Iran Berupaya Perbaiki Ekonomi

2 weeks ago 22
Iran Berupaya Perbaiki Ekonomi Iran.(Freepik)

TIGA pekan setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menandatangani nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata, situasi keamanan di kawasan masih jauh dari stabil.

Ketegangan yang terus berlanjut memicu kekhawatiran bahwa proses pemulihan ekonomi Iran akan membutuhkan waktu panjang, bahkan jika perdamaian permanen berhasil dicapai.

Dalam dua hari terakhir, tiga kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Insiden itu terjadi ketika Teheran dan Washington dijadwalkan kembali memulai perundingan yang dimediasi pihak ketiga untuk mengakhiri konflik, setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Konflik kembali meningkat pada Rabu (8/7) ketika militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah di Iran selatan. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama militer reguler Iran menembakkan rudal dan drone yang menargetkan kepentingan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.

Kedua negara saling menuduh pihak lawan telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disepakati bulan lalu. Meski terdapat harapan bahwa sanksi internasional terhadap Iran suatu saat dapat dicabut apabila kesepakatan damai tercapai, para ekonom menilai kondisi ekonomi negara itu tidak akan pulih dalam waktu singkat.

Selama bertahun-tahun, Iran menghadapi tekanan akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari salah urus pemerintahan, praktik korupsi, sanksi ekonomi Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hingga dampak dua perang dalam setahun melawan Amerika Serikat dan Israel. Situasi tersebut diperparah oleh gelombang demonstrasi nasional yang mematikan pada Januari lalu serta pemadaman internet berkepanjangan.

Inflasi Tertinggi dalam Puluhan Tahun

Data terbaru dari Pusat Statistik Iran menunjukkan tekanan ekonomi semakin berat. Pada bulan Khordad, bulan ketiga dalam kalender Persia yang berakhir pada 21 Juni, tingkat inflasi tahunan mencapai 88,6%, meningkat hampir 6% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi sejak Perang Dunia II, ketika Iran mengalami krisis pangan akibat pendudukan Sekutu. Kenaikan harga paling tajam terjadi pada kelompok bahan pangan. Inflasi pangan mencapai hampir 134% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga minyak goreng dan lemak melonjak lebih dari 278%, sementara harga daging merah dan unggas naik lebih dari 178%. Adapun harga roti dan berbagai produk serealia meningkat hampir 139%. Lonjakan harga tersebut terus menggerus daya beli masyarakat dan mendorong semakin banyak warga jatuh ke jurang kemiskinan.

Pasar Kerja Masih Lemah

Di sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran resmi tercatat 7,5% pada tahun kalender berjalan. Namun, tingkat partisipasi angkatan kerja hanya sekitar 40%, menunjukkan sebagian besar penduduk usia produktif tidak tercatat dalam pasar tenaga kerja formal. Kelompok ini mencakup mahasiswa, pensiunan, pekerja sektor informal, hingga masyarakat yang sudah tidak lagi aktif mencari pekerjaan.

Kualitas lapangan kerja pun menjadi sorotan. Lebih dari 38% pekerja formal bekerja lebih dari 49 jam setiap pekan, sementara tingkat pengangguran di kalangan anak muda masih berada di atas 20%.

Di sisi lain, nilai upah minimum bulanan hanya setara sekitar 95 dolar AS berdasarkan kurs pasar bebas di Teheran. Nilai tukar rial terus melemah hingga mencapai sekitar 1,75 juta rial per dolar AS, mendekati rekor terendah sepanjang sejarah sebesar 1,9 juta rial yang sempat terjadi pada Mei lalu.

Ekonomi Tertekan Akibat Perang

Keterbatasan anggaran membuat pemerintah Iran hanya mampu memberikan bantuan sosial berupa subsidi tunai bernilai beberapa dolar setiap bulan, ditambah kupon elektronik untuk membeli kebutuhan pokok. Laporan Bank Sentral Iran yang dirilis pada akhir Juni menunjukkan kondisi ekonomi semakin memburuk.

Produk domestik bruto (PDB) pada tahun kalender yang berakhir 20 Maret tercatat mengalami kontraksi 0,7%. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (indikator penting yang mencerminkan investasi dan kapasitas produksi) anjlok hampir 12%.

Aktivitas perdagangan luar negeri juga mengalami penurunan. Nilai impor turun 16,6%, sedangkan ekspor berkurang hampir 5%. Kerusakan akibat hampir 40 hari pemboman, pemadaman internet nasional terpanjang yang pernah diterapkan pemerintah Iran, serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran selatan semakin memperberat tekanan terhadap perekonomian nasional.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan ekonomi Iran akan kembali menyusut sekitar 6,1% sepanjang 2026. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai peluang pemulihan tetap terbuka apabila situasi keamanan benar-benar membaik. Ekonom senior Institut Studi Ekonomi Internasional Wina, Mahdi Ghodsi mengatakan sebagian besar kehilangan lapangan kerja yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir berpotensi dipulihkan apabila eskalasi militer benar-benar berhenti.

"Dalam hal itu, beberapa PHK sementara di sektor jasa, ritel, transportasi, konstruksi, dan usaha kecil dapat dibalikkan relatif cepat, karena kegiatan-kegiatan ini sangat sensitif terhadap ketidakpastian dan gangguan, bukan terhadap kapasitas produktif yang hancur," katanya kepada Al Jazeera.

Menurut Ghodsi, pemulihan akan lebih cepat apabila jalur transportasi kembali beroperasi normal, pasokan energi menjadi stabil, sistem internet dipulihkan, serta layanan pembayaran dapat kembali berfungsi secara optimal.

Meski demikian, para analis menilai proses pemulihan ekonomi Iran tetap akan menjadi tantangan besar. Dampak perang, tingginya inflasi, lemahnya investasi, serta sanksi yang masih membayangi diperkirakan akan terus membatasi laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan. (Al Jazeera/Fer/P-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |