IESR: Insentif Motor Listrik Rp3 Juta Terlalu Kecil

4 hours ago 5
 Insentif Motor Listrik Rp3 Juta Terlalu Kecil ilustrasi(Antara)

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai langkah pemerintah memberikan insentif untuk motor listrik sudah tepat. Namun, besaran dan desain insentif tersebut perlu dirancang lebih efektif guna mendorong adopsi kendaraan listrik secara masif di Indonesia.

Direktur Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menekankan pentingnya pemerintah menetapkan besaran insentif berdasarkan dampak jangka panjang yang ingin dicapai. Saat ini, pemerintah menetapkan insentif pembelian motor listrik sebesar Rp3 juta per unit, lebih rendah dari rencana awal Rp5 juta, dengan total anggaran Rp3 triliun untuk target 1 juta unit produksi dalam negeri.

"Berdasarkan analisis IESR, besaran insentif Rp3 juta masih perlu ditinjau kembali karena berpotensi terlalu kecil untuk mendorong peralihan secara signifikan," ujar Deon di Jakarta, Senin (25/8).

Risiko Insentif Terlalu Rendah

Deon menjelaskan bahwa insentif yang memadai sangat krusial untuk meningkatkan daya tarik ekonomi bagi konsumen. Sebaliknya, insentif yang terlalu kecil berisiko gagal mengatasi kesenjangan harga antara motor BBM dan listrik, sehingga anggaran negara tidak menghasilkan tingkat peralihan yang optimal.

Pemodelan IESR menunjukkan efektivitas kebijakan akan meningkat jika insentif diperbesar dan dikombinasikan dengan kebijakan disinsentif. Misalnya, dengan insentif pembelian Rp5 juta ditambah Rp3 juta untuk skema tukar tambah (trade-in), serta kenaikan harga Pertalite mendekati harga keekonomian, adopsi motor listrik diprediksi bisa bertambah 810 ribu unit dibandingkan skenario biasa (BAU) pada 2030.

Manfaat Ekonomi bagi Negara dan Pengguna

IESR memaparkan bahwa peralihan satu unit motor BBM ke listrik memberikan manfaat langsung bagi pemerintah sekitar Rp5,6 juta dalam periode sepuluh tahun. Jika faktor non-langsung seperti penghematan devisa, pengurangan polusi, dan nilai karbon dihitung, total manfaatnya bisa mencapai Rp28 juta per kendaraan dalam satu dekade.

Secara makro, jika satu juta motor komuter (jarak tempuh 40 km/hari) beralih ke listrik, konsumsi BBM nasional dapat berkurang antara 250 ribu hingga 365 ribu liter per tahun.

Dari sisi konsumen, motor listrik menawarkan efisiensi biaya operasional yang signifikan:

Jenis Kendaraan Biaya Kepemilikan (Per Km)
Motor Listrik Berbasis Baterai Rp346
Motor BBM Rp506

Penguatan Ekosistem Pendukung

Selain faktor harga, IESR mengingatkan bahwa minat masyarakat juga bergantung pada performa kendaraan dan ketersediaan infrastruktur pengisian atau penukaran baterai. Oleh karena itu, pemerintah disarankan menyusun paket kebijakan komprehensif yang menyasar perbaikan rantai pasok dan penguatan ekosistem pendukung secara menyeluruh.

"Insentif kendaraan listrik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai subsidi pembelian. Jika mampu mempercepat perpindahan dari BBM ke listrik, pemerintah mendapat manfaat pengurangan impor BBM, sementara masyarakat memperoleh biaya mobilitas yang lebih rendah," pungkas Deon. (Ant/E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |