Vokalis Efek Rumah Kaca Hadiri Aksi Rakyat Memanggil

5 hours ago 4

VOKALIS sekaligus gitaris grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) Cholil Mahmud turut mengikuti aksi demonstrasi massa bertajuk Rakyat Memanggil di Simpang Gejayan, Yogyakarta pada Sabtu, 13 Juni 2026. Aksi yang diikuti kalangan mahasiswa, akademisi, aktivis, hingga buruh itu menyoroti sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang kian menyengsarakan dan tak berpihak rakyat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Cholil Mahmud mengungkap kehadirannya dalam aksi itu untuk memberikan dukungan moral dan bersolidaritas terhadap gerakan yang menurutnya telah lama memberi inspirasi dan berkontribusi pada munculnya sikap kritis terhadap penguasa dari waktu ke waktu.

"Gerakan ini punya dampak yang signifikan buat teman-teman di berbagai daerah, sejak era Gejayan Memanggil," kata Cholil.

Cholil menyampaikan bahwa dirinya sengaja menyempatkan diri untuk bergabung bersama massa aksi di Yogyakarta lantaran sebelumnya ia berhalangan hadir saat agenda unjuk rasa serupa di Jakarta pada Jumat, 12 Juni 2026. "Kemarin di Jakarta tidak bisa ikut, kebetulan hari ini pas lagi di Yogya ada aksi ini, jadi ingin hadir dan memberikan solidaritas untuk kawan-kawan yang sedang berjuang," ungkapnya..

Musisi yang dikenal dengan deretan lagu kritiknya ini memandang bahwa eskalasi gerakan massa yang kembali menggeliat di Yogyakarta merupakan bentuk akumulasi dari kemarahan kolektif publik yang mendalam atas rupa-rupa persoalan nasional yang tak kunjung diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah. Oleh karena itu, Cholil menekankan pentingnya merawat konsistensi dan mengasah napas pergerakan masyarakat sipil agar momentum perjuangan ini tidak menguap atau mengempis begitu saja di tengah jalan. 

Ia melihat situasi politik hari ni sebagai langkah permulaan bagi terbentuknya sebuah gerakan publik yang jauh lebih terorganisasi, terkoordinasi dengan rapi, dan meluas jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan pada masa sebelumnya. "Gerakan seperti ini harus dirawat, diasah, agar tidak mengempos di tengah jalan," kata dia.

Ribuan massa dari aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi di simpang Gejayan Yogyakarta menyoroti kebijakan rezim Prabowo-Gibran yang semakin menyengsarakan rakyat, Sabtu, 13 Juni 2026. Tempo/Pribadi Wicaksono

Cholil pun mendukung sejumlah tuntutan aktivis dan mahasiswa yang dilayangkan kepada Rezim Prabowo-Gibran saat ini. Ia mengamati garis besar tuntutan aksi di Gejayan memiliki kemiripan mendasar dengan tuntutan yang digaungkan oleh elemen mahasiswa di berbagai daerah lainnya. Semuanya bersumber dari kemarahan dan kekecewaan masyarakat atas situasi sosial, politik, dan ekonomi bangsa saat ini. 

Di mata Cholil, ragam permasalahan bangsa yang fundamental saat ini sudah menumpuk di berbagai sektor. Mulai dari merajalelanya kasus korupsi, sikap abai penguasa terhadap kritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Merah Putih, persoalan lingkungan, hingga sengkarut agraria.

Secara spesifik, Cholil turut menyoroti pemberian izin-izin tambang eksploitatif yang berdampak buruk pada ekologi. Seperti halnya bencana alam di Aceh yang telah terbukti secara jelas disebabkan oleh praktik pembalakan liar namun tidak ditindaklanjuti secara hukum dengan baik oleh aparat. Akibat lemahnya penegakan hukum tersebut, krisis lingkungan berskala besar terus meluas dan memaksa masyarakat yang berada di wilayah terdampak harus memikul beban problematik yang berkepanjangan.

Persoalan kemanusiaan dan perampasan ruang hidup ini pun dinilai terjadi merata hingga ke bagian timur Indonesia, di mana masyarakat adat Papua sampai detik ini masih harus berhadapan dengan situasi pelik berupa perebutan hak-hak atas tanah leluhur mereka. "Jadi semuanya menjadi satu kemarahan masyarakat, kalau saya bandingkan dengan 1998, gerakan seperti ini mesti dirawat," kata dia.

Ribuan massa dari aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi di simpang Gejayan Yogyakarta menyoroti kebijakan rezim Prabowo-Gibran yang semakin menyengsarakan rakyat, Sabtu, 13 Juni 2026. Tempo/Pribadi Wicaksono

Selain menyoroti kondisi sosial-politik, Cholil menilai bahwa kondisi ekonomi nasional yang kian terpuruk turut andil dalam memperbesar gelombang ketidakpuasan masyarakat sipil. Ia menyinggung fenomena meroketnya nilai tukar mata uang dolar terhadap rupiah yang merefleksikan keterbatasan sisa kapasitas keuangan negara dalam menopang beban subsidi dasar. 

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kenaikan harga bahan bakar minyak di pasar domestik yang secara instan memukul hajat hidup orang banyak dan menyulut api kemarahan publik secara masif. 

Di tengah himpitan ekonomi yang kian menjepit tersebut, Cholil menaruh kekhawatiran besar akan potensi timbulnya friksi horizontal di lapisan bawah masyarakat. Ia menyayangkan eksistensi para pendengung bayaran atau buzzer di jagat digital yang kerap memanipulasi opini publik dan memperuncing polarisasi, sehingga memicu konflik antarkelompok warga sipil.

"Semoga konflik horizontal antar masyarakat tetap bisa dihindari, karena dengan adanya buzzer itu jadi lebih memungkinkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan masyarakat, itu yang disayangkan," kata Cholil.

Cholil pun menyoroti makin masifnya pola-pola pembungkaman serta upaya sistematis dari pihak tertentu untuk melemahkan integritas gerakan mahasiswa. Taktik pemecahan ombak gerakan tersebut menurutnya bukan barang baru dalam sejarah perlawanan.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Cholil berpesan agar elemen masyarakat sipil tidak goyah, melainkan harus semakin jeli dalam mengenali taktik pelemahan serta terus mengasah kepekaan nurani untuk tetap tegak berjuang mendampingi sesama rakyat.

"Upaya memecah belah gerakan seperti itu pasti akan dilakukan terus-menerus. Bukan hanya saat ini, sebelum-sebelumnya juga sama, misalnya lewat ketua-ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ada yang berangkat aksi ada yang tidak karena dukung pemerintah," kata dia.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |