CANTIKA.COM, Jakarta - Belakangan ini, istilah low effort hangout makin sering muncul di media sosial. Tren yang dipopulerkan Generasi Z ini mengubah cara orang bergaul, dari yang biasanya penuh agenda dan tekanan menjadi lebih santai dan natural.
Alih-alih fokus pada hangout besar atau suasana ramai, pendekatan ini justru mengutamakan koneksi yang terasa lebih ringan dan organik. Lalu, apa sebenarnya low effort hangout, dan kenapa tren ini semakin populer? Yuk, kita deep dive bareng-bareng.
Apa Itu Low Effort Hangout?
Berbeda dengan gaya bersosialisasi tradisional seperti pergi ke pesta, atau nongkrong ramai, low effort hangout lebih berfokus pada aktivitas sederhana.
Mulai dari mengerjakan teka-teki bersama, ikut klub buku, hingga membuat keramik. Aktivitas jadi pusat perhatian, bukan percakapan yang harus terus mengalir.
“Aktivitas bersama sering kali mengalihkan perhatian dari diri sendiri ke sesuatu yang eksternal,” kata Robert Alexander, asisten profesor psikologi dan konseling di New York Institute of Technology dilansir Real Simple.
“Jeda dalam percakapan dapat datang dan pergi tanpa terasa canggung. Kamu juga dapat merasa lega dari tanggung jawab untuk mempertahankan percakapan dari waktu ke waktu.”
Pendekatan ini juga mengurangi tekanan sosial yang sering muncul dalam interaksi tradisional, seperti tuntutan untuk selalu terlihat menarik, lucu, atau responsif.
“Hangout santai menggeser tujuan dari penampilan menjadi kehadiran. Ini dapat membantu orang merasa aman, terhubung dengan orang lain, dan merasa benar-benar diterima tanpa perlu mengelola kesan,” tambah Alexander.
“Bagi banyak orang, itu bisa berarti perbedaan antara merasa pulih setelah suatu acara dan merasa kelelahan.”
Kenapa Alkohol Mulai Ditinggalkan?
Salah satu ciri utama tren hangout Gen Z ini adalah minimnya peran alkohol. Dalam budaya sosial tradisional sering ada tekanan untuk minum dan mengikuti energi kelompok. Bagi sebagian orang, hal ini justru membuat interaksi terasa tidak nyaman.
“Lingkungan yang berfokus pada alkohol dapat meningkatkan tekanan sosial,” kata Jordan Ashley, sosiolog dan pendiri Souljourn Yoga Foundation.
Akibatnya, konsumsi alkohol dapat mendorong rasa performativitas dan kecemasan daripada memfasilitasi percakapan santai dan sosialisasi informal.
Kenapa Low Effort Hangout Lagi Populer?
Ada beberapa faktor yang mendorong tren ini berkembang, terutama di kalangan Gen Z:
1. Terbiasa Terhubung Secara Digital
Gen Z tumbuh dengan komunikasi yang hampir tanpa jeda melalui media sosial.
“Mereka mengirim pesan dan berinteraksi dengan cara yang menjaga hubungan tetap aktif bahkan ketika tidak hadir secara fisik,” ucap Kent Bausman, profesor sosiologi di Maryville University of Saint Louis.
Tidak seperti generasi sebelumnya, Gen Z jarang mengalami keheningan sosial. Akibatnya, pertemuan tatap muka terasa tidak lagi “wajib” atau formal.
2. Dampak Pandemi
Banyak Gen Z melewati masa remaja saat pandemi, ketika interaksi sosial sangat terbatas.
“Mengalami jarak sosial pada tahap perkembangan yang sangat penting telah memengaruhi pendekatan mereka saat ini terhadap hubungan,” ujar Ashley.
Gen Z kurang tertarik pada lingkungan sosial yang bertekanan tinggi dan lebih memilih cara yang lebih nyaman untuk terhubung.
3. Faktor Ekonomi dan Waktu
Low effort hangout cenderung lebih hemat dan fleksibel. Menurut Bausman, low effort hangout memungkinkan individu untuk datang dan berpartisipasi dengan kecepatan mereka sendiri dan pergi tanpa hukuman sosial.
4. Ada Pergeseran Nilai di Balik Tren Ini
Gen Z juga dikenal lebih mengutamakan keaslian dan kesehatan mental. Sebuah studi menunjukkan 92 persen Gen Z menganggap kejujuran pada diri sendiri dan orang lain sangat penting.
“Hanya duduk bersama dalam suasana santai dapat terasa lebih nyata karena tidak dibuat-buat,” kata Bausman.
Selain itu, laporan dari The Annie E. Casey Foundation menemukan Gen Z sekitar 80 persen lebih mungkin melaporkan masalah kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, mereka cenderung memilih interaksi yang minim tekanan.
Ide Low Effort Hangout
Kalau kamu ingin mencoba cara bersosialisasi yang lebih ringan, ada beberapa ide sederhana:
- Duduk bersama teman sambil melakukan aktivitas masing-masing, seperti membaca atau bekerja
- Jalan santai atau hiking ringan
- Masak bersama di rumah
Tren low effort hangout menunjukkan bahwa cara kita membangun hubungan sedang berubah. Bagi Gen Z, koneksi yang bermakna tidak harus selalu ramai, mahal, atau penuh tekanan, cukup hadir dan jadi diri sendiri.
Pilihan Editor: Suka Nongkrong Bikin Masyarakat Indonesia Sering Makan di Restoran
REAL SIMPLE | SILVY RIANA PUTRI
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)



