DIREKTUR PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah bisa terus melemah menjadi Rp 19 ribu per dolar Amerika Serikat pada akhir bulan. “Di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar ya 99.99 persen itu akan di Rp 19 ribu per dolar AS,” kata Ibrahim melalui pesan suara, Ahad, 7 juni 2026.
Sementara itu, untuk transaksi selama pekan depan, ia memperkirakan nilai tukar rupiah berada di rentang Rp 17.950–18.250 per dolar AS. Ia mengatakan, tren pelemahan rupiah hingga level terendah dalam sejarah akan terus berlanjut jika gejolak geopolitik masih berlangsung dan bank sentral AS alias The Fed mempertahankan dan menaikkan suku bunga.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ibrahim juga memperkirakan indeks dolar berada di level support 99.00 dan resistance pada 101.00. “Artinya, ada kemungkinan indeks dolar akan kembali menguat tajam,” ujarnya.
Penguatan indeks dolar, Ibrahim mengatakan, akan berdampak signifikan terhadap kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, serta anjloknya nilai emas dan logam mulia. Ia memperkirakan harga West Texas Intermediate atau WTI Crude berada di level support US$ 85 per barel dan level resistance US$ 101 per barrel.
Ia mengatakan, ada tiga faktor yang memengaruhi fluktuasi indeks dolar hingga nilai logam mulia. Pertama adalah geopolitik. Ibrahim memetakan tiga kondisi geopolitik, salah satunya adalah perang antara Amerika dan Iran.
Ibrahim menjelaskan, kondisi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat menyerang sejumlah kawasan yang menjadi radar Iran di Selat Hormuz, salah satunya adalah Pulau Qeshm. Ia pun memperkirakan gencatan senjata antara Amerika dan Iran tidak berumur panjang.
Sebab, Ibrahim mengatakan, Amerika menyatakan sejumlah pangkalan udara mereka di Timur Tengah rusak berat dan kemungkinan akan menggunakan aset milik Iran. Sikap tersebut, kata Ibrahim, mengisyaratkan Amerika ingin menguasai Iran yang kemungkinan akan memicu perang besar.
Faktor kedua adalah kondisi politik di Amerika. Ibrahim menjelaskan, Partai Republik memenangkan sidang kongres agar Amerika menghentikan perang dan anggarannya. Namun, meskipun kongres sudah menyetujuinya, Presiden AS Donald Trump tetap melakukan penyerangan. “Penolakan anggaran oleh kongres sehingga tidak membuat Trump menghentikan perang dengan Iran,” katanya.
Pemicu fluktuasi terakhir adalah kebijakan The Fed. Ibrahim memperkirakan Bank Sentral AS kemungkinan besar mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkannya pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 25 basis point. Selain melemahkan rupiah, level suku bunga tinggi The Fed, kata Ibrahim, menyebabkan nilai logam mulia anjlok.
Ibrahim mengatakan, turunnya harga logam mulia membuat masyarakat Indonesia terpacu membeli dolar AS. Kondisi ini membuat logam mulia melemah dan dolar AS semakin menguat. Ia bahkan memperkirakan rupiah bisa melemah hingga Rp 25 ribu pada akhir tahun jika perang di Timur Tengah tidak selesai. “Seandainya berakhir di akhir tahun, 2027 akhir baru akan ada perbaikan-perbaikan sehingga harga rupiah di 25.000 sangat wajar sekali,” ujarnya.




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











