Di Era AI, Siapa yang Sedang Membentuk Anak Kita?

2 days ago 2
Di Era AI, Siapa yang Sedang Membentuk Anak Kita? William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC.Dekan & Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA)(Dok.Pribadi)

"Nak, nanti kalau besar kamu mau jadi apa?"

Pertanyaan itu mungkin telah diucapkan jutaan orang tua Indonesia. Ada yang menjawab ingin menjadi dokter, guru, polisi, atlet, atau bahkan content creator. Jawabannya mungkin berubah seiring waktu. Namun sesungguhnya, pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah anak kita kelak akan menjadi apa, melainkan siapa yang sedang membentuk mereka hari ini.

Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Kita sering berbicara tentang hak anak atas pendidikan, kesehatan, perlindungan, gizi yang seimbang, dan masa depan yang lebih baik. Semua itu sangat penting. Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ada satu ruang yang sering luput dari perhatian: ruang digital.

Hari ini, anak-anak tidak hanya bertumbuh di rumah dan sekolah. Mereka juga bertumbuh di dalam ekosistem digital yang dipenuhi video pendek, media sosial, gim daring, content creator, influencer, dan kini bahkan Artificial Intelligence (AI). Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu. Ia telah menjadi lingkungan baru tempat anak belajar, bermain, berinteraksi, mencari jawaban, bahkan membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Perubahan ini menghadirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, AI membuka akses pengetahuan yang hampir tanpa batas. Anak dapat belajar bahasa asing, memahami konsep sains, membuat musik, menulis cerita, bahkan berdiskusi dengan kecerdasan buatan hanya melalui sebuah telepon genggam. Namun di sisi lain, teknologi juga bersaing memperebutkan sesuatu yang sangat berharga: perhatian.

Di era digital, perhatian adalah mata uang baru. Attention Economy. Siapa yang mampu mempertahankan perhatian paling lama, dialah yang memiliki peluang terbesar memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak. Karena itu, pertanyaan yang paling penting bagi orang tua bukan lagi, "Berapa lama anak saya menggunakan gawai?" melainkan, "Siapa yang paling banyak membentuk perhatian anak saya?" Sebab siapa yang membentuk perhatian anak hari ini, dialah yang perlahan sedang membentuk masa depannya.

Ketika Hiburan Menjadi Guru Utama

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika kami melakukan penelitian terhadap 900 siswa SMP dan SMA di Kota Tangerang. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata lima hingga enam jam setiap hari menggunakan internet. Namun yang lebih menarik bukanlah durasinya, melainkan tujuan penggunaannya.

Sebagian besar menggunakan internet untuk hiburan (43,4%), disusul media sosial (35,7%) dan bermain gim (14,9%). Hanya sekitar 6% yang menjadikan belajar sebagai tujuan utama.

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden telah berada pada tingkat penggunaan internet yang memerlukan perhatian, sementara sekitar sepertiga berada pada kategori kecanduan smartphone tingkat sedang. Gejala ini mulai berkaitan dengan menurunnya konsentrasi belajar dan kecenderungan lebih memilih interaksi virtual dibandingkan interaksi tatap muka.

Temuan tersebut tidak berdiri sendiri. Berbagai laporan internasional, termasuk dari World Health Organization (WHO), menunjukkan kecenderungan yang serupa: penggunaan media sosial yang bermasalah di kalangan remaja terus meningkat di berbagai negara.

Jika dirata-ratakan, lima hingga enam jam setiap hari berarti seorang remaja menghabiskan sekitar empat puluh jam setiap minggu di dunia digital—hampir setara dengan jam kerja penuh orang dewasa. Empat puluh jam. Bayangkan seorang guru mengajar anak kita selama empat puluh jam setiap minggu. Kita tentu ingin tahu siapa gurunya, apa nilai yang diajarkan, dan bagaimana karakternya. Namun ketika "guru" itu adalah algoritma yang memilih video berikutnya, menyajikan konten berikutnya, dan terus memancing perhatian anak untuk tetap tinggal di depan layar, kita justru sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, tanpa kita sadari, setiap perhatian yang diberikan anak sedang membentuk siapa mereka akan menjadi di masa depan.

Perhatian Membentuk Masa Depan

Mengapa perhatian menjadi begitu penting? Karena perhatian bukan sekadar apa yang dilihat anak setiap hari. Perhatian adalah pintu masuk menuju pembelajaran.

Ilmu saraf menjelaskan bahwa otak memiliki kemampuan untuk terus membentuk dan memperkuat jaringan baru berdasarkan pengalaman yang diulang. Semakin sering sesuatu memperoleh perhatian, semakin kuat jejaknya di dalam otak, neuroplasticity. Apa yang mula-mula hanya menarik perhatian perlahan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan membentuk karakter. Karakter akhirnya membentuk identitas.

Tidak heran jika perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan aplikasi yang membuat pengguna terus kembali. Video diputar otomatis. Notifikasi muncul tanpa henti. Algoritma mempelajari apa yang kita sukai, lalu menyajikan konten yang semakin sulit ditinggalkan. Di era digital, perhatian telah menjadi komoditas yang sangat bernilai.

Persoalannya bukan karena teknologi itu jahat. Teknologi adalah alat, dan seperti alat lainnya, ia dapat digunakan untuk kebaikan maupun sebaliknya. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap teknologi selalu membawa nilai. Apa yang sering kita lihat akan memengaruhi apa yang kita pikirkan. Apa yang terus kita pikirkan akan memengaruhi pilihan yang kita ambil.

Karena itu, tantangan terbesar orang tua saat ini bukan lagi sekadar membatasi screen time. Yang jauh lebih penting adalah mengarahkan perhatian anak kepada hal-hal yang membangun kehidupan. Dengan kata lain, persoalan utamanya bukan berapa jam anak memegang gawai, tetapi siapa atau apa yang paling banyak mengisi isi kepalanya setiap hari.

Dari Screen Time Menuju Digital Maturity

Selama bertahun-tahun, banyak diskusi tentang digital parenting berpusat pada satu pertanyaan: "Berapa lama anak boleh menggunakan gawai?" Menurut saya, pertanyaan itu sudah tidak lagi memadai. Di era AI, teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak belajar, berkomunikasi, berkreasi, bahkan mengeksplorasi minat dan cita-citanya melalui ruang digital. Membatasi teknologi semata bukanlah solusi jangka panjang.

Yang lebih penting adalah membantu anak bertumbuh menjadi pengguna teknologi yang semakin dewasa. Karena itu saya mengembangkan konsep Five Levels of Digital Maturity, sebuah kerangka sederhana untuk melihat bagaimana hubungan anak dengan teknologi dapat berkembang seiring pertumbuhan dirinya.

Perjalanan itu tidak dimulai dari menghasilkan karya. Hampir semua anak memulainya sebagai konsumen. Pada tahap pertama, Consumptive, teknologi digunakan terutama untuk menikmati hiburan. Anak menjadi penonton. Mereka menerima apa pun yang disajikan algoritma. Tidak ada yang salah dengan menikmati hiburan, tetapi jika berhenti di tahap ini, teknologi perlahan mulai mengendalikan perhatian mereka.

Tahap berikutnya adalah Recreative. Anak mulai mencoba, bereksperimen, dan mengekspresikan dirinya. Mereka membuat video sederhana, menggambar secara digital, menulis, atau mengedit konten. Mereka tidak lagi hanya mengonsumsi, tetapi mulai menciptakan. Perjalanan berlanjut menuju Productive. Pada tahap ini teknologi menjadi alat belajar, bekerja, dan menghasilkan karya. Anak menggunakan AI untuk memahami pelajaran, mengembangkan ide, berkolaborasi, atau membangun keterampilan baru. Teknologi tidak lagi sekadar mengisi waktu luang, tetapi membantu mengembangkan potensi. Namun menurut saya, kedewasaan digital tidak berhenti pada produktivitas.

Tahap berikutnya adalah Purposeful. Anak mulai bertanya bukan hanya, "Apa yang bisa saya lakukan dengan teknologi?" tetapi juga, "Untuk tujuan apa saya menggunakan teknologi?" Mereka belajar memilih informasi dengan kritis, menjaga etika digital, dan menggunakan teknologi selaras dengan nilai-nilai yang diyakininya. Puncaknya adalah Transformative. Pada tahap ini teknologi menjadi sarana untuk memberi dampak. Anak tidak lagi sekadar menjadi pengguna yang cerdas, tetapi menjadi pribadi yang menghadirkan solusi, membangun komunitas, berbagi pengetahuan, dan menciptakan manfaat bagi orang lain.

Perhatikan arah pertumbuhan ini. Semakin tinggi tingkat Digital Maturity, semakin kecil fokus anak pada dirinya sendiri, dan semakin besar orientasinya pada kontribusi.Teknologi tidak lagi menjadi tujuan. Teknologi menjadi sarana. Namun pertanyaannya kemudian, apa yang membuat seorang anak mampu bertumbuh dari sekadar konsumen menjadi pribadi yang menggunakan teknologi untuk memberi manfaat? Jawabannya ternyata bukan teknologi itu sendiri. Jawabannya adalah keluarga.

Karena sebelum anak belajar menggunakan teknologi dengan bijaksana, mereka terlebih dahulu belajar mengenal dirinya melalui relasi yang mereka alami setiap hari. Dan di sinilah perjalanan kedua dimulai.

Teknologi Tidak Menggantikan Kehadiran

Di banyak rumah hari ini, pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang asing. Ayah membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan. Ibu membalas pesan di telepon genggam. Anak menonton video di tablet. Mereka berada di ruang yang sama. Namun sesungguhnya, mereka sedang hidup di dunia yang berbeda.  Ironisnya, semakin mudah kita terhubung dengan siapa saja, semakin sulit kita benar-benar hadir bagi orang-orang yang paling dekat dengan kita. Technoferrence. Padahal, bagi seorang anak, kehadiran orang tua jauh lebih penting daripada kecanggihan teknologi.

Saya pernah bertanya kepada anak saya, "Apa yang paling kamu ingat dari masa pandemi COVID-19?"  Saya menduga ia akan menjawab sekolah daring, masker, atau saat tidak bisa pergi ke mana-mana. Ternyata saya keliru. Yang paling ia ingat justru bermain board game bersama keluarga, bermain sepak bola di depan rumah, berjalan pagi bersama, dan membuat video sederhana bersama. Saat itulah saya belajar sebuah pelajaran yang tidak pernah saya lupakan. Anak tidak selalu mengingat apa yang kita katakan. Mereka lebih mengingat bagaimana mereka merasakan kehadiran kita.

Penelitian tentang Attachment Theory telah lama menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan aman menjadi fondasi berkembangnya rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, ketahanan menghadapi tekanan, hingga kualitas relasi ketika dewasa. Di era AI, teori ini justru menjadi semakin relevan. Karena teknologi dapat menyediakan informasi. Tetapi hanya relasi yang mampu membangun identitas.

Dari Kedekatan Menuju Kedalaman

Namun kehadiran saja belum cukup. Keluarga dapat tinggal serumah selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Karena itu saya melihat bahwa relasi keluarga sesungguhnya juga mengalami proses pertumbuhan.

Saya menyebutnya Five Levels of Family Relationship Depth. Tahap pertama adalah Shared Space. Kita berbagi rumah. Berbagi meja makan. Berbagi mobil. Namun sering kali hanya tubuh yang hadir. Pikiran dan perhatian berada di tempat lain. Tahap kedua adalah Shared Conversation. Percakapan mulai terjadi. Bukan hanya pertanyaan rutin seperti, "Gimana tadi di sekolah?" "PR sudah selesai?" Tetapi percakapan yang membuat anak merasa didengar. Didengar tanpa segera dihakimi. Didengar tanpa selalu diberi ceramah.

Tahap ketiga adalah Shared Experiences.Hubungan menjadi semakin dalam ketika keluarga mengalami sesuatu bersama. Bermain. Berolahraga. Memasak. Berlibur. Mengerjakan proyek sederhana. Kenangan bersama sering kali mendidik lebih kuat daripada nasihat yang panjang. Tahap berikutnya adalah Shared Heart. Inilah titik ketika anak mulai berani membuka isi hatinya. Ia tidak lagi hanya menceritakan apa yang terjadi. Ia mulai menceritakan apa yang ia rasakan. Kebingungannya. Ketakutannya. Pertanyaannya. Bahkan keraguan dan kegagalannya. Anak hanya akan melakukan ini ketika ia yakin bahwa rumah adalah tempat yang aman. Namun menurut saya, perjalanan keluarga tidak berhenti sampai di sana. Ada satu tahap yang sering terlupakan. Padahal justru inilah tujuan pengasuhan.

Shared Calling: Tujuan Akhir Pengasuhan 

Saya menyebut tahap kelima ini sebagai Shared Calling. Pada tahap ini, keluarga tidak lagi hanya membicarakan nilai rapor, jurusan kuliah, atau profesi yang dianggap menjanjikan. Percakapan keluarga mulai berubah. Dari, "Nanti mau kerja apa?" menjadi, "Menurutmu, kamu diciptakan untuk menjadi pribadi seperti apa?" Dari, "Berapa gajinya?" menjadi, "Masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan?" Dari, "Kamu ingin sukses di mana?" menjadi, "Kontribusi seperti apa yang ingin kamu tinggalkan?" Menurut saya, inilah puncak pengasuhan. Bukan ketika anak selalu menuruti orang tua. Bukan pula ketika anak diterima di universitas terbaik. Melainkan ketika anak mulai mengenal dirinya, memahami kekuatan yang dimilikinya, menghayati nilai hidup yang ingin dipegang, lalu menemukan bagaimana semua itu dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Orang Tua adalah Career Coach Pertama

Selama lebih dari lima belas tahun meneliti career development, saya semakin yakin bahwa pembentukan identitas karier tidak dimulai ketika siswa kelas XII memilih jurusan kuliah. Ia dimulai jauh lebih awal. Ketika anak bertanya, "Aku sebenarnya seperti apa?" "Mengapa aku senang melakukan ini?" "Apa yang membuatku merasa hidup?" "Apa yang bisa kuberikan kepada orang lain?" Pertanyaan-pertanyaan itu lahir bukan dari ruang kelas. Melainkan dari percakapan-percakapan kecil di meja makan. Dari perjalanan pulang sekolah. Dari pengalaman melayani bersama. Dari kegagalan yang dipeluk, bukan dihakimi. Masa depan anak tidak bisa dibentuk oleh satu percakapan besar, tetapi oleh ribuan teachable moments kecil yang tidak pernah dianggap biasa oleh orang tuanya.

Karena itu saya percaya,orang tua adalah career coach pertama bagi anak. Bukan karena mereka harus mengetahui semua profesi masa depan. AI bahkan mungkin lebih cepat menjelaskan ribuan pekerjaan baru yang belum pernah kita dengar. Tetapi AI tidak mampu menggantikan peran orang tua dalam membantu anak mengenali dirinya. Tugas orang tua bukan menentukan masa depan anak. Tugas orang tua adalah menciptakan ruang agar anak berani mengeksplorasi minatnya, mencoba berbagai pengalaman, merefleksikan pembelajarannya, dan perlahan menemukan arah hidupnya. Anak yang mengenal dirinya akan lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah daripada anak yang hanya mengejar profesi yang sedang populer. Karena pekerjaan akan terus berubah. Teknologi akan terus berkembang. Bahkan AI akan terus berinovasi. Tetapi seseorang yang mengenal dirinya akan selalu mampu belajar, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk berkarya.

Di era AI, mesin dapat membantu anak menjawab, "Profesi apa yang akan berkembang?" "Keterampilan apa yang perlu dipelajari?" Namun hanya keluarga yang dapat mendampingi anak menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting. Siapa saya? Nilai apa yang ingin saya hidupi? Untuk siapa saya berkarya? Kontribusi apa yang ingin saya tinggalkan?

Ketika keluarga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bersama, mereka tidak hanya membangun hubungan yang hangat. Mereka sedang menumbuhkan seorang anak yang suatu hari mampu menggunakan teknologi, talenta, dan seluruh hidupnya untuk menghadirkan kebaikan bagi dunia.

Membesarkan Anak yang Siap Membentuk Masa Depan

Pada Hari Anak Nasional ini, saya percaya bahwa tantangan terbesar orang tua bukanlah menghadapi AI. Tantangan terbesar kita adalah tetap menjadi pengaruh yang paling bermakna di tengah dunia yang penuh pengaruh. Kita tidak mungkin bersaing dengan algoritma dalam hal kecepatan. Kita tidak mungkin mengalahkan AI dalam jumlah informasi. Kita juga tidak mungkin mengawasi setiap video yang ditonton atau setiap percakapan yang dilakukan anak di dunia digital. Namun ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Yaitu kehadiran yang membentuk kehidupan.

AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Namun AI tidak dapat memeluk anak yang sedang kecewa. AI dapat menjelaskan ribuan pilihan karier. Namun AI tidak dapat menolong anak memahami siapa dirinya. AI dapat menghasilkan ribuan ide. Namun AI tidak dapat menanamkan integritas, kasih, empati, keberanian, dan makna hidup. Semua itu tumbuh melalui relasi. Melalui percakapan. Melalui pengalaman hidup bersama. Melalui teachable moments. Melalui keluarga. Karena itu, menurut saya, ukuran keberhasilan parenting di era AI juga perlu berubah. Bukan sekadar bertanya, "Apakah anak saya mahir menggunakan teknologi?" Tetapi, "Apakah anak saya semakin bijaksana menggunakannya?" Bukan hanya, "Apakah anak saya akan memperoleh pekerjaan yang baik?" Tetapi, "Apakah ia mengenal dirinya dan menemukan karya yang menjadi kontribusinya bagi dunia?" Dan bukan hanya,"Apakah anak saya sukses?" Melainkan, "Apakah ia bertumbuh menjadi manusia yang hidupnya membawa berkat bagi orang lain?"

Di sinilah saya melihat Digital Maturity dan Family Relationship Depth akhirnya bertemu. Semakin dewasa anak menggunakan teknologi, semakin besar kesempatan mereka menghasilkan karya. Semakin dalam relasi mereka dengan keluarga, semakin jelas identitas dan nilai hidup yang menjadi kompas dalam berkarya. Ketika keduanya berjalan bersama, teknologi tidak lagi menjadi ancaman.Teknologi menjadi alat. Karakter menjadi pengarah. Dan panggilan hidup menjadi tujuan. Mungkin itulah makna terdalam Hari Anak Nasional. Bukan sekadar membesarkan anak yang mampu mengikuti perubahan zaman. Melainkan mendampingi mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal dirinya, menghidupi nilai-nilai yang diyakininya, menggunakan teknologi dengan bijaksana, dan menghadirkan kontribusi yang membuat dunia menjadi sedikit lebih baik. Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah, "Apakah anak kita siap menghadapi masa depan?" Melainkan, "Apakah kita sedang membesarkan anak yang suatu hari akan ikut membentuk masa depan?"

Sebab warisan terbesar orang tua bukanlah anak yang paling mahir menggunakan teknologi. Warisan terbesar orang tua adalah anak yang mengenal dirinya, menemukan panggilannya, dan menggunakan teknologi untuk menghadirkan kontribusi bagi dunia. Mari berjuang bersama!

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |