Ilustrasi(Ist)
TREN unggahan twibbon siswa baru di media sosial selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kini tengah marak. Meski menjadi simbol kebanggaan dan kebersamaan, kebiasaan ini menyimpan risiko serius terhadap keamanan data pribadi jika tidak dilakukan dengan bijak.
Pengamat keamanan siber sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, mengingatkan bahwa informasi pribadi yang tercantum dalam twibbon dapat dengan mudah diakses, disalin, hingga disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Dari sisi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari sekolah baru, tren tersebut tentu memiliki nilai positif. Namun, dari sudut pandang keamanan siber dan perlindungan data pribadi, kebiasaan tersebut juga perlu disikapi secara lebih bijaksana," ujar Pratama saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (20/7).
Ancaman Teknik OSINT dan Profiling Digital
Pratama menjelaskan bahwa risiko meningkat ketika informasi seperti nama lengkap, foto wajah, domisili, hingga asal sekolah dipublikasikan secara terbuka. Data-data ini menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan siber melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT).
Dengan OSINT, pelaku dapat mengumpulkan dan mengorelasikan berbagai informasi yang tersebar di internet untuk menyusun profil digital seseorang tanpa perlu meretas akun. Semakin banyak data yang dibagikan secara sukarela, semakin mudah identitas seseorang dipetakan oleh pelaku kriminal.
Risiko Keamanan Unggahan Twibbon MPLS:
| Social Engineering | Penipuan dengan menyamar sebagai guru, panitia, atau teman sekolah. |
| Manipulasi Identitas | Penyalahgunaan foto wajah untuk identitas palsu atau manipulasi AI (Deepfake). |
| Keamanan Fisik | Pelaku dapat memetakan lokasi sekolah dan rute aktivitas harian anak. |
| Gangguan Digital | Meningkatnya potensi perundungan siber (cyberbullying) dan penguntitan. |
Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini
Lebih lanjut, Pratama menekankan bahwa anak-anak dan remaja umumnya belum memiliki kemampuan mumpuni untuk mengenali modus manipulasi digital. Hal ini membuat mereka rentan terhadap komunikasi yang tampak alami namun sebenarnya bertujuan jahat.
Sebagai langkah antisipasi, ia mendorong pihak sekolah dan orang tua untuk meningkatkan edukasi literasi digital. Siswa perlu diajarkan cara menjaga data pribadi dan memahami konsekuensi dari jejak digital yang mereka tinggalkan.
Pratama menyarankan agar informasi dalam twibbon dibatasi pada hal-hal yang bersifat umum saja, misalnya hanya mencantumkan nama panggilan tanpa identitas detail lainnya.
"Twibbon MPLS bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dibangun adalah budaya literasi digital yang lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan data pribadi," pungkasnya. (Ant/Z-1)

















































