Wali Kota New York Zohran Mamdani.(AFP/TIMOTHY A. CLARY)
WALI Kota New York City, Zohran Mamdani, secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahannya tengah serius mengkaji kewenangan hukum untuk menangkap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, apabila pemimpin tersebut menginjakkan kaki di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB di New York pada September.
Pernyataan tegas tersebut dilontarkan Mamdani saat menjadi narasumber dalam siniar (podcast) bertajuk The Interview milik The New York Times bersama jurnalis Lulu Garcia-Navarro pada Sabtu (18/7). Dalam kesempatan tersebut, Mamdani secara blak-blakan menyuarakan dukungannya terhadap langkah hukum global terkait krisis di Timur Tengah.
“Saya percaya bahwa Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu pantas berada di Den Haag,” ujar Mamdani secara lugas kepada pemandu acara. Ia melanjutkan argumentasinya dengan menambahkan bahwa dia adalah penjahat perang yang telah didakwa oleh Mahkamah Pidana Internasional.
Guna merealisasikan rencana tersebut, Mamdani mengungkapkan bahwa dirinya saat ini sedang melakukan diskusi aktif dengan Departemen Hukum New York City guna membedah secara spesifik regulasi tata negara dan yurisdiksi wilayah.
Kajian ini difokuskan untuk melihat apakah seorang Wali Kota memiliki wewenang konstitusional untuk memerintahkan Departemen Kepolisian New York (NYPD) menahan seorang pemimpin negara asing yang memiliki status diplomatik.
Kendati demikian, ia menggarisbawahi bahwa koridor hukum tetap menjadi panglima utama dengan menegaskan, “Apa pun yang diizinkan oleh hukum untuk saya lakukan di New York City, itulah yang akan kami lakukan, tetapi kami tidak akan membuat undang-undang sendiri untuk tujuan itu.”
Rencana penegakan hukum ni sebenarnya bukan hal mengejutkan, mengingat sejak masa kampanye pemilihan wali kota, Mamdani telah berkomitmen akan berupaya keras menegakkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk Netanyahu jika sang perdana menteri berkunjung ke wilayah hukumnya.
Respons keras pun langsung datang dari pihak Israel. Dalam sebuah wawancara radio terpisah dengan penyiar Sid Rosenberg baru-baru ini, Benjamin Netanyahu menepis mentah-mentah kemungkinan penangkapan tersebut sembari melemparkan tuduhan balik bahwa Mamdani bersimpati kepada kelompok Hamas.
Menurut Netanyahu, sang wali kota harus melihat siapa yang dia kecam dan siapa yang dia puji, seraya menambahkan bahwa Mamdani mengecam Israel, satu-satunya entitas negara demokrasi yang berdiri bahu-membahu dengan nilai-nilai Amerika.
Menanggapi tudingan itu, kubu Mamdani menegaskan posisi politiknya yang berimbang namun tegas terhadap isu kemanusiaan. Sepanjang dinamika konflik global tersebut, Mamdani tercatat telah berulang kali melayangkan kecaman keras terhadap kampanye militer intensif Israel di Jalur Gaza, sekaligus secara bersamaan mengutuk aksi serangan yang dilancarkan Hamas pada 7 Oktober 2023 silam terhadap warga Israel.
Di akhir wawancara, Mamdani juga tidak ragu melemparkan kritik tajam terhadap arah diplomasi luar negeri negaranya sendiri terkait krisis kemanusiaan di Palestina, dengan menyatakan bahwa sangat sulit untuk mencari pendekatan kebijakan yang lebih buruk daripada yang telah dilakukan negara terhadap Gaza dan Palestina.
(Ant/Anadolu/P-4)

















































