Iran Jatuhkan 30 Drone MQ-9 Reaper AS, Ketegangan Menyala

2 weeks ago 14
Iran Jatuhkan 30 Drone MQ-9 Reaper AS, Ketegangan Menyala (Al Jazeera)

KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas setelah seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Iran menjatuhkan sekitar 30 drone MQ-9 Reaper milik militer Amerika sejak awal pecahnya konflik. Pengumuman ini muncul pada Rabu (8/7/2026) waktu setempat, di tengah eskalasi serangan udara yang terus berlanjut.

Drone MQ-9 Reaper, yang mulai beroperasi di Angkatan Udara AS sejak 2007, merupakan tulang punggung operasi kontraterorisme di Timur Tengah. Pesawat tanpa awak ini mencerminkan ketergantungan militer AS yang semakin besar terhadap teknologi nirawak sejak perang di Irak dan Afganistan.

Meskipun dirancang untuk beroperasi di wilayah dengan dominasi udara penuh, keunggulan Reaper kini berulang kali ditantang oleh pertahanan udara Teheran. Media pemerintah Iran mengeklaim telah menjatuhkan satu Reaper saat serangan AS pada Selasa, dan kembali melaporkan jatuhnya drone di wilayah selatan Iran pada Rabu.

Penjelasan Centcom

AS kembali melancarkan gelombang serangan udara terhadap Iran pada Rabu (8/7), menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan berakhirnya gencatan senjata yang selama ini rapuh. Dalam operasi militer ini, drone MQ-9 Reaper muncul sebagai aset paling krusial bagi Angkatan Udara AS.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban atas agresi Iran terhadap pelayaran komersial dan kru sipil di jalur perairan internasional yang vital. "Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak dapat dibenarkan baru-baru ini," tulis Centcom melalui pernyataan resmi di platform X.

Reaper: Pemain Paling Berharga di Medan Perang

Jenderal Kenneth Wilsbach, perwira tinggi Angkatan Udara AS, menyebut MQ-9 Reaper sebagai Most Valuable Player (MVP) dalam perang melawan Iran. Dalam dengar pendapat anggaran bersama anggota dewan pada Mei lalu, ia menegaskan efektivitas platform tanpa awak ini.

"Kami telah melakukan banyak sekali serangan menggunakan drone ini. Tidak ada platform lain yang kemampuannya mendekati Reaper," ujar Wilsbach.

Ironisnya, pengakuan atas kehebatan Reaper itu muncul saat lini produksinya justru berakhir. Angkatan Udara AS mengumumkan kontrak pembelian lima tahun terakhir untuk Reaper pada 2020. Produsen General Atomics menutup lini produksi tahun lalu setelah menyelesaikan unit ke-575.

Menurut juru bicara General Atomics, C. Mark Brinkley, lot terakhir drone ini dibanderol dengan harga sekitar US$16 juta (sekitar Rp260 miliar) per unit jika dibeli dalam paket berisi empat unit.

Kerugian Aset Udara AS

Meski Reaper menjadi andalan, Iran mengeklaim berhasil menjatuhkan satu drone tersebut dalam serangan pada Selasa. Media pemerintah Iran juga melaporkan jatuhnya drone lain di wilayah selatan Iran pada Rabu.

Konflik yang terus memanas ini memakan banyak korban aset udara AS. Berikut catatan kerugian pesawat AS dalam beberapa bulan terakhir:

Waktu Jenis Pesawat Insiden
Maret 3 Unit F-15 Salah tembak oleh pertahanan udara Kuwait; kru selamat.
Maret KC-135 Refueling Tabrakan di udara di Irak Barat; 6 kru tewas.
April F-15 Ditembak jatuh oleh api Iran; pilot dan petugas senjata berhasil diselamatkan.
April A-10 Thunderbolt II Terkena tembakan Iran saat misi penyelamatan; jatuh di Kuwait, pilot selamat.

Situasi di kawasan tetap tegang seiring dengan berlanjutnya aksi saling balas serangan antara kedua belah pihak, yang semakin menjauhkan harapan akan stabilitas di jalur perdagangan internasional tersebut.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |