Ilustrasi(Centcom)
PRESIDEN Donald Trump membandingkan jumlah prajurit Amerika Serikat yang gugur dalam konflik militer dengan Iran dengan korban pada konflik-konflik AS sebelumnya. Langkah ini tampaknya dilakukan untuk berargumen bahwa dampak perang tersebut, baik dari segi waktu maupun nyawa tentara AS, jauh lebih kecil dibandingkan konflik lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa waktu setempat. Unggahan ini muncul tepat saat Menteri Pertahanannya bersaksi di hadapan Kongres, serta sehari sebelum Trump dijadwalkan menghadiri prosesi penerimaan jenazah (dignified transfer) para prajurit yang gugur.
Dalam unggahannya, Trump merinci enam operasi militer AS, durasi berlangsungnya, serta jumlah prajurit yang tewas pada masing-masing konflik.
Hal yang menarik perhatian, ia mencantumkan istilah "Perang Venezuela" merujuk pada operasi singkat penangkapan Nicolás Maduro. Namun, ia tidak menggunakan kata "perang" untuk kasus Iran, melainkan menyebutnya sebagai "Konflik Militer Iran".
"Perang Afganistan: 20 tahun, 2.000 TEWAS.
Perang Irak: 9 tahun, 4.600 TEWAS.
Perang Vietnam: 19 tahun dan 5 bulan, 58.220 TEWAS.
Perang Korea: 3 tahun dan 1 bulan, 36.574 TEWAS.
Perang Venezuela: 1 hari, 0 TEWAS.
Konflik Militer Iran: 4 bulan, 18 TEWAS," tulis Trump.
Meskipun Trump tidak memberikan sumber rujukan resmi atas angka-angka tersebut, data yang dipaparkannya sebagian besar selaras dengan data Departemen Pertahanan AS. Kendati demikian, sistem analisis korban Departemen Pertahanan (Defense Casualty Analysis System) tidak mencatat operasi di Venezuela sebagai sebuah perang.
Unggahan Trump tersebut dirilis bertepatan dengan hadirnya Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat pada Selasa sore. Kehadiran para pimpinan Pentagon tersebut bertujuan untuk mengajukan dana anggaran tambahan guna mendanai operasi militer di Iran. (CNN/Z-2)

















































