INDUSTRI pencahayaan rumah di Indonesia mulai bergeser. Kalau dulu orang hanya mengenal lampu bohlam dan cahaya putih sebagai simbol terang, kini konsumen mulai mempertimbangkan aspek kenyamanan visual dan estetika ruang.
Product Manager in-Lite LED Fabian Tys menyoroti satu kesalahan umum yang masih sering ditemui di rumah-rumah Indonesia yaitu penggunaan panel light di dalam ruangan. "Panel light itu terangnya menyeluruh ke satu ruangan, sehingga orang di dalam ruangan tersebut malah asyik melihat plafon, melihat sekeliling ruangan. Matanya tidak bisa rileks. Jadi dia akan 'ngudik' nih, melihat seperti itu," ujar Fabian dalam media briefing di IndoBuildTech 2026 pertengahan Juli 2026 di ICE BSD Kabupaten Tangerang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia menegaskan bahwa untuk interior rumah, panel light bukan pilihan yang tepat. "Kita tidak suggest itu untuk pakai panel light. Nah, bedanya kalau kita pakai bohlam, Anda pakai downlight, mata kita bisa lebih rileks," katanya.
Commercial Director in-Lite LED Fransiska Darmawan menambahkan bahwa tren jenis lampu pun mulai berubah. "Jika sebelumnya masyarakat lebih mengenal lampu rumah menggunakan bohlam biasa, sekarang mulai banyak yang beralih ke downlight terintegrasi. Produk seperti panel downlight yang rata dengan plafon maupun spotlight kecil mulai banyak diminati karena dapat memberikan nilai estetika pada ruangan," ujarnya.
Menurut Fransiska, cahaya bukan hanya membuat ruang menjadi terang, tetapi juga menentukan bagaimana ruang itu dirasakan. "Ketika berinteraksi dengan material, cahaya dapat mengubah tekstur, mengarahkan fokus, hingga membangun suasana yang sama sekali berbeda," ujar Fransiska Darmawan.
Soal warna cahaya, Fabian memaparkan bahwa pada umumnya hanya ada tiga pilihan 3000 Kelvin (kuning/warm), 4000 Kelvin (semu/netral), dan 6000 Kelvin (putih). Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. "Warna putih 6000K cocok untuk orang yang lagi beraktivitas seperti belajar, masak, membaca, atau kerja. Jadi ini lebih cocok untuk ruangan dan aktivitas seperti itu. Kalau kita tempatkan di ruangan seperti kamar tidur, mata kita masih agak ekstra kerja keras saat mau tidur, diajak untuk melek," terangnya.
Sementara warna 3000K atau warm, menurut Fabian, banyak dipakai di kafe, area taman, dan mulai merambah ke rumah-rumah. "Dia memberikan efek yang relax, dan emang hanya untuk istirahat. Ini cocok untuk kebanyakan ruangan di rumah," katanya.
Di tengah-tengah kedua ekstrem itu, ada 4000K yang kini mulai diminati. Fabian menyebut warna ini banyak dipakai di desain interior minimalis karena memberikan efek clean, bersih, dan simple. "Dia tidak terlalu warm, tidak terlalu relax, tapi juga tidak terlalu putih untuk kita ready, siap terus," ujarnya.
Fransiska menambahkan bahwa pergeseran ini terlihat jelas di kalangan milenial. "Konsumen mulai merasa cahaya putih 6000K terlalu terang dan memberikan kesan silau. Karena itu, kami menghadirkan alternatif 4000K, yang memberikan keseimbangan antara terang dan nyaman. Tahun ini kami melihat tren tersebut semakin populer, terutama di kalangan end user dan generasi milenial," katanya.
Selain jenis dan warna, intensitas cahaya juga harus disesuaikan dengan fungsi ruang. Fabian menjelaskan lampu paling gelap cocok untuk daerah-daerah teras, parkiran, tidak perlu terlalu terang. "Ruang tamu intensitasnya mulai naik. Dapur atau kitchen harus lebih tinggi lagi karena memotong, memasak, beda lagi standarnya," kata Fabian.
Untuk outdoor, ia mencontohkan lapangan olahraga yang membutuhkan tingkat kecerahan lebih tinggi lagi, tergantung kebutuhan. Itu pun akan disesuaikan apakah lapangan digunakan untuk sekadar latihan, untuk sebuah pertandingan, atau bahkan pembuatan sebuah acara.
Di luar urusan estetika, Fabian juga menyoroti produk-produk yang menjawab kebiasaan sehari-hari. Ia menyebut lampu sensor sebagai salah satu produk paling diminati di kalangan konsumen awam.
"Kita suka lupa menyalakan lampu kalau sudah malam, lebih lupa lagi kalau pagi mematikannya. Kadang-kadang lampu itu dibiarkan nyala. Lampu sensor menjawab kebutuhan itu—tinggal dipasang di fitting biasa, malam nyala otomatis, pagi mati sendiri," jelasnya.
Produk lain yang diminati adalah lampu darurat. "Kita tahu sekarang banyak pemadaman bergilir. Solusinya lampu kita bisa di-charge 4 jam, nanti kalau mati lampu bisa tahan sampai 10 jam," katanya.
In-Lite LED sempat berpartisipasi dalam pameran IndoBuildTech 2026 dengan mengusung tema 'The Matter of Light' melalui sebuah paviliun imersif yang mengeksplorasi interaksi antara cahaya dan material dalam membentuk pengalaman ruang. Ia mengatakan melalui tema tahun ini, timnya ingin menunjukkan bahwa pencahayaan merupakan bagian integral dari proses pembentukan pengalaman ruang, bukan sekadar elemen fungsional.
Konsep The Matter of Light diterjemahkan ke dalam lima area eksperimental yang masing-masing memadukan cahaya dengan material berbeda. Area pertama bernama Filtered yang memadukan cahaya dengan material fabric atau kain untuk membentuk efek layaknya di dalam hutan, di mana cahaya dibuat lebih lembut dan tersaring untuk menghadirkan suasana tenang dan natural. Area kedua adalah Reflected yang mengombinasikan cahaya dengan material glass atau kaca untuk menciptakan refleksi dinamis layaknya permukaan air yang bergerak.
Selanjutnya ada Radiated yang memadukan cahaya dengan material HPL untuk menghasilkan pancaran intens dan ekspresif menyerupai api, sehingga menciptakan atmosfer kuat serta dramatis. Area keempat adalah Diffused yang mengintegrasikan cahaya dengan material polycarbonate untuk menghasilkan sebaran cahaya halus dan terasa ringan di seluruh ruang layaknya hembusan angin. Terakhir, area Fragmented yang memadukan cahaya dengan anyaman rotan untuk membentuk bayangan kecil yang terinspirasi dari tanah, menghadirkan kesan membumi.
"Cahaya menjadi medium yang tidak hanya membedakan pengalaman di tiap ruang, tetapi juga menyatukan keseluruhan perjalanan menjadi satu narasi yang utuh," jelas arsitek dari mensanaDANteman sekaligus perancang paviliun Alvar Mensana. Menurutnya, setiap area dirancang untuk memperlihatkan bagaimana interaksi cahaya dapat mengubah cara sebuah ruang dipersepsikan.
Untuk mewujudkan konsep ini, In-Lite mengaplikasikan berbagai lini produk unggulannya, seperti Downlight Anti Glare, Spotlight Wall Washer, dan Striplight COB. "Pemilihan produk dilakukan secara spesifik untuk setiap zona. Di area yang lembut seperti Filtered, kami menggunakan cahaya halus untuk kenyamanan visual, sementara di area Reflected dan Radiated, pencahayaan dibuat lebih terarah dan kontras untuk memperkuat karakter visual yang dinamis," kata Fabian.
















































