BRIN menargerkan satelit observasi bumi Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) meluncur pada Januari 2027.(BRIN)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan satelit observasi bumi Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) meluncur pada Januari 2027.
Satelit ini diproyeksikan menjadi satelit observasi bumi pertama yang dikembangkan Indonesia melalui penguasaan teknologi secara menyeluruh, mulai dari tahap perancangan hingga pengoperasian.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan NEO-1 merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemandirian teknologi satelit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri.
"Kemandirian satelit bukan sekadar kemampuan memiliki satelit. Kemandirian berarti kemampuan bangsa untuk merancang, membangun, mengintegrasikan, menguji, meluncurkan, mengoperasikan, serta memanfaatkan satelit secara mandiri sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia," ujar Arif, Kamis (9/7).
Menurut Arif, NEO-1 akan menyediakan data citra satelit yang dapat dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan sektor pertanian, kehutanan, kelautan, lingkungan, mitigasi bencana, hingga pemantauan kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS).
Ia menambahkan, pengembangan satelit observasi bumi menjadi langkah awal menuju penguasaan teknologi antariksa yang lebih luas. BRIN juga mendorong pembangunan Bandar Antariksa Nasional, pengembangan satelit telekomunikasi, serta penguatan industri antariksa nasional sebagai bagian dari ekosistem keantariksaan Indonesia.
"Melalui peluncuran NEO-1, pengembangan Bandar Antariksa Nasional, tumbuhnya industri antariksa, serta penguatan kebijakan pengelolaan orbit dan ruang angkasa yang berkelanjutan, kita sedang meletakkan fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi menjadi produsen teknologi, penyedia layanan, dan pemain utama dalam ekonomi antariksa global," katanya.
Arif menilai Indonesia memiliki keunggulan strategis karena berada di kawasan ekuator yang lebih efisien untuk peluncuran satelit. Keunggulan geografis tersebut, menurutnya, perlu didukung dengan penguatan riset, inovasi, sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Wayan Toni Supriyanto mengatakan satelit merupakan infrastruktur strategis yang menopang layanan telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, sekaligus mendukung sektor pendidikan, kesehatan, kebencanaan, hingga pertahanan.
"Konektivitas satelit bukan semata urusan teknis, melainkan urusan kedaulatan. Siapa yang menguasai infrastruktur satelitnya sendiri, dialah yang menguasai masa depan ketahanan informasi dan komunikasi bangsa," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah menilai perkembangan teknologi satelit, termasuk mega-konstelasi satelit, Internet of Things (IoT), dan layanan berbasis data penginderaan jauh membuka peluang besar bagi Indonesia untuk membangun industri satelit yang lebih kompetitif.
Menurutnya, penguatan riset, inovasi, regulasi, dan tingkat kandungan dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pelaku utama industri satelit global. (Z-2)

















































