Fenomena Ikan Mudik dan Ketahanan Pangan di Anak Sungai Musi

4 hours ago 2

MENJELANG berakhirnya musim hujan, masyarakat di tepian Sungai Musi, terutama di Musi Banyuasin, memiliki penanda alam yang diwariskan turun-temurun. Ketika air sungai mulai surut, arus menjadi lebih tenang, dan gerombolan ikan muncul di sepanjang tebing sungai, warga lokal menyebutnya sebagai musim ikan mudik.

Jenis ikan yang paling sering dikaitkan dengan fenomena ini adalah ikan seluang (Rasbora argyrotaenia) dan ikan lambak (Thynnichthys thynnoides). Saat air mulai turun, kedua jenis ikan tersebut bergerak dalam jumlah besar mengikuti alur sungai dan menjadi sumber pangan sekaligus penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Fenomena ini bukan tradisi yang diciptakan manusia, melainkan peristiwa ekologis yang telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sungai. Namun, seperti banyak fenomena alam lainnya, musim ikan mudik kini tidak lagi sama seperti dulu.

Menurut Yuliana, warga Sekayu, Musi Banyuasin, jumlah ikan yang muncul saat musim mudik saat ini jauh berkurang dibandingkan masa lalu. Dalam sehari, masyarakat hanya mampu memperoleh sekitar 30 hingga 50 kilogram ikan dari hasil menangkul. "Itu juga kebanyakan ikan lambak. Kalau ikan seluang sekarang sudah tidak terlalu banyak lagi," kata Yuliana kepada Tempo, Selasa, 9 Juni 2026.

Ia mengatakan keberadaan ikan seluang yang dahulu mendominasi tangkapan kini semakin jarang. Sebaliknya, ikan lambak lebih banyak ditemukan. Bahkan sebagian hasil tangkapan terpaksa dibuang karena tidak memiliki nilai jual yang baik. "Tidak laku dijual dan kalau dimasak rasanya kurang disukai," ujarnya.

Sungai sebagai Kalender Alam

Bagi generasi tua di Musi Banyuasin, sungai bukan sekadar sumber air dan jalur transportasi. Sungai adalah kalender alam yang memberi petunjuk tentang pergantian musim. Seperti Masning, 65 tahun, warga Desa Ngunang, Kecamatan Sanga Desa, yang mengatakan kalau orang-orang tua dahulu membaca perubahan musim dari warna air, arah arus, hingga perilaku ikan.

Di wilayah Sanga Desa, Sekayu, dan sejumlah anak Sungai Musi lainnya, masyarakat mengenal masa ketika ikan bergerak berkelompok menuju hulu. Pergerakan itu dikenal sebagai ikan mudik. Gerombolan ikan biasanya berenang rapat di sepanjang tepian sungai sehingga mudah ditangkap menggunakan tangkul atau tangguk sebagai alat tangkap sederhana.

Fenomena tersebut umumnya terjadi ketika debit air mulai turun setelah musim hujan. Warga berbondong-bondong ke tepi sungai bukan untuk memancing, melainkan menunggu gerombolan ikan melintas. "Kalau ikan sudah mudik, orang kampung tahu waktunya mencari ikan," kata Masning.

Menurut dia, pada masa lalu musim ikan mudik bahkan dapat terjadi dua kali dalam setahun. Warga akan menyiapkan tangkul dan alat tangkap sederhana lainnya, lalu menunggu di tepi sungai sejak pagi hingga sore. "Dulu sekali angkat tangkul bisa dapat satu ember besar ikan atau satu pikul (100 kilogram)," ujarnya.

Lebih dari Sekadar Tangkapan

Di masa lalu, musim ikan mudik memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar melimpahnya hasil tangkapan. Fenomena ini menjadi bagian penting dari sistem ketahanan pangan masyarakat sungai. Sebagian ikan hasil tangkapan langsung dikonsumsi sebagai lauk sehari-hari. Sebagian lainnya diolah menjadi pindang, diasinkan menjadi pundang, atau difermentasi menjadi pede dan bekasam agar dapat disimpan lebih lama.

Di tengah keterbatasan akses pangan dan belum adanya teknologi penyimpanan modern, musim ikan mudik menjadi cara alam menyediakan cadangan pangan bagi masyarakat sepanjang tahun. Fenomena ini juga mencerminkan kondisi kesehatan ekosistem sungai. Dalam kajian ekologi perairan, migrasi ikan menjadi indikator masih berfungsinya konektivitas antara sungai utama, anak sungai, dan rawa banjiran.

Keterhubungan habitat tersebut memungkinkan ikan bermigrasi untuk mencari makan, berkembang biak, dan menyelesaikan siklus hidupnya. Ketika jalur-jalur air tetap terhubung, populasi ikan dapat bertahan dan beregenerasi secara alami.

Ketika Sungai Berubah

Namun, Yuliana mengakui musim ikan mudik kini tidak lagi semeriah beberapa dekade lalu. Banyak nelayan tradisional menyebut jumlah ikan yang melintas semakin sedikit dan waktu kemunculannya semakin sulit diprediksi. "Karena kondisi perubahan iklim ya?" kata dia bertanya-tanya.

Perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya tekanan terhadap ekosistem Sungai Musi. Aktivitas transportasi sungai, perubahan tata guna lahan, sedimentasi, serta berkurangnya habitat alami ikan diduga turut mempengaruhi keberlanjutan populasi ikan.

Di sisi lain, perubahan iklim juga berdampak kepada pola curah hujan dan tinggi muka air sungai. Ketika musim hujan datang lebih lambat atau berlangsung lebih ekstrem, siklus alami yang selama ini menjadi penanda migrasi ikan ikut berubah.

Akibatnya, masyarakat yang selama puluhan tahun mengandalkan pengetahuan lokal untuk membaca musim mulai kesulitan memperkirakan kapan ikan mudik akan datang.

Bertahan di Tengah Perubahan

Meski jumlahnya menurun, fenomena ikan mudik belum sepenuhnya hilang. Setiap tahun, terutama saat pengujung musim hujan, warga Sekayu, Sanga Desa, dan sejumlah desa lain di tepian Musi masih menunggu datangnya musim tersebut. Mereka membentangkan tangkul di tepi sungai dan berharap gerombolan ikan kembali melintas seperti dulu.

Bagi sebagian orang, hasil tangkapan itu mungkin hanya bernilai beberapa kilogram ikan. Namun bagi masyarakat sungai, ikan mudik menyimpan makna yang lebih dalam. Ini merupakan bagian dari ingatan kolektif tentang hubungan manusia dengan sungai yang telah terjalin selama beberapa generasi.

Fenomena ikan mudik mengingatkan bahwa Sungai Musi bukan sekadar jalur transportasi atau sumber ekonomi. Sungai ini juga merupakan ruang hidup bagi beragam spesies ikan dan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada ekosistem perairan.

Selama ikan mudik masih datang setiap tahun, sekecil apa pun jumlahnya, masyarakat masih melihat tanda bahwa Sungai Musi belum sepenuhnya kehilangan daya hidupnya. Sebab jika suatu hari musim ikan mudik tinggal cerita, yang hilang bukan hanya sumber pangan masyarakat, melainkan juga salah satu pengetahuan ekologis tertua yang tumbuh bersama kehidupan di tepian Musi.

"Kalau ikan mudik sudah tidak ada, maka yang tinggal adalah cerita saja kepada anak-anak kami atau generasi kami yang akan datang, kalau dulu di sungai inilah tempat kami menggantungkan hidup," kata Yuli.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |