Band Punk Rock The Jansen Rilis Album Romantisasi Impulsif

3 days ago 10
Band Punk Rock The Jansen Rilis Album Romantisasi Impulsif Ilustrasi(MI/NIKE AMELIA SARI)

BAND punk The Jansen, resmi meluncurkan album penuh teranyar bertajuk Romantisasi Impulsif. Karya yang merangkum 12 lagu ini sebagai penutup dari rangkaian trilogi mereka, setelah sebelumnya diawali oleh Banal Semakin Binal (2022) dan diteruskan melalui Durja Bersahaja (2024).

Lewat lirik di album ini, The Jansen mengajak para pendengarnya merenungkan dinamika kehidupan mulai dari asa tentang masa depan, urusan asmara, hingga pergulatan antara cita-cita dan kenyataan.

Album tersebut hadir sebagai cermin atas kehidupan yang sarat ketidakpastian. Pada zaman ketika rasa pasti menjadi hal yang sulit didapat, The Jansen mencoba merekam kecenderungan manusia yang kerap meromantisasi kondisi sekitar, meski realita yang dialami sebenarnya jauh dari harapan.

The Jansen yang kini digawangi Cintarama Bani Satria alias Tata (vokal/gitar) dan Adji Pamungkas (bass), membeberkan filosofi di balik pemilihan nama Romantisasi Impulsif.

"Romantisasi-nya tuh berasal dari meromantisir hidup, sesuatu yang jelek atau yang nggak baik, tapi kita anggap itu baik, itu indah, hal-hal yang kayak gitu. Akhirnya jadi istilahnya kayak toxic positivity gitu dan ditambahin 'Impulsif' jadi kayak toxic-nya tuh toxic banget, double gitu, impulsif. Jadi ya dari secara tajuk pakai 'Romantisasi Impulsif'," tutur Adji, saat ditemui di Rumah Makan Gakong di bilangan Wijaya, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 21 Juli 2026.

Penggarapan lirik untuk album ini sejatinya sudah berjalan semenjak Banal Semakin Binal meluncur pada 2022. Sama seperti karya-karya terdahulu, Adji memegang kendali penuh atas penulisan lirik, sedangkan Tata fokus meramu komposisi musiknya. Seluruh aransemen kemudian mereka rampungkan bersama selama kurun waktu beberapa tahun.

Terkait pemilihan diksi, Adji mengatakan bahwa gaya bahasanya banyak mendapat pengaruh dari karya sastra maupun musik mendiang Japi Panda Abdiel Tambajong, sosok yang populer dengan nama pena Remy Sylado.

Keunikan lain dari album ini terletak pada sentuhan nuansa Kalimantan. Hal tersebut muncul lantaran mereka sempat menggelar tur ke pulau tersebut sebelum masuk dapur rekaman. Nuansa khas Kalimantan itu terserap secara bawah sadar ke dalam musikalitas mereka. Bagi mereka, tiap album senantiasa membawa cerita baru. 

Dari segi musikalitas, The Jansen juga mencoba mengeksplorasi penggunaan tangga nada khas Tiongkok. Sementara untuk urusan estetika visual album, mereka berkolaborasi dengan Jonathan Sirit, seorang seniman sekaligus anggota grup musik post-punk asal Spanyol, Belgrado. (H-2)
 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |