Donald Trump Ancam Gempur Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak

2 weeks ago 15
Donald Trump Ancam Gempur Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak Presiden Amerika Serikat Donald Trump(AFP/SAUL LOEB )

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan kesiapan negaranya untuk melancarkan serangan agresif terhadap Iran menyusul pecahnya kembali pertempuran di Selat Hormuz. Meski melontarkan ancaman keras, Trump menyatakan tetap membuka ruang diplomasi guna menghindari terjadinya perang jangka panjang di kawasan strategis tersebut.

Ketegangan di jalur pelayaran utama dunia ini dipicu oleh aksi militer Iran terhadap kapal-kapal dagang. Langkah Teheran tersebut merupakan respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang melibatkan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Iran kini bersikeras menguasai selat dengan memungut biaya lintas dan mengancam kapal yang menolak ketentuan tersebut.

"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Mereka melanggar kesepakatan setiap hari," ujar Trump sebagaimana dikutip dari AFP.

Meski begitu, ia meyakini konflik ini tidak akan berlarut-larut. "Apa pun yang terjadi akan berakhir sangat cepat. Kami tidak mencari perang jangka panjang," tambahnya.

Eskalasi Militer dan Dampak Global

Konfrontasi fisik meningkat tajam setelah Iran menyerang tiga kapal dagang. AS membalas dengan gempuran besar-besaran pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat. Serangan ini memicu reaksi balasan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menghujani pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain dengan rudal serta drone.

Berikut adalah rincian dampak eskalasi militer berdasarkan laporan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Organisasi Maritim Internasional (IMO):

Kategori Detail Informasi
Sasaran Serangan AS Lebih dari 80 sasaran (termasuk 60 kapal kecil IRGC)
Korban Jiwa 8 personel militer Iran tewas
Dampak Ekonomi Harga minyak dunia melonjak 8%
Krisis Kemanusiaan Hampir 6.000 pelaut terjebak di kawasan Teluk
Wilayah Terdampak Selat Hormuz, Kuwait, dan Bahrain

Upaya Deeskalasi dan Diplomasi

Di tengah kecemasan warga sipil, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan pengendalian diri dari kedua belah pihak. Sementara itu, Pakistan dan Qatar terus mengupayakan jalur deeskalasi melalui komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Ali Vaez, Direktur Proyek Iran pada International Crisis Group, menilai bahwa retorika keras Trump merupakan bagian dari strategi negosiasi. Menurutnya, kedua belah pihak saat ini sedang menggunakan kekuatan militer untuk memperkuat posisi tawar dalam merundingkan rincian nota kesepahaman yang masih ambigu.

"Saya pikir retorika Trump bersifat hiperbolis dan tidak serta merta berarti nota kesepahaman itu telah runtuh. Kedua pihak sedang mencoba merundingkan rincian melalui penggunaan kekuatan karena masih banyak persoalan yang belum terselesaikan," pungkas Vaez. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |