Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, di RS Haji Medan, Sumatra Utara(DOK BGN)
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, meninjau langsung kondisi anak korban keracunan makanan yang dirawat intensif di Rumah Sakit Haji Medan, Sumatra Utara. Dalam kunjungannya, Sudaryono meluapkan kekecewaan dan kemarahannya atas kelalaian pihak penyedia makanan yang dinilai mengancam nyawa anak-anak.
Insiden ini merupakan buntut dari kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo seusai mengonsumsi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8). Salah satu korban dengan kondisi yang cukup parah harus dirujuk ke RS Haji Medan dan telah menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) selama tiga hari berturut-turut.
"Ini enggak hanya masalah saja, ini masalah nyawa seseorang. Kau bayangkan itu adikmu, kau bayangkan itu anakmu. Perasaan saya hari ini antara sedih dan marah. Saya tidak butuh angka keracunan menurun, saya butuhnya nol keracunan. Satu orang pun tidak boleh ada yang keracunan," tegas Sudaryono saat ditemui di RS Haji Medan, Minggu (16/8).
Merespons kelalaian fatal ini, BGN telah menjatuhkan sanksi berat. Dapur yang bertanggung jawab di wilayah tersebut langsung disuspensi. Lebih jauh, Sudaryono juga merekomendasikan pemecatan tidak hormat terhadap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). BGN juga menyerahkan sepenuhnya investigasi kasus ini kepada pihak berwajib.
IKAN 12 JAM TANPA FREEZER
Berdasarkan temuan sementara, keracunan dipicu oleh penanganan bahan baku yang sangat buruk. Terdapat sekitar 200 hingga 300 ekor ikan basah yang tidak dimasukkan ke dalam freezer, melainkan dibiarkan di tempat terbuka dengan suhu ruangan selama lebih dari 12 jam sebelum diolah.
"Kelalaian ada pada pengolahan. Ikan basah kok ditaruh di suhu ruangan lebih dari 12 jam, itu kan mohon maaf, suatu kebodohan. Ini peringatan bagi 27.000 kepala dapur di seluruh Indonesia. Kalau merasa tidak mampu jadi kepala dapur atau chef, mundur saja! Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan begini," ujar Sudaryono dengan geram.
DITANGGUNG PEMPROV
Terkait perkembangan medis, tim dokter RS Haji Medan melaporkan bahwa kondisi korban sudah berangsur membaik jika dibandingkan dengan saat pertama kali masuk. Dokter saat ini menerapkan prosedur pengosongan lambung serta memberikan antibiotik dan pereda nyeri untuk mengeluarkan racun dari tubuh pasien.
Sementara itu, seluruh biaya perawatan korban telah dijamin oleh program Universal Health Coverage (UHC) yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sumut. Sudaryono memberikan apresiasi kepada Gubernur Sumut Bobby Nasution, serta pemerintah daerah setempat atas jaminan kesehatan tersebut.
"Saya ucapkan terima kasih kepada Gubernur Bobby, juga Wali Kota dan Pemda di Sumut dan Karo atas program UHC-nya. Tapi manakala nanti ada yang tidak di-cover, tolong kasih tahu saya. Pokoknya saya butuh semua yang sakit ini segera sehat. Saya berharap satu dua hari ini anak kita bisa segera dipindah ke ruang perawatan biasa," pungkas Sudaryono.

















































