Ketegangan AS dan Iran kembali membara. Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata telah berakhir setelah kedua negara saling serang.(White House)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah "berakhir". Pernyataan keras ini dilontarkan Trump usai kedua negara kembali terlibat dalam aksi saling serang yang sengit.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela KTT NATO di Turki, Trump menegaskan militer AS telah menggempur Iran dengan sangat keras dan membuka peluang untuk melancarkan serangan lanjutan. Ia menuduh Teheran telah melanggar perjanjian interim (MoU) yang baru ditandatangani pada 17 Juni lalu.
"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, mereka adalah sampah... mereka dipimpin oleh orang-orang sakit dan mereka adalah orang-orang yang kejam serta keras," ujar Trump.
"Kita membuat kesepakatan... Mereka [Iran] keluar, berbicara kepada pers, mereka mengatakan 'kami bahkan tidak pernah membicarakannya'. Ada yang salah dengan mereka. Mereka gila. Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir."
Merespons kecaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan jawaban menohok melalui akun media sosial X miliknya.
"Kami tidak membalas kevulgaran dengan kevulgaran, tetapi dengan tindakan: tanpa rasa takut dan dengan keberanian yang besar," tegas Araghchi.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh serangan Komando Pusat AS (Centcom) terhadap wilayah Bandar Abbas dan Bushehr, yang menewaskan delapan tentara Iran. Serangan itu merupakan respons AS atas gangguan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Tak tinggal diam, Iran membalasnya dengan menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. AS pun langsung membatalkan penangguhan sanksi atas penjualan minyak Iran, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Padahal, MoU 14 poin yang disepakati bulan lalu mengamanatkan penghentian permanen operasi militer dan memberikan waktu 60 hari untuk bernegosiasi. Namun, eskalasi terus terjadi sejak akhir Juni. Proses runding sendiri sempat tertunda karena upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada hari pertama serangan AS-Israel.
Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh AS melanggar kesepakatan terkait sanksi minyak dan melakukan perundungan.
"Era penindasan dan pemerasan telah berakhir. Itu tidak membawa hasil apa pun. Kami tidak akan menyerah," kata Ghalibaf.
Di sisi lain, Sekjen NATO Mark Rutte menilai tindakan militer AS mutlak diperlukan karena Iran telah melanggar gencatan senjata. Meski Trump menyebut kelanjutan negosiasi sebagai tindakan buang-buang waktu, ia tetap menyerahkan keputusan kepada tim negosiasinya, termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner. (BBC/Z-2)

















































