Tren Kafe Sasar Ruang Komunitas

1 week ago 8
Tren Kafe Sasar Ruang Komunitas Pembukaan cabang baru Sinilagi.(Dok. MI)

KONSEP kafe kini tidak lagi hanya berfokus pada penyajian makanan dan minuman, tetapi juga menawarkan ruang yang dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Tren tersebut terlihat dari pembukaan cabang baru Sinilagi, sebuah jaringan kafe di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, yang mengusung konsep sebagai "ruang ketiga" atau tempat beraktivitas di luar rumah dan kantor.

Cabang keempat kafe tersebut mengusung tema A Neighborhood in the Making, dengan menghadirkan ruang yang diharapkan dapat menjadi bagian dari rutinitas pengunjung sekaligus mendorong terbentuknya komunitas.

Berada di kawasan Senopati, kafe ini mengadaptasi konsep neighborhood cafe yang banyak ditemui di Copenhagen dan Los Angeles. Desainnya memadukan area dalam ruangan yang hangat dengan pencahayaan alami serta area luar yang terbuka, sehingga dapat digunakan untuk beragam aktivitas, mulai dari sarapan sebelum bekerja, bekerja secara fleksibel, hingga berkumpul bersama keluarga atau teman pada sore hari.

"Kami ingin Sinilagi menjadi tempat yang tidak sekadar dikunjungi, tapi tempat yang selalu ingin disinggahi kembali. Senopati adalah neighborhood di Jakarta yang dinamis, dan kami ingin menjadi bagian dari kehidupan di sini, bukan sekadar spot baru yang hanya viral sesaat," ujar Nadia Aliany dan Ronny, pasangan suami-istri, Founders Sinilagi, dikutip pada Kamis (16/7). 

Dari sisi menu, cabang terbaru ini tetap menghadirkan sejumlah sajian yang telah menjadi andalan, seperti bolo bun dan salt bread, disertai pilihan hidangan Asia modern yang menggabungkan cita rasa rumahan dengan sentuhan kekinian. Beragam minuman, termasuk kopi, juga tersedia untuk menemani berbagai kebutuhan pengunjung sepanjang hari.

Dalam rangka pembukaan, pengelola turut menghadirkan sajian edisi terbatas berupa Salt Bread Ice Cream Sandwich melalui konsep pop-up bar. Menu tersebut mengombinasikan dua produk yang selama ini menjadi favorit pelanggan dan hanya tersedia untuk waktu tertentu.

Pengelola menilai konsep yang diusung tidak semata-mata menawarkan tempat makan, melainkan menghadirkan pengalaman yang membuat pengunjung merasa nyaman untuk datang berulang kali. Filosofi nama kafe tersebut pun berangkat dari harapan agar pengunjung menjadikannya sebagai tempat yang kembali dikunjungi karena suasananya, bukan sekadar mengikuti tren.

Konsep ruang yang dikembangkan diarahkan untuk memenuhi beragam kebutuhan masyarakat perkotaan, mulai dari mengantar anak ke sekolah, berolahraga pada pagi hari, menggelar pertemuan informal, hingga bersantai setelah beraktivitas. (Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |