Kalajengking Terbesar Hidup di Inggris 415 Juta Tahun Lalu

1 day ago 2

PARA peneliti mengungkap keberadaan kalajengking terbesar yang pernah diketahui hidup di Bumi sekitar 415 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Inggris. Temuan terbaru menunjukkan predator purba tersebut dapat tumbuh hingga sekitar 1 meter dan memiliki capit sepanjang sekitar 16 sentimeter.

Dalam studi terbaru, peneliti mengidentifikasi fosil misterius berusia 415 juta tahun sebagai spesies kalajengking purba bernama Praearcturus gigas. Ukuran tubuhnya dinilai luar biasa karena pada masa itu sebagian besar hewan darat masih berukuran kecil.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Makhluk tersebut diperkirakan merupakan predator puncak yang berkeliaran di dataran banjir pada awal Periode Devon, ketika kehidupan di darat masih berada pada tahap awal perkembangan dan sebagian besar didominasi artropoda kecil.

Penulis utama studi Richard Howard mengatakan identifikasi baru tersebut mengubah pemahaman ilmuwan mengenai evolusi kalajengking purba berukuran raksasa.

“Memastikan bahwa hewan ini adalah kalajengking secara fundamental mengubah pemahaman kita tentang bagaimana dan kapan makhluk-makhluk ini berevolusi hingga mencapai ukuran luar biasa seperti itu,” kata Howard, dikutip dari laporan Live Science, Sabtu, 6 Juni 2026.

Fosil P. gigas pertama kali didokumentasikan sejak 1870-an dari sejumlah lokasi di Inggris dan Wales. Namun, selama lebih dari satu abad para ilmuwan masih memperdebatkan jenis hewan yang sebenarnya diwakili fosil tersebut. “Praearcturus telah membingungkan kami para paleontolog selama lebih dari satu abad,” ujar salah satu penulis studi, Russell Garwood.

Pada awalnya, peneliti menduga fosil itu berasal dari krustasea besar mirip kutu kayu. Kemudian pada 1980-an muncul dugaan bahwa fosil tersebut sebenarnya merupakan kalajengking, tapi interpretasi itu diperdebatkan karena kondisi fosil yang terfragmentasi dan tidak ditemukannya ekor khas kalajengking.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Palaeontology, tim peneliti kembali memeriksa spesimen penting menggunakan teknik pencitraan dan analisis modern. Mereka juga membandingkan fosil tersebut dengan material lain serta hewan prasejarah yang lebih pasti diidentifikasi sebagai kalajengking.

Hasil analisis menunjukkan bahwa P. gigas kemungkinan besar memang merupakan spesies kalajengking. Tim peneliti juga mengklasifikasikan ulang sejumlah spesimen lain dari formasi geologi yang sama sebagai bagian dari spesies tersebut.

Peneliti turut menemukan indikasi bahwa hewan ini kemungkinan menjalani kehidupan semiakuatik. Kesimpulan itu didasarkan pada keberadaan struktur mirip lipatan yang disebut epimera, yang menyerupai bagian penopang dan pelindung cangkang keras pada lobster dan kepiting.

“Tanpa ekosistem kompleks yang dapat menopang Praearcturus di darat, hewan-hewan ini kemungkinan menghabiskan sebagian hidup mereka untuk berburu di air,” kata Howard.

Menurut peneliti, kehidupan semiakuatik kemungkinan membantu menjelaskan ukuran tubuh raksasa kalajengking tersebut karena lingkungan perairan mampu menopang tubuh besar. Minimnya persaingan dengan predator darat besar lainnya juga diduga memungkinkan spesies itu berkembang menjadi jauh lebih besar dibanding kerabat modernnya.

“Dengan menggabungkan material dari beberapa koleksi dan menggunakan teknik pencitraan mutakhir, kami dapat membangun gambaran yang lebih jelas tentang hewan ini dibanding sebelumnya, dan itu sangat menarik,” kata Garwood.

“Yang membuat Praearcturus sangat menarik adalah karena ia tumbuh menjadi sangat besar pada masa ketika kehidupan di darat umumnya masih sangat kecil. Namun, ternyata, itu adalah dunia yang entah bagaimana mampu mendukung keberadaan predator raksasa,” ucapnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |