Ilustrasi(Magnific)
SAAT sebuah lagu diputar dalam sebuah acara keluarga, anak-anak balita biasanya akan mulai melompat kecil, sementara orang dewasa bergoyang mengikuti irama. Menggerakkan tubuh mengikuti musik terasa begitu otomatis, seolah-olah kita terlahir dengan kemampuan tersebut. Namun, kapankah sebenarnya kemampuan ini mulai aktif di dalam diri manusia?
Sebuah tim peneliti dari Wina dan Roma memutuskan untuk menyelidiki tahun pertama kehidupan seorang anak guna menemukan jawabannya. Melalui studi yang diterbitkan dalam jurnal eLife, mereka menemukan otak dan tubuh bayi ternyata tidak berkembang dalam kecepatan yang sama dalam menyerap musik.
Menikmati musik melibatkan dua proses terpisah di dalam otak: komponen sensorik (mendengar irama serta naik turunnya melodi) dan komponen motorik (menggerakkan tubuh agar selaras dengan apa yang didengar).
"Kurangnya pengetahuan ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa sangat sedikit atau bahkan tidak ada penelitian yang mengeksplorasi aktivitas otak dan gerakan spontan sebagai respons terhadap musik secara bersamaan," jelas Trinh Nguyen, peneliti dari Italian Institute of Technology di Roma sekaligus penulis utama studi ini.
"Mempelajari komponen sensorik dan motorik dari musikalitas pada bayi akan memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kita belajar mengubah persepsi musik menjadi gerakan," tambahnya.
Untuk menangkap kedua proses tersebut sekaligus, tim peneliti mengamati 79 bayi berusia tiga, enam, dan dua belas bulan. Setiap bayi dipasangkan penutup kepala khusus yang dilengkapi elektroda untuk membaca sinyal listrik otak mereka, sementara kamera melacak setiap gerakan tubuh. Peneliti kemudian memutar potongan lagu anak-anak instrumen versi asli dan versi acak yang nadanya telah diacak berantakan.
Hasil rekaman otak menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Bahkan bayi yang baru berusia tiga bulan sudah menunjukkan respons yang jauh lebih kuat terhadap lagu asli dibandingkan dengan lagu yang diacak. Sinyal listrik otak mereka membuktikan bahwa sistem pendengaran bayi sudah mampu mengenali struktur musik sejak usia dini.
Namun, kemampuan motorik atau gerakan tubuh mereka ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk menyerap stimulus tersebut. Saat peneliti mengukur intensitas gerakan tubuh, hanya kelompok bayi berusia 12 bulan yang menunjukkan perbedaan gerakan nyata saat mendengarkan musik asli. Bayi yang lebih muda cenderung bergerak dan menendang dengan intensitas yang sama, tidak peduli versi lagu apa yang sedang diputar.
Uniknya, tidak ada satu pun bayi dari seluruh kelompok usia yang benar-benar bergerak tepat mengikuti ketukan (beat) musik. Mereka memang bergerak karena terstimulasi oleh musik, tetapi gerakan yang benar-benar selaras dengan ketukan irama belum terjadi pada usia ini.
Nguyen mengaitkan lambatnya perkembangan motorik ini dengan proses di dalam otak yang membutuhkan waktu. "Kami percaya kompleksitas yang meningkat ini terkait dengan pematangan bertahap dari aliran pendengaran dorsal (dorsal auditory stream) di dalam otak, sebuah jalur yang sebelumnya diperkirakan memainkan peran krusial dalam penyelarasan ritme dan persepsi ketukan," tuturnya.
Giacomo Novembre, penulis senior studi tersebut, menyimpulkan bahwa respons motorik terhadap musik memang muncul sejak dini. "Ini mungkin mencerminkan kecenderungan biologis atau perkembangan awal yang pada akhirnya mengarah pada perilaku seperti menari, meskipun respons motorik ini tetap belum berkembang sempurna sebelum usia 12 bulan," pungkasnya. (Earth/Z-2)

















































