BNSI meresmikan reaktor HPAL terbesar di dunia di Morowali. Proyek senilai US$1,845 miliar ini memperkuat hilirisasi nikel dan mendukung industri hijau Indonesia.(PT Vale Indonesia Tbk)
PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) meresmikan reaktor High Pressure Acid Leaching (HPAL) berkapasitas 1.268 meter kubik di Kawasan International Green Industrial Park (IGIP), Desa Sambalagi, Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7).
Autoclave generasi terbaru sekaligus terbesar di dunia ini menjadi simbol pencapaian teknologi hidrometalurgi kelas dunia serta tonggak penting menuju produksi komersial proyek strategis nasional bernilai investasi US$1,845 miliar.
Proyek BNSI yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun.
Setelah beroperasi penuh, proyek ini diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar setiap tahun. Reaktor HPAL yang diresmikan hari ini tidak hanya terbesar di dunia, tetapi juga mengusung teknologi generasi terbaru yang ramah lingkungan.
CEO dan Founder GEM Co., Ltd., Prof. Kaihua Xu menjelaskan, autoklaf ini memiliki tingkat recovery nikel dan kobalt tertinggi di dunia.
“Ini adalah teknologi terbaru yang ramah lingkungan, dapat lebih mengurangi tingkat emisi karbon. Tujuan kami adalah mendirikan pabrik dengan nol emisi karbon,” ujarnya.
Salah satu terobosan paling revolusioner dari penggunaan teknologi HPAL terbaru ini terletak pada kemampuannya mengolah bijih nikel laterit dengan kadar sangat rendah (low-grade nickel ore).
Fleksibilitas ini memungkinkan pengolahan materi bijih yang sebelumnya dianggap tak bernilai secara ekonomis.
"Inovasi lain yang diunggulkan adalah kemampuan pabrik untuk mengolah bijih nikel dengan kadar lebih rendah, dari yang sebelumnya 1,0-1,1% menjadi 0,6-0,4%. Hal ini dinilai mampu memperpanjang usia cadangan nikel Indonesia serta menekan dampak penambangan," terang Prof. Kaihua.
Kemampuan memproses kadar super rendah ini memberikan keuntungan strategis yang luar biasa bagi Indonesia. Bijih nikel kadar rendah yang sebelumnya terbuang sebagai limbah tambang atau batuan penutup kini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Hal ini tidak hanya menghemat biaya operasi penambangan, melainkan secara signifikan memperpanjang umur masa pakai cadangan nikel Indonesia hingga beberapa dekade mendatang.
Terkait tenggat waktu operasional, Kaihua menegaskan setiap satu unit autoklaf masif ini dirancang untuk menghasilkan 30.000 nikel metal ton per tahun. Seluruh konstruksi proyek akan diselesaikan pada akhir tahun ini, dan dilanjutkan dengan pengoperasian secara penuh pada kuartal pertama tahun depan.
Iklim Investasi
Kaihua juga memuji iklim investasi di Indonesia yang dinilainya sangat kondusif dan ramah investor. Bagi dia, aliansi antara Korea Selatan, Indonesia, dan Tiongkok di Sambalagi ini merupakan salah satu model kerja sama investasi hijau paling ideal di dunia.
Kawasan industri yang didesain komprehensif ini diproyeksikan bakal menyerap hingga 88.000 tenaga kerja saat seluruh area beroperasi penuh.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, yang turut menghadiri peresmian itu menyatakan, kawasan IGIP dirancang dengan komitmen net zero emission, menggunakan tenaga surya dan panel surya untuk menjaga kelangsungan lingkungan.
"Termasuk, model hilirisasi nikel yang di Indonesia, yang tidak hanya akan berhenti di sini. Rantai nilai yang kita bangun ini sangat panjang," ujar Rosan.
Ia pun menegaskan, kehadiran proyek ini merupakan titik awal dari komitmen pemerintah dalam memastikan investasi yang masuk tidak hanya tepat waktu, namun juga memberikan dampak positif yang nyata dan holistik.
Pembangunan tidak sekadar mengejar profitabilitas korporasi atau indikator makroekonomi semata, melainkan mengedepankan kemanfaatan langsung bagi masyarakat lokal setempat.
Ciri khas membedakan dari kawasan industri Sambalagi ini adalah pola pembangunannya yang inklusif. Sebelum pengoperasian pabrik dimulai, berbagai fasilitas sosial dan sarana publik bagi warga lokal telah selesai dibangun dan sudah diakses secara langsung oleh masyarakat sekitar.
Fasilitas tersebut mencakup arena olahraga, masjid, pasar modern, hingga lapangan sepak bola. "Hal ini membedakan kawasan industri ini dengan yang lain. Pendekatan sosial dilakukan sejak awal. Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, ungkapnya.
"Bahkan di kawasan ini, termasuk PT Bahodopi, ada komitmen kuat menuju zero, neutral emission yang berdampak positif dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," sambung Rosan.
Pemerintah juga berkeinginan agar model pengembangan kawasan terpadu yang memadukan solusi emisi, kelestarian lingkungan, serta integrasi sosial seperti di Morowali ini dapat direplikasi secara luas di berbagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kawasan industri lainnya di seluruh wilayah Indonesia
Pendekatan Humanis
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, menyambut baik kehadiran kawasan ini. Menurutnya, pendekatan humanis yang diterapkan pengembang dengan merangkul masyarakat sekitar serta menyediakan sarana ibadah dan olahraga menjadi contoh teladan pengembangan kawasan industri yang ideal.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini fokus menggembleng kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal melalui berbagai program pelatihan vokasi dan sertifikasi profesi agar tenaga kerja lokal dapat terserap secara maksimal dalam proyeksi kebutuhan ribuan pekerja di kawasan tersebut.
Terkait penataan lingkungan, Wagub Sulteng menyoroti hadirnya danau-danau penampungan air buatan di dalam kawasan yang didesain jernih dan terbuka di tepi jalan utama. Keberadaan danau ini menjadi bukti visual transparan bahwa pengolahan limbah air fasilitas ini dikelola secara bersih dan ramah lingkungan tanpa mencemari ekosistem sekitar.
"Industri hijau bernilai tinggi seperti proyek BNSI diyakini menjadi pendorong utama lompatan kemajuan ekonomi Sulteng dan Morowali menuju daerah modern yang berkelanjutan," tuturnya.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kabupaten Morowali. Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, menilai industri di wilayahnya kini mengarah pada teknologi hijau yang minim emisi.
“Di Kabupaten Morowali ini sangat banyak industri, hari ini para investor mengarah ke betul-betul arah lingkungan, betul-betul hijau. Kami sangat menyambut baik karena daerah tidak akan maju kalau tidak ada industri,” tegasnya.
Kehadiran kawasan IGIP tidak hanya berdampak pada industri hulu, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga sekitar.
Salah satunya Dewi Rahmawati, warga Desa Sambalagi, yang mengaku merasakan manfaat nyata. “Dulu saya mengandalkan hasil laut dan bertani dengan pendapatan yang tidak menentu. Setelah kawasan IGIP hadir, saya mendapat pekerjaan tetap di perusahaan konstruksi milik desa dan kini memiliki penghasilan tetap,” tuturnya.
Sektor usaha lokal pun turut merasakan angin segar. Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Morowali, Tasrun, menyatakan bahwa pendekatan IGIP telah membuka ruang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
“Kehadiran IGIP memberikan peluang kerja sama yang lebih besar bagi pengusaha lokal, khususnya di sektor logistik, transportasi, dan konstruksi. Model seperti ini memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Proyek yang merupakan aliansi antara Korea (Ecopro), Indonesia (PT Vale), dan China (GEM) ini ditargetkan selesai pada akhir 2026 dan memulai operasi pada kuartal pertama 2027.
Bagi PT Vale Indonesia, Pabrik HPAL Sambalagi dinilai memiliki produktivitas dan efisiensi tertinggi, dengan rasio intensitas modal paling rendah di antara fasilitas sejenis yang pernah dibangun di Indonesia.
Presiden Direktur & CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto menjelaskan bagaimana kemitraan ini mampu menjaga daya saing di tengah fluktuasi harga nikel dunia.
"Keunggulan struktur biaya ini memberikan ketahanan ekonomi proyek yang luar biasa dalam menghadapi gejolak pasar komoditas," sebutnya.
Selain aspek keekonomian korporasi, keberadaan PT Vale Indonesia sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) memberikan skema kontribusi langsung yang sangat masif bagi daerah. (Z-2)

















































