Topan Maysak memicu banjir bandang di Guangxi dan tornado langka di Hubei, China. Belasan orang tewas, ribuan rumah rusak, dan puluhan ribu warga mengungsi.(AFP)
HUJAN lebat akibat hantaman Topan Maysak memicu banjir bandang dan fenomena tornado di sejumlah wilayah Tiongkok sejak akhir pekan lalu. Bencana hidrometeorologi ekstrem ini menyebabkan setidaknya 15 orang tewas, puluhan ribu warga mengungsi, dan ribuan rumah mengalami kerusakan parah.
Di Provinsi Guangxi, wilayah selatan Tiongkok, banjir datang begitu cepat hingga menenggelamkan lantai satu rumah warga hanya dalam hitungan jam. Berdasarkan data resmi, sekitar 60.000 warga telah dievakuasi, dan sedikitnya 90.000 orang terdampak oleh bencana ini. Topan Maysak tercatat menjadi topan pertama yang melanda Tiongkok pada musim penyerangan tahun 2026.
Seorang warga desa Renhe bermarga Zhou menceritakan cepatnya air merendam pemukiman mereka kepada BBC.
"Banjir terjadi begitu cepat, air datang sangat kencang. Warga desa tidak sempat membawa makanan saat mereka melarikan diri," ujar Zhou.
Zhou menambahkan bahwa anggota keluarganya masih terjebak di dalam rumah dengan pasokan logistik yang kian menipis. Kondisi diperparah oleh putusnya jaringan listrik, internet, dan komunikasi di area terdampak. Warga lain bermarga Huang dari kota Yunbiao juga mengeluhkan minimnya petugas dan kecilnya ukuran perahu penyelamat di lapangan, sehingga evakuasi tidak dapat berjalan cepat.
Selain banjir, situasi kian mencemaskan setelah media pemerintah melaporkan lepasnya ular-ular dari peternakan komersial setempat ke dalam genangan air banjir.
Sementara itu di Provinsi Hubei yang berjarak ratusan kilometer dari Guangxi, hantaman Topan Maysak memicu terbentuknya dua tornado langka akibat benturan udara dingin dari utara dan udara hangat dari selatan. Fenomena ini menewaskan 11 orang dan merusak ribuan bangunan di kota Ezhou dan Huanggang.
Di Huanggang, angin kencang memecahkan jendela sebuah apartemen tinggi dan menghempaskan seorang pria beserta perabotannya dari lantai 12 hingga jatuh ke tanah. Pria tersebut dilaporkan kini berada dalam perawatan intensif di rumah sakit.
Seorang mahasiswa di Huanggang juga mengira badai tersebut hanyalah hujan guntur biasa sampai ia melihat barang-barang beterbangan di luar jendela asramanya.
"Banyak mahasiswa terluka akibat serpihan kaca yang terbang," katanya. "Baru setelah semuanya benar-benar berhenti, saya menyadari bahwa saya baru saja lolos dari bencana."
Parahnya dampak kerusakan akibat cuaca ekstrem ini mendorong Presiden Xi Jinping untuk menginstruksikan operasi penyelamatan dan bantuan secara "habis-habisan." Xi menegaskan pentingnya memprioritaskan penanganan korban luka, pemukiman kembali warga yang terdampak, serta efektivitas kerja pencegahan dan penanggulangan bencana. (BBC/Z-2)

















































