BRIN: Posisi Geografis Khatulistiwa Modal Indonesia jadi Pemimpin Industri Antariksa

2 weeks ago 14
 Posisi Geografis Khatulistiwa Modal Indonesia jadi Pemimpin Industri Antariksa KEPALA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria.(Dok. BRIN)

KEPALA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan potensi besar Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam industri antariksa global sekaligus menjaga kedaulatan negara di ruang angkasa. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Arif menjelaskan bahwa antariksa merupakan sektor yang diprediksi akan terus bertumbuh secara global di masa depan. Indonesia, menurutnya, memiliki modalitas unik yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain.

"Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara yaitu posisi geografis di sekitar garis khatulistiwa. Keunggulan ini yang memberikan efisiensi peluncuran (ke luar angkasa) yang lebih tinggi sehingga menjadikan Indonesia memiliki potensi strategis sebagai salah satu pusat kegiatan peluncuran satelit di kawasan," ujar Arif Satria dalam perayaan 50 tahun satelit Indonesia di Jakarta, Rabu (8/7).

Tiga Dimensi Strategis Antariksa

Dalam RPJPN 2025–2045, pemerintah menitikberatkan pengembangan industri antariksa pada tiga dimensi utama yang akan menentukan daya saing bangsa:

  • Space Economy: Mendorong pertumbuhan ekonomi baru melalui manufaktur satelit, peluncuran aplikasi berbasis data antariksa, serta berbagai layanan hilir.
  • Space Sustainability: Menjaga keberlanjutan ruang angkasa di tengah tren peningkatan peluncuran satelit global guna meminimalisir sampah antariksa (debris).
  • Space Defense: Memperkuat ketahanan dan keamanan nasional melalui penguasaan teknologi serta aset strategis di ruang angkasa.

Arif menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan di garis khatulistiwa sangat ideal untuk mengakomodasi ketiga dimensi tersebut. Letak strategis ini memudahkan pengorbitan teknologi ruang angkasa dan menciptakan peluang ekonomi baru.

"Keunggulan geografis ini harus kita transformasikan menjadi keunggulan teknologi, keunggulan ekonomi, dan keunggulan geopolitik," tegasnya.

Komitmen Pengembangan Ekosistem

BRIN berkomitmen untuk mengoptimalkan keunggulan tersebut tidak hanya melalui jalur riset, tetapi juga dengan mendukung pertumbuhan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri antariksa nasional yang mandiri.

Lebih lanjut, Arif menyatakan bahwa pembangunan kapasitas riset harus berjalan beriringan dengan penciptaan investasi dan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Dengan demikian, posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi antariksa global akan semakin kuat dan kompetitif. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |