Pengendara melintas di atas aliran sungai yang dipenuhi tumpukan sampah plastik di Kabupaten Sidoarjom Jawa Timur .(MI/Hery Susetyo)
TUMPUKAN sampah hingga saat ini masih menjadi pemandangan yang memprihatinkan di sejumlah sungai di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Kondisi tersebut tidak hanya merusak keindahan lingkungan, tetapi juga mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan.
Salah satu titik yang mengalami persoalan serius ini berada di aliran sungai Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.
Meski pembersihan secara rutin telah dilakukan, sampah kembali menumpuk hanya dalam waktu singkat.
Berbagai limbah mulai dari plastik kemasan, botol minuman, styrofoam, hingga sampah rumah tangga tampak memenuhi aliran sungai dan berpotensi kuat menghambat arus air.
Kondisi ini menyimpan berbagai dampak buruk yang mengancam warga setempat.
Selain meningkatkan risiko banjir saat musim hujan dan mencemari air tanah, tumpukan sampah tersebut juga menimbulkan bau tidak sedap serta menjadi sarang berkembang biaknya berbagai penyakit.
DORONG IMPLEMENTASI 3R
Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Indah Yuliati, menyayangkan masih banyaknya warga yang memilih jalan pintas dengan membuang sampah ke sungai.
Menurutnya, permasalahan ini tidak akan pernah tuntas jika masyarakat belum mengubah perilaku dalam mengelola sampah sehari-hari.
"Mari kita lakukan kegiatan implementasi 3R (reduce, reuse, recycle); mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah, khususnya sampah plastik. Yang harus kita lakukan adalah mengurangi sampah plastik yang ada di lingkungan kita, di rumah kita," ujar Indah, Selasa (7/7).
Indah menjelaskan bahwa sebagian besar sampah yang dibuang sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dipilah dengan benar sejak dari rumah.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan aktivitas nasabah Bank Sampah DLHK Sidoarjo, sudah banyak contoh nyata pemanfaatan limbah anorganik tersebut.
Di antaranya, tutup botol plastik dapat dirangkai menjadi tas belanja yang bernilai estetika atau pot bunga hias.
Selanjutnya, kemasan plastik dan bungkus kopi dapat diolah menjadi ecobrick atau dirajut menjadi tas kreatif, sehingga tidak dibuang sembarangan.
Demikian pula galon bekas yang disulap menjadi berbagai hiasan atau pot tanaman yang bermanfaat agar warga tidak perlu membeli baru.
"Sampah pun tidak lagi menjadi limbah, melainkan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus menjadi langkah penyelamatan bumi," kata Indah sambil menunjukkan beberapa produk kerajinan.
BAHAYA MEMBAKAR SAMPAH PLASTIK
DLHK Kabupaten Sidoarjo juga memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak mengambil jalan pintas dengan membakar sampah plastik maupun kemasan bekas.
Indah menegaskan bahwa pembakaran sampah plastik sangat berbahaya karena melepaskan zat-zat beracun ke udara.
"Jangan dibakar! Karena plastik itu ada kandungan racun dioksin. Gas racun dioksin tersebut sangat membahayakan kesehatan tubuh kita dan lingkungan," tegas Indah.
Oleh karena itu, pihak DLHK Sidoarjo terus mengimbau masyarakat agar beralih ke metode 3R.
Pengurangan sampah melalui pemilahan dari rumah, daur ulang kreatif, serta perubahan perilaku kolektif menjadi kunci utama untuk menjaga sungai di Sidoarjo tetap bersih, sehat, dan bebas banjir. (HS/P-2)

















































