Intervensi Pre-Myopia Kunci Cegah Komplikasi Mata Anak

4 hours ago 1
Intervensi Pre-Myopia Kunci Cegah Komplikasi Mata Anak Ilustrasi(magnific)

PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jakarta menekankan bahwa fase pre-myopia merupakan waktu krusial bagi orang tua untuk melakukan intervensi pada anak. Langkah ini dinilai paling efektif untuk mencegah perkembangan rabun jauh yang lebih parah di masa depan.

Ketua Perdami Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa pre-myopia adalah kondisi di mana ukuran refraksi mata anak mulai mendekati ambang miopia. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko tinggi berkembang menjadi rabun jauh yang progresif.

"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka risiko terjadinya komplikasi penglihatan di masa depan akan semakin besar," ujar dr. Julie dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Tren Miopia pada Anak di Bawah Tujuh Tahun

Dalam forum Meet The Expert 2026 yang digelar Minggu (12/7), dr. Julie mengungkapkan temuan mengkhawatirkan mengenai pergeseran usia penderita miopia. Saat ini, kasus rabun jauh semakin banyak ditemukan pada anak-anak berusia di bawah tujuh tahun. Semakin dini miopia muncul, maka semakin cepat pula tingkat keparahannya berkembang.

Tanpa manajemen yang tepat, miopia dapat berkembang menjadi high myopia hingga pathologic myopia. Kondisi ini membawa risiko komplikasi serius yang dapat menurunkan kualitas penglihatan secara permanen, antara lain:

Jenis Komplikasi Dampak pada Mata
Stafiloma Posterior Pelebaran atau penonjolan bola mata bagian belakang.
Myopic Maculopathy Kerusakan pada makula (pusat penglihatan).
Foveoschisis Pemisahan lapisan retina pada area fovea.
Gangguan Saraf Optik Kerusakan saraf yang mengirimkan sinyal visual ke otak.

Faktor Risiko dan Perubahan Pola Hidup

Selain faktor genetik dan etnis Asia, dr. Julie menyoroti perubahan gaya hidup sebagai pemicu utama ledakan kasus miopia. Beban belajar yang tinggi membuat waktu bermain di luar ruangan berkurang, sementara durasi menatap layar (screen time) dan aktivitas jarak dekat semakin intensif.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, menyatakan komitmennya untuk berkolaborasi dengan Perdami dalam memperkuat edukasi deteksi dini. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam menangani miopia pada generasi muda.

"Peningkatan penggunaan perangkat digital dan berkurangnya aktivitas luar ruangan menjadi faktor pendorong percepatan miopia," kata Dailami. (Ant/Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |