ilustrasi(Anadolu)
FIFA akan mengumumkan rekor pendapatan fantastis sebesar $15 miliar (sekitar Rp269 triliun) dari gelaran Piala Dunia musim panas ini. Angka tersebut melampaui jauh target awal yang ditetapkan sebelum turnamen dimulai.
Di balik kemilau rekor finansial tersebut, terdapat praktik komersialisasi yang dijalankan secara legal oleh otoritas tertinggi sepak bola dunia itu. FIFA memanfaatkan celah pasar tiket dengan memotong keuntungan ganda, 15% dari penjual dan 15% dari pembeli.
Tiket laga final di Stadion MetLife antara Spanyol vs Argentina misalnya. Untuk fasilitas kelas VIP "trophy lounge" dijual dengan harga tidak masuk akal sebesar $34.500 (Rp560 juta) per kepala.
Namun, rekor finansial ini juga dibayangi oleh runtuhnya kedaulatan regulasi FIFA akibat intervensi kekuasaan politik domestik. Keputusan kontroversial komite disiplin yang membatalkan sanksi kartu merah penyerang AS Folarin Balogun, pasca-tekanan terbuka dari Presiden AS Donald Trump, sempat memicu friksi dan mosi tidak percaya dari asosiasi sepak bola Eropa.
Kendati demikian, Presiden FIFA Gianni Infantino telah mengantongi lebih dari 200 janji dukungan dari total asosiasi anggota untuk pencalonan kembalinya dalam pemilihan calon presiden FIFA Maret mendatang. Guyuran dana segar dari rekor pendapatan ini diprediksi bakal membungkam suara-suara sumbang dari asosiasi yang tidak puas.
Finansial yang melimpah ini pun melapangkan jalan bagi hegemoni tunggal AS yang kini mulai membidik kedaulatan penuh sebagai tuan rumah tunggal Piala Dunia 2038 dan Piala Dunia Antarklub 2029.
"Anda harus memilih Amerika Serikat lagi," kata Donald Trump. "Kali ini kita tidak perlu mengikutsertakan Kanada dan Meksiko."
(Theguardian/P-4)

















































