7 Siswi dan 1 Guru Tewas Saat Longsor menimbun Kamp Pengungsi Bangladesh

2 weeks ago 15
7 Siswi dan 1 Guru Tewas Saat Longsor menimbun Kamp Pengungsi Bangladesh Bencana longsor akibat hujan monsun menerjang sebuah sekolah di kamp pengungsi Rohingya, Bangladesh. Delapan orang dilaporkan tewas.(AFP)

BENCANA tanah longsor melanda sebuah pusat studi Islam (madrasah) khusus perempuan di dalam kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, pada Rabu  (8/7) sore waktu setempat. Insiden tragis akibat cuaca ekstrem ini menewaskan tujuh orang siswi dan seorang guru setelah bangunan sekolah mereka tertimbun lumpur dan puing-puing.

Peristiwa ini memicu upaya pencarian dan penyelamatan yang masif secara dramatis, mengingat belum diketahui pasti berapa jumlah total orang yang berada di dalam sekolah saat longsor terjadi. Kawasan pesisir Cox's Bazar memang telah diguyur hujan monsun yang lebat sejak Minggu (5/7), hingga memicu beberapa titik longsor mematikan.

Komisioner Pemulihan dan Repatriasi Pengungsi, Mohammed Mizanur Rahman, mengonfirmasi tim penyelamat berhasil mengevakuasi 13 orang dari timbunan lumpur yang menenggelamkan pondok sekolah tersebut. Sayangnya, delapan di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

"Beberapa dari mereka berusia tujuh, delapan, 11, atau 12 tahun," ujar Panna Akhter, seorang pejabat distrik setempat, kepada BBC Bangla.

Sementara itu, lima anak lainnya yang berhasil diselamatkan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sebelum tragedi sekolah ini terjadi, pihak berwenang setempat melaporkan rangkaian tanah longsor sejak hari Minggu telah menewaskan sedikitnya delapan pengungsi Rohingya lainnya, termasuk lima anak-anak.

Kawasan Cox's Bazar merupakan permukiman pengungsi terbesar di dunia yang kini menampung lebih dari satu juta warga etnis Rohingya. Mereka melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh setelah mengalami tindakan kekerasan militer yang mematikan di Myanmar pada 2017.

Di Bangladesh, sebagian besar dari mereka terpaksa tinggal di hunian sementara yang serbaterbatas. Rumah-rumah darurat yang terbuat dari bambu dan terpal tersebut dibangun di atas lereng-lereng bukit yang terjal, sehingga sangat rentan terhadap ancaman tanah longsor saat curah hujan tinggi.

Pihak berwenang setempat telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir dan longsor susulan, mengingat hujan lebat diprediksi masih akan mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan. Sebagai langkah antisipasi, proses evakuasi terhadap keluarga yang tinggal di zona rahasia bahaya tinggi kini mulai dilakukan. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |