Tantangan Produksi Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini: Ini Film Paling Berat

1 hour ago 1
 Ini Film Paling Berat Kamila Andini, Putri Marino, Arya Saloka, dan Ifa isfansyah saat sesi doorstop yang membahas proses serta tantangan produksi film Empat Musim Pertiwi di Epicentrum, Jakarta, Selasa (8/9).(MI/Chatrine Simanjuntak)

FILM Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini menyimpan perjalanan panjang yang penuh tantangan sebelum akhirnya siap diproduksi. Ide film ini sebenarnya sudah muncul sejak 2013, namun proses penulisan baru dilanjutkan kembali pada 2023 karena tim merasa perlu kesiapan matang untuk mengeksekusi cerita yang kompleks.

"Perjalanan yang tidak mudah, dan ini film paling susah dan paling berat. Untuk perjalanannya enggak main-main dan saya mencari tim cast yang enggak main-main," ujar Kamila Andini dalam sesi konferensi pers, Selasa (8/9/2026).

Produser Ifa Isfansyah mengungkapkan bahwa keputusan memproduksi film ini tidak bisa dilakukan terburu-buru. Aspek pendanaan menjadi kunci utama karena berdampak langsung pada ruang kreatif tim. Menurut Ifa, setiap rupiah yang masuk menentukan arah cerita dan memberikan kebebasan berekspresi bagi para kreator agar visi sutradara tetap terjaga tanpa kompromi teknis.

Dari sisi narasi, Empat Musim Pertiwi merupakan karya mix genre yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, romansa, sosial, drama, hingga psychological horror. Tantangan visual juga menjadi fokus utama, di mana tim harus menciptakan tekstur yang kaya untuk setiap musim namun tetap terasa harmonis dalam satu kesatuan cerita.

Tantangan fisik dan mental juga dirasakan oleh para pemeran utama. Putri Marino, yang memerankan karakter Pertiwi, harus menjalani berbagai workshop mulai dari belajar bahasa isyarat, bahasa Jawa, bertarung, hingga berkuda. Putri bahkan mengosongkan jadwal proyek lain demi fokus mengolah karakter ini dari titik nol.

Sementara itu, Arya Saloka yang berperan sebagai Bisma harus melawan alergi udara dingin yang dideritanya. Meski sempat terkendala kondisi fisik, Arya mengaku terpukau dengan lokasi syuting di Bromo yang menawarkan visual pegunungan unik sebagai latar cerita.

Kamila Andini menjelaskan bahwa nama "Pertiwi" dipilih karena maknanya yang sakral dan berkaitan erat dengan konsep Ibu Pertiwi. Melalui film ini, ia ingin merefleksikan kondisi tanah air saat ini, menelaah apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu ditinggalkan agar kehidupan dapat terus tumbuh dan mekar. (Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |