam pasar modal, jaringan, dan daya beli.

Dia menyatakan bahwa EU telah mencapai kesepakatan politik mengenai peta jalan "satu Eropa, satu pasar" dan menyerukan agar perombakan pasar tunggal tersebut rampung pada akhir tahun depan.

Von der Leyen juga mengumumkan inisiatif konektivitas internasional baru yang menghubungkan Kaukasus Selatan dan Asia Tengah dengan pasar Eropa melalui jalur yang disebut sebagai Koridor Tengah (Middle Corridor).

Dia mengatakan pula bahwa Eropa tidak dapat mempertahankan posisinya sebagai kekuatan industri jika harga energinya tetap berada di tingkat yang tinggi secara struktural.

Dia menyoroti upaya EU untuk mengurangi ketergantungan pada gas Rusia melalui diversifikasi pasokan serta investasi di bidang energi terbarukan dan tenaga nuklir.

Von der Leyen juga menyerukan peningkatan elektrifikasi, seraya menyatakan bahwa tujuan EU adalah melipatgandakan porsi penggunaan listrik pada 2040.

"Singkatnya, mari kita jadikan masa depan Eropa berbasis listrik. Ini adalah suatu keharusan," ujarnya.

China dan bahan baku kritis

Von der Leyen juga memperingatkan bahwa hubungan perdagangan Eropa dan China telah mencapai "titik kritis," seraya menyebutkan adanya defisit perdagangan EU dengan China yang mencapai sekitar 1 miliar euro (Rp20,4 triliun) per hari.

Dia menyatakan bahwa blok tersebut sedang mengupayakan dialog dengan Beijing untuk menyeimbangkan kembali perdagangan, namun menegaskan bahwa dialog tersebut harus membuahkan hasil.

Pada saat yang sama, dia menyoroti ketergantungan Eropa terhadap China untuk bahan baku kritis; dia menyebutkan bahwa EU bergantung lebih dari 80 persen pada China untuk banyak bahan semacam itu dan bergantung sebesar 90 persen untuk beberapa jenis logam tanah jarang.

Dia mengumumkan rencana pembentukan "Korporasi Eropa untuk Bahan Baku Kritis" yang baru guna membantu mengamankan dan menimbun pasokan yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik, cip, baterai, teknologi bersih, dan sektor pertahanan.

Kecerdasan buatan

Von der Leyen menggambarkan isu kecerdasan buatan (AI) sebagai "titik kritis" besar kedua, sejajar dengan perubahan iklim.

Dia mengemukakan kekhawatiran terkait serangan siber, model yang mampu mengembangkan diri sendiri, serta sistem AI yang beroperasi di luar lingkungan yang dituju, sembari membela Undang-Undang AI EU sebagai kerangka kerja penting untuk menetapkan langkah-langkah pelindungan.

Menurutnya, Eropa perlu bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Kanada dan Inggris, dalam hal evaluasi model AI, verifikasi, peringatan dini, dan keamanan AI.

Pada saat yang sama, dia menegaskan bahwa Eropa membutuhkan kemampuan teknologinya sendiri, khususnya di bidang-bidang yang berkaitan dengan keamanan nasional.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Kanada siapkan kemitraan baru dengan EU, bukan keanggotaan

Baca juga: Kanada upayakan jadi anggota luar biasa Uni Eropa

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |