Demi Bertahan Hidup, Ratu Lebah Madu Pindahkan Racun Pestisida ke Telurnya

2 weeks ago 17
Demi Bertahan Hidup, Ratu Lebah Madu Pindahkan Racun Pestisida ke Telurnya Ilustrasi(Magnific)

SEBUAH koloni lebah madu biasanya terlihat sebagai salah satu tempat paling teratur di alam. Ribuan lebah pekerja bergerak dalam koordinasi yang erat, saling memberi makan, merawat larva, dan melindungi satu-satunya ratu di pusat sarang. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap dinamika kelam di balik perlindungan tersebut ketika koloni menghadapi ancaman zat kimia.

Selama ini, para ilmuwan berasumsi lebah pekerja berperan penuh sebagai perisai ratu. Mereka disinyalir menyaring kontaminasi dari makanan sebelum menyuapkannya ke sang ratu. Untuk menguji asumsi ini, tim peneliti dari University of California, Davis (UC Davis) membangun sarang buatan mini yang disebut nanokoloni.

Tiap sarang diisi satu ratu dan sekitar 60 lebah pekerja yang diberi makanan bercampur pestisida methyl parathion. Guna melacak pergerakan racun dalam jumlah yang sangat kecil, peneliti menyertakan label radioaktif redup menggunakan alat canggih bernama BioAMS.

Hasilnya mengejutkan. Pada hari pertama, lebah pekerja memang mampu menyaring hingga 95% pestisida. Namun, memasuki hari ke-10, efisiensi penyaringan tersebut merosot hingga 86%, sehingga zat beracun mulai menumpuk di cadangan makanan. Selama periode 10 hari itu, tubuh lebah pekerja menanggung beban pestisida 55 kali lebih banyak daripada ratu.

Ketika sistem pertahanan lebah pekerja mulai kewalahan, pestisida pun mulai menyusup ke dalam tubuh ratu. Di sinilah mekanisme pertahanan mandiri sang ratu aktif melalui fenomena yang disebut maternal offloading.

“Dalam studi kami, pestisida mulai terakumulasi pada ratu seiring berjalannya waktu, menunjukkan bahwa kapasitas filtrasi lebah pekerja dapat kewalahan,” kata Angela Encerrado-Manriquez, penulis utama penelitian ini. “Ketika hal ini terjadi, ratu memiliki pertahanan mereka sendiri. Maternal offloading memungkinkan mereka mengalihkan beban racun ke telur-telur mereka.”

Saat tubuhnya mulai dipenuhi zat kimia, ratu lebah akan mendorong racun tersebut keluar dari jaringan tubuhnya dan memasukkannya langsung ke dalam telur yang sedang berkembang.

“Untuk melindungi dirinya sendiri, ratu lebah membuang bahan-bahan kimia ini ke dalam telurnya untuk menyingkirkannya,” ujar Sascha Nicklisch, penulis senior laporan penelitian sekaligus profesor madya di Departemen Toksikologi Lingkungan UC Davis. “Belum pernah ada orang yang menunjukkan hal ini pada lebah madu sebelumnya.”

Berdasarkan data penelitian, pada hari ke-10, telur lebah mengandung antara 81 hingga 141 ppb pestisida. Angka ini beberapa kali lipat lebih tinggi daripada kadar racun di tubuh sang ratu sendiri.

Meskipun strategi ekstrem ini berhasil menyelamatkan nyawa ratu dalam jangka pendek, koloni lebah harus membayar harga yang sangat mahal. Larva muda belum memiliki sistem pertahanan tubuh seperti lebah dewasa untuk mengurai racun. Telur yang terkontaminasi dosis tinggi berisiko gagal berkembang.

Mengingat lebah madu menyerbuki sekitar sepertiga tanaman pangan dunia, dampak rusaknya generasi penerus ini akan sangat terasa bagi sektor pertanian. Nicklisch memperingatkan bahwa akumulasi kimia yang lambat ini berpotensi menjadi titik kritis yang memicu keruntuhan koloni secara bertahap di masa depan. (Earth/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |