Inovasi BRIN untuk Perlintasan KA: Pelat Karet Anti-Slip

2 hours ago 1

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan Rubber Crossing Plate (RCP), pelat perlintasan berbahan dasar karet, untuk menggantikan material konvensional pada infrastruktur, seperti beton dan aspal. Inovasi ini diperkenalkan di tengah upaya peningkatan keselamatan transportasi, terutama setelah insiden tubrukan kereta api di Bekasi Timur pada April lalu.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN Ade Sholeh Hidayat mengatakan berbagai kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya dipicu faktor manusia, tapi juga kondisi teknis lintasan yang belum optimal. Permukaan yang tidak rata, licin saat hujan, hingga getaran tinggi berisiko membuat kendaraan tersangkut atau kehilangan kendali di atas rel. Perlintasan itu dibangun dengan sejumlah material konstruksi, seperti kayu, beton, maupun baja.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Oleh karena itu dari sifat mekanik bahan-bahan tersebut itu tentu banyak sekali kelemahannya,” kata Ade dalam acara diskusi di kantor BRIN BJ Habibie, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Material-material konstruksi di perlintasan sebidang rentan bergeser akibat lalu lintas kendaraan maupun getaran besar dari kereta api. Getaran dari beban kereta maupun kendaraan besar seperti truk dan bus turut merusak area perlintasan.

Berkaca dari masalah itu, Ade dan timnya mencari ide mengenai material yang lebih fleksibel, serta bisa menyerap getaran. “Material yang kami desain harus memenuhi kesesesuaian dengan kondisi Indonesia yang tropis dan lembab,” tuturnya.

Karet Alam Peredam Benturan

Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi BRIN kini mengembangkan teknologi RCP. Proyek itu sudah memasuki tahap kesiapan implementasi. Menurut Ade, RCP dibuat dari karet alam yang dipadukan dengan aditif kompatibiliser dan filler khusus.

Kombinasi material itu menghasilkan pelat perlintasan yang elastis, mampu meredam getaran tinggi, tahan terhadap beban statis maupun dinamis, serta memiliki ketahanan terhadap cuaca ekstrem, korosi, dan keausan.

Ade menambahkan, permukaan RCP yang presisi dan anti-slip menciptakan lintasan lebih rata dan stabil sehingga mengurangi risiko kendaraan tergelincir maupun tersangkut di rel. Kemampuan material dalam meredam getaran juga dinilai mampu meningkatkan kontrol kendaraan saat melintas serta menurunkan tingkat kebisingan di sekitar perlintasan.

“Pengembangan RCP dilakukan melalui rekayasa komposit elastomer dan mineral dengan optimasi rasio campuran antara karet dan aditif,” tutur Ade. Produk tersebut, dia meneruskan, juga telah melalui berbagai pengujian seperti uji statis, fatigue, getaran, kebisingan, hingga ketahanan lingkungan terhadap sinar UV, air, dan suhu ekstrem.

Urgensi Teknologi di Palang Kereta

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN Eka Rakhman Priandana mengatakan sistem kelistrikan juga berperan penting dalam mendukung persinyalan kereta agar tetap berfungsi optimal. Dia menyarankan pemasangan Uninterruptible Power Supply (UPS) agar sistem palang pintu dan sirine bisa tetap menyala saat terjadi pemadaman listrik. Sistem keamanan itu juga bisa diperkuat dengan akal imitasi (AI).

“Saran kami untuk ke depannya, perkuat sistem persinyalan kereta api berbasis AI dan tambahkan sensor,” kata Eka. Dia juga mengungkit soal urgensi pemasangan axle counter atau penghitung gandar—sistem persinyalan sepur untuk memastikan status jalur rel terisi atau kosong pada segmen tertentu.

Dalam artikel premium Tempo: “Seperti Apa Cara Kerja Teknologi Keselamatan Kereta Api”, Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, posisi kereta di jalur diterjemahkan menjadi perintah sinyal. Sistem persinyalan di lintas Jatinegara–Cikarang, sebagai contoh, merupakan blok terbuka (open block). Gangguan pada salah satu armada di jalur akan otomatis memicu sinyal berhenti bagi kereta di belakangnya.

“Mekanisme ini menjadi garis pertahanan paling dasar untuk mencegah tabrakan dari belakang (rear-end collision),” katanya kepada Tempo.

Meski begitu, sistem keamanan di sepur konvensional masih bergantung pada respons masinis. Ketika sinyal merah tidak direspons oleh masinis, potensi tabrakan tetap terbuka. Saat ini, kata dia, operasi KRL dan kereta jarak jauh masih berada pada Grade of Automation 0 (GoA 0) atau tingkat otomatisasi nol. Artinya, pembacaan sinyal, kendali laju, sampai pengereman masih bergantung pada manusia.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |