Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ankara, Turkiye, 8 Juli 2026.(Anadolu Agency/Dilara İrem Sancar )
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran pada Jumat (10/7). Trump menyatakan kesiapan militer AS untuk meluncurkan ribuan rudal jika negara tersebut berupaya melakukan tindakan pembunuhan terhadap dirinya.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menyiagakan kekuatan tempur dalam skala besar. Ia mengklaim sebanyak 1.000 rudal telah diarahkan ke Iran, dengan ribuan rudal tambahan yang siap menyusul jika ancaman terhadap nyawanya dieksekusi.
“Sebanyak 1.000 rudal telah siap dan diarahkan ke Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul, apabila pemerintah Iran menjalankan ancamannya, yang telah disampaikan di berbagai penjuru dunia, untuk membunuh atau mencoba membunuh Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini SAYA!” tulis Trump.
Trump menambahkan bahwa perintah operasional terkait hal ini telah diberikan. Ia mengeklaim militer AS saat ini berada dalam posisi "siap, bersedia, dan mampu" untuk menjalankan misi tersebut selama periode satu tahun, dengan opsi perpanjangan waktu.
Lebih lanjut, Trump memperingatkan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk sepenuhnya meluluhlantakkan dan menghancurkan seluruh wilayah Iran jika Teheran terbukti melakukan upaya pembunuhan terhadapnya.
Latar Belakang Intelijen dan Ketegangan Regional
Ancaman terbuka ini muncul setelah adanya laporan intelijen dari Israel yang dibagikan kepada Washington. Menurut laporan The Wall Street Journal, intelijen Israel mengindikasikan adanya rencana baru dari pihak Iran untuk menyasar Trump.
Situasi ini memperkeruh hubungan kedua negara yang sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Pada Juni lalu, dengan mediasi Pakistan, Iran dan AS sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak akhir Februari. MoU tersebut mencakup:
- Penghentian segera pertempuran di seluruh medan konflik.
- Pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.
- Pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski sempat ada kesepakatan damai, Trump menyatakan bahwa status gencatan senjata dengan Iran kini telah "berakhir". Walaupun demikian, ia menyebut Washington masih membuka pintu untuk melanjutkan perundingan atas permintaan Teheran.
Ketegangan di lapangan kembali memanas pekan ini setelah kedua belah pihak terlibat saling serang terkait lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz. Amerika Serikat dilaporkan menyerang sejumlah target di wilayah Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyerang aset-aset militer AS di berbagai kawasan Timur Tengah.
Situasi di Selat Hormuz dan perkembangan ancaman keamanan terhadap Presiden AS terus dipantau. (Anadolu/Ant/I-1)

















































