Bantah Klaim Kesepakatan AS, Iran: Tidak Ada Negosiasi Saat Ini

6 hours ago 1
 Tidak Ada Negosiasi Saat Ini Donald Trump.(Al Jazeera)

MENTERI Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan pada Selasa (4/8) bahwa kesepakatan dengan Iran dapat dicapai dalam waktu dekat, bahkan mungkin hari ini atau besok, untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi kebebasan navigasi. Pernyataan ini memperkuat klaim Presiden Donald Trump sebelumnya yang menyebutkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung, kabar yang langsung memicu penurunan harga minyak dunia dan kenaikan pasar saham AS.

"Kami sedang dalam pembicaraan dengan pihak Iran," ujar Bessent kepada CNBC. Namun, optimisme Washington ini berbanding terbalik dengan pernyataan dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa pihaknya saat ini tidak mengadakan negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat.

Ketegangan di Jalur Energi Global

Selat Hormuz merupakan titik nadi energi dunia, setidaknya 20 persen pasokan energi global melintas. Konflik yang memasuki bulan keenam ini bermula sejak 28 Februari, memicu blokade angkatan laut AS dan tindakan balasan Iran berupa penutupan jalur serta pemasangan ranjau.

Di tengah klaim diplomatik yang simpang siur, situasi di lapangan tetap berbahaya. United Kingdom Maritime Trade Operations Center melaporkan kapal kargo tak dikenal terkena proyektil misterius pada Selasa pagi, sekitar 23 mil dari pantai Oman di selat tersebut. Insiden ini menambah panjang daftar serangan yang saling dituduhkan oleh kedua belah pihak sejak perang dimulai.

Diplomasi Dua Wajah dan Tekanan Politik

Presiden Trump melalui media sosial menyebut para pemimpin Iran sangat bermuka dua karena membantah ada pembicaraan. Trump mengeklaim bahwa Iran dan negara-negara kawasan lain memohon untuk bernegosiasi, yang membuatnya menunda serangan militer besar-besaran yang ia sebut akan menjadi serangan terdahsyat sejak Perang Dunia II.

"Kami akan memukul mereka dengan sangat keras akhir pekan lalu," kata Trump di Oval Office. "Tetapi saya ingin memberi mereka kesempatan terakhir sebelum tindakan dekapitasi. Sangat sulit untuk melakukan apa yang telah kami rencanakan, dan itu masih terencana."

Konflik yang berlarut-larut ini mulai berdampak pada politik domestik AS. Angka jajak pendapat Trump dilaporkan menurun, sementara sejumlah politisi Republik mulai mempertanyakan strategi perang dan rasionalitas di balik konflik yang awalnya diprediksi hanya berlangsung beberapa minggu ini.

Proposal Oman sebagai Jalan Tengah

Di tengah kebuntuan, Oman muncul sebagai mediator dengan mengajukan proposal teknis untuk membuka kembali selat tersebut. Proposal Muscat menyarankan pembagian lalu lintas maritim 50-50 antara rute di sepanjang garis pantai Iran dan Oman, serta sistem kontribusi sukarela untuk biaya navigasi dan pemeliharaan lingkungan.

Sistem itu mirip dengan pengelolaan Selat Malaka oleh Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Langkah ini dianggap sebagai cara bagi Iran untuk menarik diri dari tuntutan tarif tol tanpa kehilangan muka secara politik. Namun, juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Iran hanya bernegosiasi dengan Oman, bukan dengan Amerika Serikat.

Konteks Konflik:

  • Februari: Perang dimulai; AS menargetkan program nuklir Iran.
  • April: AS memberlakukan blokade laut total terhadap pelabuhan Iran.
  • Juni: Gencatan senjata sempat disepakati tetapi runtuh dalam hitungan minggu karena sengketa kontrol Selat Hormuz.
  • Agustus: Kekuatan regional Arab (Arab Saudi, Emirat Arab, Qatar) aktif memfasilitasi mediasi untuk menyelamatkan ekonomi kawasan.

Hingga saat ini, Washington tetap mempertahankan blokade lautnya. Trump menegaskan bahwa tembok baja telah didirikan dan tidak ada yang bisa menembus Iran kecuali kesepakatan atau penyerahan total tercapai. (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |