Kaylee Hottle(Dok Instagram)
SOSOK Kaylee Hottle tidak hanya dikenang sebagai pemeran Jia dalam film Godzilla vs. Kong dan Godzilla x Kong: The New Empire. Aktris muda tersebut juga meninggalkan jejak penting sebagai representasi autentik komunitas tuli di industri perfilman Hollywood, berkat kiprahnya yang membuka ruang lebih luas bagi aktor tuli di layar lebar.
Kaylee lahir dalam keluarga tuli multigenerasi dan menggunakan American Sign Language (ASL) sebagai bahasa pertamanya. Latar belakang tersebut membuat penampilannya sebagai Jia terasa begitu alami, karena karakter yang ia perankan juga merupakan anak tuli yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan memiliki ikatan emosional dengan Kong.
Debut layar lebarnya dimulai lewat Godzilla vs. Kong (2021), sebelum kembali memerankan Jia dalam Godzilla x Kong: The New Empire (2024). Penampilannya mendapat apresiasi luas karena menghadirkan representasi yang autentik, sekaligus memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas dapat menjadi bagian penting dari film blockbuster internasional. Bahkan, penampilannya di film kedua membawanya masuk nominasi Best Younger Performer pada Saturn Awards.
Simbol Representasi Komunitas Tuli
Dalam berbagai kesempatan wawancara, Kaylee menegaskan pentingnya keterwakilan penyandang tuli di industri hiburan. Menurutnya, karakter tuli sebaiknya diperankan oleh aktor tuli karena mereka memahami bahasa, budaya, dan pengalaman hidup komunitas tersebut.
Saat diwawancarai ABC7 New York menjelang perilisan Godzilla x Kong: The New Empire, Kaylee mengatakan bahwa representasi memiliki makna yang sangat besar baginya.
"Bagiku, representasi berarti menunjukkan dari mana aku berasal dan siapa yang kuwakili. Jia mewakili keberanian, dan aku mewakili komunitas Tuli," ujar Kaylee.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kehadirannya di layar bukan sekadar memainkan karakter, melainkan juga membawa identitas komunitas tuli ke panggung perfilman dunia.
Menginspirasi Generasi Muda
Selain berakting, Kaylee aktif menyuarakan pesan agar anak-anak tuli percaya pada kemampuan mereka sendiri. Dalam wawancara lain, ia mendorong generasi muda untuk tidak ragu mengejar impian meski memiliki keterbatasan pendengaran.
Keberhasilannya membintangi franchise MonsterVerse menjadi bukti bahwa inklusivitas di industri film dapat menghadirkan karya yang lebih autentik sekaligus memperluas kesempatan bagi talenta dari berbagai latar belakang.
Warisan yang ditinggalkan Kaylee bukan hanya melalui karakter Jia yang dicintai penggemar, tetapi juga lewat kontribusinya dalam membuka jalan bagi representasi komunitas tuli di perfilman Hollywood. (Netty Fatmawati Pane /E-4)

















































