Telur Ceplok vs Telur Dadar: Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Pakar

1 week ago 18
 Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Pakar Ilustrasi(magnific)

MEMILIH antara telur ceplok atau telur dadar sering kali menjadi perdebatan, terutama bagi masyarakat yang sedang menjalani pola makan sehat. Meski keduanya berasal dari bahan yang sama, cara pengolahan ternyata memberikan pengaruh pada nilai kalori yang dihasilkan.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang mencolok antara telur ceplok dan telur dadar. Perbedaan utamanya justru terletak pada faktor eksternal saat proses memasak.

"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak," ujar Dr. Karina.

Risiko Kalori pada Telur Dadar

Dr. Karina menambahkan bahwa telur dadar memiliki potensi kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh tekstur telur yang dikocok cenderung menyerap lebih banyak minyak dibandingkan telur ceplok.

Selain itu, kebiasaan menambahkan bahan pelengkap seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang secara otomatis akan meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Manfaat Proses Memasak terhadap Protein

Menariknya, proses pemanasan saat memasak telur justru memberikan dampak positif bagi kualitas protein. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi, sebuah proses yang membuat protein lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh manusia.

Kondisi Telur Daya Cerna & Penyerapan Protein
Telur Mentah Sekitar 51%
Telur Matang (Dimasak) Sekitar 91%

Namun, suhu memasak perlu diperhatikan. Dr. Karina menganjurkan suhu memasak berkisar antara 60–80 derajat Celsius. Pemanasan ekstrem di atas 150–160 derajat Celsius dalam waktu lama berisiko merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizi telur secara keseluruhan.

Tips Konsumsi Sehat dan Mitos Kolesterol

Bagi mereka yang sedang menjaga berat badan, metode memasak tanpa minyak seperti merebus (boiled egg), poached egg, atau mengukus sangat disarankan.

Jika tetap ingin mengonsumsi telur ceplok atau dadar, penggunaan minyak harus dibatasi, misalnya dengan menggunakan wajan anti lengket atau minyak semprot (oil spray).

Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap kuning telur, Dr. Karina meluruskan anggapan bahwa bagian tersebut harus dihindari karena kolesterol. Menurutnya, kuning telur justru kaya akan vitamin dan mineral penting.

Catatan Pakar: Penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung. Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dimakan bersamaan dengan telur, bukan dari telur itu sendiri.

Sebagai penutup, ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, asalkan tetap memperhatikan cara pengolahan yang tepat. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |