Ilustrasi(Dok Istimewa)
ARM Hospitality sukses menyelenggarakan Gala Premiere film pendek Rumah Kedua pada Jumat (12/6) di salah satu bioskop di Bali. Acara ini menjadi momen bersejarah bagi perusahaan, sekaligus menandai terwujudnya sebuah visi yang telah dipersiapkan selama lima tahun oleh CEO ARM Hospitality, Ronny Soetanto.
Rumah Kedua mengisahkan perjalanan seorang perantau yang meninggalkan kampung halamannya demi mengejar cita-cita, di tengah kondisi sang ayah yang sedang sakit. Melalui cerita yang emosional, film ini menyoroti perjuangan, pengorbanan, serta dilema antara mengejar impian dan menjaga ikatan dengan keluarga—sebuah realitas yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
Film ini lahir dari keyakinan bahwa dunia hospitality memiliki banyak kisah yang sarat nilai kemanusiaan dan layak disampaikan melalui medium perfilman. Gagasan tersebut pertama kali dicetuskan Ronny Soetanto lima tahun lalu sebagai bentuk refleksi terhadap filosofi yang selama ini menjadi fondasi ARM Hospitality.
Visi tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi lintas negara antara ARM Hospitality Indonesia, J.Karpenter Singapore, dan 52 Studios Singapore. Film ini disutradarai oleh Cleve Low dari 52 Studios dan diproduseri oleh Goh Wei Woon dari J.Karpenter.
Lebih dari sekadar karya sinematik, Rumah Kedua menjadi representasi makna hospitality yang sesungguhnya. Melalui judulnya, film ini ingin menyampaikan bahwa sebuah tempat bukan hanya berfungsi sebagai ruang singgah, tetapi juga dapat menjadi rumah yang menghadirkan kenyamanan, kepedulian, serta rasa memiliki bagi setiap orang yang datang.
Dalam sambutannya pada Gala Premiere, Ronny Soetanto mengungkapkan rasa syukur atas terwujudnya mimpi yang telah lama ia simpan.
"Lima tahun lalu saya memiliki impian untuk menghadirkan sebuah cerita yang mampu merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang kami pegang di ARM Hospitality. Hari ini, impian tersebut akhirnya terwujud. Kami berharap Rumah Kedua dapat menginspirasi banyak orang untuk terus mengejar passion tanpa melupakan keluarga, integritas, dan kasih sayang yang menjadi fondasi kehidupan," ujar Ronny Soetanto.
Ia menegaskan bahwa bagi ARM Hospitality, hospitality memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar memberikan pelayanan.
"Hospitality adalah tentang membangun hubungan, menghadirkan kepedulian, dan menciptakan rasa memiliki. Melalui Rumah Kedua, kami ingin menunjukkan bahwa setiap tempat memiliki potensi untuk menjadi rumah kedua bagi siapa pun yang berada di dalamnya."
Menurut Ronny, film ini juga menjadi bukti bahwa industri hospitality memiliki cerita-cerita yang mampu membangun empati dan menyentuh hati masyarakat luas.
"Kami percaya bahwa sebuah cerita memiliki kekuatan untuk menghubungkan manusia. Jika film ini dapat membuat penonton lebih menghargai keluarga, perjalanan hidup, maupun orang-orang di sekitarnya, maka tujuan kami telah tercapai."
Sutradara Rumah Kedua, Cleve Low, mengatakan bahwa sejak awal ia melihat proyek ini sebagai sebuah cerita universal mengenai hubungan antarmanusia.
"Ketika pertama kali mendengar visi ARM Hospitality, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar film tentang hospitality, melainkan kisah mengenai keluarga, pengorbanan, dan pilihan hidup. Kami berusaha menyampaikan cerita yang jujur dan relevan dengan pengalaman banyak orang."
Sementara itu, produser Goh Wei Woon menilai bahwa tema yang diangkat memiliki pesan yang dapat diterima oleh siapa saja.
"Hampir setiap orang pernah berada di persimpangan antara mengejar impian dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga. Rumah Kedua mengangkat dilema tersebut dengan pendekatan yang emosional dan autentik. Kami berharap kisah ini dapat menyentuh hati penonton dari berbagai latar belakang."

Film ini juga membawa filosofi utama ARM Hospitality, yaitu "Hospitality is not about service, it is about commitment, integrity, passion and love." Filosofi tersebut menegaskan bahwa hospitality bukan hanya tentang memberikan pelayanan terbaik, tetapi juga tentang komitmen, integritas, semangat untuk terus berkembang, dan kasih sayang yang diwujudkan dalam setiap interaksi.
Menutup sambutannya, Ronny berharap Rumah Kedua dapat menjadi lebih dari sekadar tontonan.
"Kami ingin film ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga hubungan dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Pada akhirnya, setiap perjalanan hidup selalu membutuhkan sebuah rumah untuk kembali."
Keberhasilan Gala Premiere Rumah Kedua menjadi langkah awal perjalanan film ini untuk menjangkau audiens yang lebih luas. ARM Hospitality berharap karya ini mampu menginspirasi, membangun empati, serta memperkuat kesadaran bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan selalu menjadi bagian penting dalam setiap perjalanan hidup maupun dalam dunia hospitality. (H-2)

















































